close

Refleksi atas Film Tilik: Menyoal Kekuatan Gosip dan Perempuan vs Perempuan

tilik-5f3d422dd541df6a4519d502

Film “Tilik” karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo barangkali hampir sukses menyindir kecenderungan orang-orang yang hari ini gemar memproduksi dan sekaligus mengonsumsi informasi berdasarkan sentimen belaka, tanpa peduli itu hoaks atau bukan. Dengan durasi yang sebentar, Tilik menyuguhkan—secara banal dan menggelitik—bagaimana prasangka serta emosi bisa begitu mendominasi pendapat orang ketimbang rasio. Meski begitu, di satu sisi, film ini juga menghadirkan cara pandang soal perempuan yang patut kita dialogkan.

Tilik merupakan film pendek besutan Ravacana Films dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Naskahnya ditulis oleh Bagus Sumartono yang konon juga punya konsen terhadap gerakan literasi di pedesaan. Film ini memang baru dipublikasi ke Youtube pada 17 Agustus 2020 lalu, meski sebenarnya telah diproduksi pada 2018 dan menyabet penghargaan Piala Maya, kategori film pendek terpilih, di tahun yang sama. Selain Piala Maya, Tilik juga sempat menjadi Official Selection di Jogja-Netpac Asian Films Festival 2018 serta Official Selection World Cinema Amsterdam 2019.

Dari segi cerita, premis film tersebut bisa dibilang sederhana: perjalanan serombongan perempuan menuju rumah sakit untuk menjenguk (tilik) Bu Lurah mereka dengan naik truk. Dalam perjalanan, Bu Tejo (Siti Fauziah), salah seorang di antara mereka, memancing pergunjingan tentang sosok bernama Dian (Lully Syahkisrani) yang ia framing sebagai cewek “nakal”. Sementara Yu Ning (Brilliana Desy), saudara jauh Dian, berusaha melawan stigma-stigma yang terus dilontarkan Bu Tejo. Pada sepanjang perjalanan tilik inilah konflik dibangun lewat dua orang yang saling menegasikan tersebut.

Tidak butuh waktu lama bagi Tilik untuk menyita perhatian dari berbagai kalangan. Bahkan ketika artikel ini ditulis, jumlah viewer-nya di kanal Youtube Ravacana sudah mencapai tiga juta lebih. Dan, sebagaimana konsekuensi produk budaya populer yang laris, Tilik pun menjadi medan pertarungan makna bagi para audiens-nya.

Saya pribadi melihat Tilik, melalui dialog antara Bu Tejo dengan Yu Ning, sebagai film yang harusnya bisa menjadi semacam alegori untuk kondisi sosial dan politik masyarakat kita hari ini. Umpamanya dalam menyoal kecenderungan orang-orang  ketika mengonsumsi serta memproduksi informasi yang semata-mata demi mendukung sentimen dan memperkuat tindakan politis mereka, tanpa mempertimbangkan keabsahan sumbernya.

Sikap semacam ini, agaknya, jamak kita jumpai semasa Pilpres kemarin. Dalam kontestasi politik antara Prabowo dan Jokowi sebagai kandidat capres, media sosial kerap diwarnai oleh baku hantam informasi yang kebanyakan gosip dan hoaks. Walau begitu, toh masing-masing pendukung dua sosok tersebut tidak mempedulikannya. Si pendukung Jokowi akan membagikan informasi apa saja yang bisa mendukung pandangan mereka tentang kejelekan Prabowo, meski mereka tahu itu belum tentu benar dan begitu pula sebaliknya.

Tentu saja yang saya sebut di atas hanya satu contoh di antara sekian banyak contoh yang ada di tengah mewabahnya kepalsuan-kepalsuan khas zaman yang disebut era post-truth atau apa pun namanya ini.

Dalam Tilik, Bu Tejo menggunakan informasi gosipnya sebagai modal untuk mendominasi wacana rombongan dalam truk dan berupaya meruncingkannya pada satu titik: bahwa Dian adalah perempuan nakal yang meresahkan. Melalui aksinya, Bu Tejo tidak hanya mengumbar gosip tanpa kejelasan narasumber. Ia bahkan melegitimasi gosipnya itu dengan menegaskan soal internet. Meyakinkan perempuan lain seolah kebenaran di internet adalah sesuatu yang absolut karena dibuat oleh orang-orang “pintar”.

Pada titik ini saya sebenarnya berharap tokoh Yu Ning akan mampu mengimbangi Bu Tejo. Sebagai satu-satunya perempuan yang berani kritis di bak truk, Yu Ning menunjukkan dengan tegas keberpihakannya terhadap Dian. Setidaknya, Yu Ning selalu berusaha mempertanyakan gosip-gosip yang Bu Tejo lontarkan. Bukan cuma mengiyakan atau malah diam dan cuek sebagaimana kebanyakan orang di bak truk tersebut.

Sayangnya, menjelang akhir film, rasionalitas Yu Ning juga terkaburkan oleh emosi dan prasangkanya. Ia bahkan menuding Bu Tejo menyuap Gotrek, si supir truk, supaya mendukung Pak Tejo yang konon punya rencana mencalonkan diri jadi lurah.

