close

Rebel Responsible: Pertanggungjawaban 15 Tahun Captain Jack

B5Wvv_lCQAEfVhE

 

Captain_Jack_Concert_Blaks_Creative_1

Tak banyak musisi non-ibukota, termasuk dari kota Jogja yang berani dan mampu menggelar sebuah konser tunggal dengan konsep penyelenggaraan yang akbar. Sebagai sebuah tradisi pengukuhan pencapaian karir, menghelat konser tunggal di sebuah venue berkapasitas ribuan kepala adalah pertaruhan yang membutuhkan lebih dari persiapan yang mahal. Namun, setidaknya semua akan lebih mudah bagi mereka yang telah memiliki jam terbang tinggi, pendengar yang loyal, nyali cukup, dan itu semua dimiliki oleh Captain Jack.

15 tahun sudah Captain Jack menempuh aral melintang – paling tidak itu terpancar dari nuansa lirik-lirik pedas dan emosional ihwal pertarungan hidup—untuk  menelurkan empat album rekaman dan membangun basis massa yang besar, mulai dari generasi yang bernama Jackers hingga Monster. Maka tak ada lagi yang cukup tangguh untuk menghalangi  Momo (vokal-gitar), Zuhdil (gitar), Novan (bas), Ismet (keyboard), dan Andi (drum) menggelar sebuah konser tunggal pada Sabtu (20/12). Tajuknya pun Rebel Responsible, tak jauh-jauh dari tema sentimental berapi ala Captain Jack yang dewasa ini disusupi petuah bermuatan positif seperti kesetaraan jender, penolakan pembodohan televisi, dan kampanye anti alkohol.

“Selamat datang para pemberontak-pemberontak muda. Kita lihat kalian pemberontak yang masih bisa bertanggung jawab atau tidak,” tukas Momo, usai menggeber tiga lagu awal, “Sebagian Kami, “Bukan Urusanmu”, dan “Buat Yang Percaya”.  Bersama tata panggung dan lighting yang jempolan, kuintet itu menggebrak dengan perpaduan warna kostum yang seragam, yakni merah hitam.

“Di tahun 2003, saat semua band bermain musik pop  dan mencoba menjadi artis, kami dicaci dan dimaki karena dianggap tidak akan menjadi apa-apa,” tukas Momo lagi, sebelum mengomandoi rekan-rekannya meluncurkan “Sempurna”, hits radio awal Captain Jack tentang kemuakan diri yang nampaknya merupakan salah satu pakem standar penulisan lirik mereka selanjutnya, sekaligus sebagai tonggak awal sorotan yang mereka raih.

Warna-warni kolaborasi atau sajian gimmick apa pun memang wajib hukumnya untuk disuguhkan di sebuah konser tunggal. Begitu pun yang dijanjikan Captain Jack. Sayangnya di paruh awal, hal itu nampak sekedar embel-embel semata seperti tarian daerah Kalimantan yang hanya ditampilkan barang sebentar di intro “Munafik” atau Melisa Briliant yang—persis di versi rekamannya— sekedar diberi kesempatan naik panggung demi satu larik bridge di “Kupu-Kupu Baja”.

Untungnya kekecewaan terbayar lunas pasca “Membatu” kelar dimainkan. Cahaya panggung diredupkan, para personil keluar panggung, lalu beberapa menit dengan jeda visual mapping, mereka muncul di area tribun seberang panggung utama yang memang telah di-set sebagai panggung kedua untuk sesi akustik. Di sesi inilah daya pikat konser ini menyeruak. Seluruh penonton pun memutarkan hadapannya untuk didera empat lagu yang digubah oleh sentuhan akustik, string section, serta beberapa instrumen tradisional  Jawa dan Kalimantan.

Diawali dengan “Monolog Tak Terdengar” dan “Sadar Lebih Baik”,  “Pahlawan” sebagai karya sulung Captain Jack menyusul dengan menurutkan instrumen harmonika. Sementara yang terakhir adalah yang terbaik: “Dari Anakmu”—dimana  Momo mengaku mengadopsi inspirasi liriknya secara riil dari momen relasi suram dengan kedua orang tuanya—disuguhkan secara begitu menawan lewat campur tangan kecapi dan alunan sinden.

Kembali ke panggung utama, Captain Jack juga menjawab janjinya untuk membawakan nomor gres bertitel “Home Sweet Hell”. Keukeuh dengan musik alternatif rock berlumur sound metal, lagu tersebut ditujukan pada Indonesia yang bersama seantero perkaranya kian tak layak dipijaki dengan  chorus Ini bukan rumahku / Ini neraka / Keluarkan aku dari sini

Tampuk getar liar moshpit para Monster Jackers terjadi di trisula lagu “Monster”, “Penghianat”, serta “Berbeda Itu Pilihan” yang menghadirkan mantan vokalis Boomerang, Roy Jeconiah. Sayang, di titik ini, pastinya semua akan makin membahana bila saja rencana awal menggandeng pula Eross (Sheila On 7) dan Kaka (Slank) mampu terealisasi.

Pasca encore pertama berupa “Tidak Ada Klaim Atas Aku” dan “Hati Hitam”, ada kejadian menggelitik dimana sebagian penonton sempat sibuk membalikan hadapan dan terlihat kebingungan mengira Captain Jack hendak kembali tampil di encore kedua dari panggung akustik. Namun, ternyata memang tetap distorsi gahar dari panggung utama yang didaulat sebagai pengobar lautan kepalan tangan lewat “Monster II”.

Dengan harga tiket sebesar 50 ribu rupiah (tribun) dan 75 ribu rupiah (festival) yang notabene di atas standar bandrol pentas musik rock di Jogja, penonton yang hadir lantas memang tak bisa dibilang penuh, kendati tetap bergema lantam laiknya konser-konser Captain Jack biasanya. Pun itu hanya satu dari banyak tantangan di Rebel Responsible yang coba dibangkangi oleh Captain Jack. Tak semua berakhir sempurna. Namun, hemat saya, di akhir tetap saja Captain Jack sukses mengantarkan Rebel Responsible sebagai konser tunggal yang berkelas merangkap bukti pertanggungjawaban 15 tahun perjalanan  karir perkasa mereka. [WARN!NG / Soni Triantoro]

Event By : Captain Jack

Venue : GOR Universitas Negeri Yogyakarta

Date : 20 Desember 2014

Man of The Match : Sesi akustik-etnik dari panggung atraktif yang menunjukan bahwa amarah tetap mampu terdengar meronta dengan alunan instrumen tradisional.

WARN!NG Level : !!! 1/2

 

Captain_Jack_Concert_Blaks_Creative_3
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response