close

RELEASED!! WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017

cover warning

 WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017

Kami percaya inspirasi untuk karya bagus melimpah ruah seperti udara. Ia bisa dilahirkan lewat tangan musisi kaliber, obrolan sore di lingkaran keakraban, jamming iseng di studio musik yang disewa perjam dengan uang iuran, atau juga racau mahasiswa kere di pojok kamar kos pengapnya. Buktinya, kami di balik meja redaksi tak pernah sepi menerima puluhan surel berisi berita ini-itu tentang karya-karya baru dari teman-teman di berbagai daerah. Kali ini kami ingin mengapresiasi karya tersebut dalam sebuah album kompilasi.

Masa open submission untuk kompilasi ini sendiri kami buka sejak tanggal 25 Februari lalu. Selama 10 hari—deadline tanggal 5 Maret— lebih dari 100 band dari berbagai kota telah mengirimkan karya mereka. Tak berhenti di situ, kami mengundang 13 seniman muda untuk merespon 12 lagu yang terpilih. Hasilnya adalah kolaborasi karya audio-visual yang menjanjikan. Sebuah laku yang kami harap bisa memantik ide-ide kolaborasi lain, sehingga makin banyak karya-karya yang bisa dirayakan.

Album kompilasi ini akan didistribusikan secara online di beberapa kanal. Kami berencana menjadikan ini sebagai proyek jangka panjang, sebagai wadah untuk berkarya dan berjejaring. Karena tidak ada ide yang lebih baik daripada ide yang diwujudkan. Long Live Creativity!

 Inilah 12 band & 13 artwork hasil kolaborasi WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017:

Acemojo – “After The Rain” | ft. Tanaya Sompit

acemojo

Kisah Acemojo tak ubahnya seperti manusia yang menyejarah. Pasalnya, unit yang dibentuk di Solo pada tahun 2010 ini sebenarnya adalah format baru dari unit sebelumnya.  Nama ‘Acemojo’ berarti sangat terampil dalam sihir atau hal yang berhubungan dengan hal magis. Maka, Riki, Alvi, Gilang, dan Marvel berharap Acemojo dapat menjelma menjadi jimat keberuntungan dalam bermusik. Single pertamanya, “After the Rain”, mengisahkan transformasi pasca keterpurukan. “After the Rain” sendiri seakan menceritakan kisah yang dialami Acemojo. Mereka bertransformasi, berganti personel, nama, dan konsep, serta mencoba menawarkan hal baru dalam blantika musik indie lokal.

Agoni – “Aku Harap Laguku” | ft. Dellana Arievta

Mereka bukan tipikal band yang menghidupi banyak perangkat. Mengusung format trio pun dianggap mencerminkan identitas perekat. Namun tiap personil sepakat akan satu hal; membaurkan suasana agar ruang sekat yang ditinggal meleburkan warna keterpaduan. Maka konsesi itu pula yang membawa Agoni mengenal patron khusus; membiarkan tubuh melagu, merasa atas suara. Laiknya interpretasi S.T. Sunardi terhadap karya Affandi, nada-nada mereka meluncur di bilik kegelisahan yang dipenuhi eksepsi makna.

Ash Shur – “The Great Depression” | ft. Enkankomr

ash shur

Gelap, penuh misteri, dan tak bisa ditebak kedatangannya; nyaringlah suara yang datang dari langit. Bergetarlah tanah di bumi dan gunung-gunung memuntahkan lahar panas. Sedang empat pemuda masih bermain musik; memutar kadar distorsi, meliukkan riff gitar pada gebukan drum, dan mencipta fantastika psikedelia. Ash-Shur menyematkan experimental/gypsy pada musiknya, penuh dengan misteri dan gelapnya psikedelik. Ash-shur adalah musik psikedelik 70-an yang lebih modern. Ia masih bersih dari “LSD”-nya The Doors tapi hampir menyentuh Mercury Rev. Mereka tidak warna-warni hippie, tapi hitam-putih agresif—lebih menendang.Dan dengan hadirnya sangkakala dari Bandung ini, manusia-manusia harus segera ‘bertobat’ sebelum bunyi-bunyi sangkakala lain terdengar!