Bukan cuma itu saja, di akhir pun kita dipertontonkan dengan adegan Yu Ning yang sedih karena tidak bisa menjenguk Bu Lurah. Sedangkan Bu Tejo, dengan nada nyinyirnya, kembali mendominasi topik dan menyudutkan Yu Ning dengan melempar sindiran. “Dadi nyebarke kabar sing urong cetha kuwi kelebu fitnah opo ora?” (Jadi menyampaikan kabar yang belum jelas kebenarannya itu termasuk fitnah apa bukan?

Semua menjawab, “Ya mbuh ya?” Kecuali Yu Ning yang tertunduk.

Pada bagian ini seolah si pembuat film hendak membandingkan kabar yang terlontar dari Yu Ning dengan yang dari Bu Tejo. Seolah, keduanya sama-sama kabur. Padahal tidak. Kabar dari Yu Ning soal Bu Lurah sakit itu benar walaupun ternyata belum bisa menjenguk. Selain itu, dasarnya pun kepedulian. Berbeda dengan Bu Tejo yang sedari awal memang gigih melontarkan informasi-informasi yang belum jelas sama sekali.

Entah mengapa dua hal ini dinarasikan seolah sama atau, barangkali, si pembuat film hendak menghadirkan gambaran mengenai orang yang bersikap kritis itu juga bisa termarjinalkan dan orang yang culas, justru mampu membalik kondisi, apabila ia pandai memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Ya, barangkali seperti itu…

Namun demikian, kita memang tidak bisa meremehkan kekuatan gosip. Kalau merujuk ke Sapiens-nya Harari, gosip bahkan menjadi salah satu budaya purba yang membantu homo sapiens bertahan hidup lebih lama ketimbang spesies manusia lain. Selama berabad-abad, gosip membantu manusia mengasosiasikan diri dengan manusia lain, menegosiasikan diri dengan lingkungan, berjejaring, dan mewaspadai siapa-siapa saja yang kita anggap berbahaya bagi eksistensi kita.

Selain tentang gosip, film ini punya problem tersendiri, yang sepintas kelihatan sepele, tapi sebetulnya penting untuk kita dialogkan bersama. Yakni soal bagaimana ia menghadirkan cara pandang terhadap perempuan. Sewaktu menonton film ini bersama kawan-kawan saya di indekos, mereka kebanyakan tertawa sekaligus kesal dengan sosok penggosip macam Bu Tejo sekaligus berpendapat bahwa Dian mungkin memang sundal setelah menonton endingnya.

Sebagai lelaki, saya paham betul mungkin kawan-kawan—atau bahkan saya sendiri—masih memandang perempuan dalam perspektif yang cenderung mendekati misogini (sederhananya, kebencian yang diarahkan ke perempuan). Dan sialnya, film ini menyisipkan pesan-pesan misogini yang cukup kental. Dimulai dengan framming ibu-ibu yang sepintas begitu semangat bergosip-ria hingga Dian sebagai perempuan yang dianggap sudah menyimpang dari moralitas desa tempat ia tinggal.

Memang itu baru isu yang disebarkan oleh Bu Tejo. Namun bila melihat tanggapan perempuan lain yang mengamini isu tersebut, kita bisa melihat pandangan bahwa Dian itu meresahkan oleh karena ia tidak bisa memenuhi standar moralitas perempuan desa pada umumnya yang seolah memang alamiah.

Bagaimana Bu Tejo meliyankan Dian, menarasikannya tanpa menghadirkan Dian langsung, juga mengantarkan kita pada problem selanjutnya: perempuan vs perempuan. Dalam Tilik, perempuan muda seperti Dian seolah jadi monster yang bisa mengancam rumah tangga perempuan-perempuan di kampungnya. Sementara itu, narasi atas lelaki dalam film ini cenderung dinihilkan. Sehingga momok hanya tertuju ke arah Dian dan Dian saja.

Perempuan vs perempuan dalam film ini mengingatkan saya dengan tulisan seorang ahli psikologi, Seth Meyers. Yang judulnya Women Who Hate Other Women: The Psychological Root of Snarky. Menurut Meyers, umumnya, dituntut lebih banyak hal ketimbang cowok di dunia yang didominasi nilai-nilai patriarki ini. Mereka harus selalu tampil cantik, bisa masak, menjaga anak, dan bahkan menjaga lelakinya juga.

Tuntutan ini pada akhirnya memunculkan kegelisahan tersendiri di kalangan perempuan. Sehingga, tak jarang mereka merasa harus tampil lebih baik dibanding perempuan lain.

Kurang lebih begitulah refleksi saya atas Tilik. Tentu pemaknaan saya sebagai audiens tidaklah netral, final, apa lagi absolut. Karena setiap audiens punya cara pandang tersendiri terhadap film yang ditontonnya. Cara pandang ini yang mereka gunakan untuk memaknai apa yang mereka tonton. Namun demikian, makna dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang diproduksi oleh diri kita secara alamiah,  dan dimiliki secara personal. Makna, menyitir kalimat Ratna Noviani dalam Buku Gerak Kuasa, berkelindan dengan peta konseptual yang kita internalisasi dari kultur tempat kita hidup.

 

Kontributor: Khumaid Akhyat Sulkhan*

*)Lahir di Batang, Jawa Tengah. Sekarang lagi liburan di Yogya sambil kuliah di Kajian Budaya dan Media UGM.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.