close

Record Store Day: Hari Raya Rilisan Fisik

IMG_1371

Sekeping rekaman demo dari Minor Threat berwujud piringan hitam(vinyl record) dengan tingkat kelusuhan cover yang pantas, bersandar pada Repeater dari Fugazi. Dalam keranjang yang sama, terdapat puluhan keping lainnya dari barisan musisi yang memang mengokupasikan karyanya di era vinyl, mulai dari Led Zeppelin, John Mayall, Liebestraum, hingga Benny Soebardja. Di meja sebelahnya terpampang terdepan sebuah album Bad Brains I Againts I yang mana bila di ‘kulik’ ternyata juga satu keranjang dengan deret bootleg series dari Bob Dylan. Sekitar 4 meter ke arah barat, terdeteksi keberadaan CD album kompilasi Punk Aid 2012 yang tergeletak menantang dalam sebuah lapak. Lebih dari seratus audio cassete lintas era, lintas genre, juga menggoda dari ruang yang sama. Bahkan diantara ide-ide yang bersarang pada berbagai perangkat audio itu, tak luput pula dari pandangan, sebuah buku lawas berjudul Social Cultural Revolution karangan seorang Takdir Alisjahbana pada 1960-an.

Paragraf di atas hanyalah gambaran sekilas dari pemandangan yang dapat ditemukan pula di sebagian negara lain pada kisaran hari yang sama. Tentu saja semua itu tak ada kaitannya dengan rutinitas penghormatan sejenak RA Kartini setiap 21 April, karena the boss pada konteks ini ialah seorang karyawan toko musik independen bernama Chris Brown. Pada tahun 2007, Chris Brown memprakarsai sebuah  momen perayaan eksistensi industri musik independen dengan nama Record Store Day pada setiap akhir pekan ketiga bulan April. Kemudian inisiatif Chris Brown tersebut berkembang pada titik kemunculan kegiatan Record Store Day di berbagai teritori dunia. Jatuh pada 20 April di tahun ini, secara perdana Record Store Day digelar di Yogyakarta dengan tanpa melepas konsep awal untuk mempertemukan aktor-aktor pencipta, penyebar/pendistribusi, dan penikmat  musik rekaman.Record label yang berpartisipasi dalam acara ini antara lain Relamati Records, Noisaurus, Paperplane Records, Hellavila Records, Mindblasting dan masih banyak lainnya.Slackers, yang selama ini tercitrakan sebagai salah satu distribution store Yogya yang mewadahi konten musik lebih dibanding para kompetitornya, dipilih menjadi tempat pagelaran Record Store Day Yogyakarta pada 20 dan 21 April 2013. Parking area nya yang sebenarnya tak lebih luas dari tokonya sendiri sukses disulap menjadi sebuah oase musik kontemporer.

Meski para record label dan record shop yang berpartisipasi juga menghamparkan CD, DVD, buku, audio cassete, dan band t-shirt dalam lapak jual mereka dengan harga toleran, namun format vinyl masih tetap juara dalam kategori komoditas yang paling menarik perhatian. Acara hari pertama memanjakan mereka, para pemilik vinyl player yang memang sedang menemukan tren nya kembali. Apalagi sebuah vinyl player juga disediakan untuk siap digilir pengunjung yang hendak mencoba menikmati vinyl berputar pelan sembari mengalunkan nada dari musisi favorit mereka. Dibuka jam 3 sore, Summer In Vienna menawarkan penampilan akustik yang memperkental suasana cutting edge dalam parking area tersebut. Begitupun alunan gitar akustik tunggal dari Rabu sehabis kumandang azan Maghrib. Selanjutnya, sesuai rundown acara, mereka yang hadir diberi ruang untuk maju  ke panggung dan sedikit berkisah mengenai konten dan pengalaman pribadi dengan rilisan favorit mereka. Secara bergantian, terdapat 3 orang yang akhirnya maju ke depan, dan rilisan Caliban vs Heaven, Nick Drake, dan Koes Bersaudara adalah rilisan favorit mereka masing-masing yang kemudian menjadi bahan ‘talk show’ kecil malam itu.

Untuk Record Store Day hari kedua, giliran Sabarban dan Answersheet yang menyajikan live music sebagai backsound para pengunjung yang memang hendak menyaksikan penampilan mereka, atau sebagian lain yang kembali memburu rilisan-rilisan esensial. Sebagai penutup acara, diadakan movie screening dengan sebuah film yang in context, yaitu Sound It Out. Disutradarai Jeaney Finlay, Sound It Out ialah potret dokumenter sebuah  toko piringan hitam yang berhasil survive di daerah Teeside. Selajur dengan film itu, acara ini mampu menggugah kembali gairah menikmati rilisan fisik yang mulai terkikis oleh semangat media interaktif. Sayangnya pengunjung yang hadir masih segmented. Diharapkan gelaran Record Store Day tahun berikutnya tak lagi hanya disambangi para kolektor, dan penggerak langsung musik rekaman, namun juga mampu menjaring masyarakat awam. Mari kita nantikan akhir pekan ke tiga di bulan April tahun depan.[Warning/Soni]

 

Event By : Slackers

Date : 20-21 April 2013

Venue : Slackers Parking Area

Man Of The Match : Ratusan pilihan bagi para kolektor dan pemilik vinyl player.

Rating : ***

Record Store Day © Warning/Noor
Record Store Day © Warning/Noor

 Foto-foto acara bisa dilihat disini

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.