Egon Spengler – “Not Dead Enough” | ft. Chrisna Fernand

egon spengler

Kuintet kaum dugal yang digawangi oleh Obek (Vokal), Tebo (Bass), Rombe (Drum) serta Ikang dan Besta (guitar) ini merevolusi punkrock melalui debut album bertajuk “Ecto 1”. Hidup di kota yang terkenal akan teriknya, Surabaya, para pemuda mursal ini meneriakan kejenuhan akan rutinitas, kemacetan, hingga agama yang hari ini berlaku serupa dagangan dalam narasi-narasi bernas dalam debut albumnya. Kalau saja para hardcore kids hari ini selalu menambatkan hati disekitaran Boston atau New York saja, hal tersebut tidak berlaku pada Egon Spengler. Kembali pulang ke CBGB dan meresureksi Ramones hingga Dead Boys, adalah pilihan tepat. Karena dengan demilian, kolektif punkrock mesakat ini sonder digugat telah menjadi oase di gurun tandus skena hardcore/punk di kotanya.

Kota & Ingatan – “Peluru” | ft. Bodhi IA

kota & ingatan

Atas kesadaran terhadap sesaknya kota dan berkurangnya kemanusiaan, sebuah unit bernama Kota & Ingatan lahir di Yogyakarta. Ialah Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), Addie Setyawan (bass), Alfin Satriani (drum), dan Aditya Prasanda (teks) yang meniupkan nafasnya sejak awal tahun 2016 lalu. Dengan menceritakan ulang apa yang mereka temukan di jalan selepas pulang bekerja, mereka menyadari banyaknya ketimpangan sosial yang semuanya dapat berimbas ke kehidupan manusia secara langsung dan tidak langsung. Catatan-catatan yang mereka kerjakan, seperti “Peluru”, diharapkan dapat memantik diskusi untuk kemudian direproduksi dengan cara apapun. Selama menjadi manusia, hal yang seharusnya dilakukan mestilah untuk tetap saling berkabar dan peduli akan sesama.

Marsmolys – “Cosmic Still” | ft. Sekar Bestari

marsmolys

Dengan dentuman rock berat dipadukan kompleksitas genre sarat variasi, mereka berupaya menyampaikan pesan kepada sang pencipta. Ada ramuan psikadelia, kesyahduan blues, hingga kerapatan stoner-garage yang penuh presisi. Akan tetapi mereka hanya ingin melakukan perjalanan demi menemukan jalan pulang. Dan Marsmolys masih mencari kanal kesempatan itu.

Murphy Radio – “Gales The Stargazer” | ft. Isnain Bahar

Murphy Radio

“Gales the Stargazer” adalah sebuah usaha dari Murphy Radio, untuk mengenalkan permainan gaya music mereka yang baru. Band ini sempat mengalami fase bongkar pasang personil serta perubahan aliran musik. Kurang lebih satu tahun ke belakang,  mereka memutuskan untuk bermain di ranah musik instrumental, mathrock. Dalam format baru ini, mereka terdengar begitu nyaman bermain. “Gales the Stargazer” adalah pembuktian mereka. Kendati “Gales the Stargazer” salah satu lagu ‘debut’ Murphy Radio, mereka terdengar begitu matang dan total dalam lagu ini.

Niskala – “Legacy of The Moon” | ft. Doni Singadikrama

Niskala

Dengan tanpa lirik pun, Niskala telah membawa sesuatu yang baru dalam sebuah tatanan yang kini bisa diamini bersama sebagai post-rock. Mereka hadir dengan tawaran lanskap pikir yang bebas tafsir. Tentang bagaimana siklus sederhana dari keterkaitan sesama makhluk hidup mampu direspon ulang dan merebak menjadi “Legacy of The Moon,” hingga pesan-pesan kemanusiaan yang meski dalam penyampaiannya tak ada kata-kata. Tanpa ada sebelum-sesudah, potongan-potongan cerita yang telah ditelurkan Niskala sayangnya masih terasa kurang garam, sampai-sampai tak ada harapan lain kecuali album penuh ke depan untuk melengkapi cita rasanya.

Sugar Kane – “If You Want” | ft. Harry Jow

sugar kane

Seolah diimpor dari pojok bar CBGB yang remang dan berisik, Sugar Kane merajah telinga dengan riff cepat di nomor “If You Want” ini. Vokal feminim serak yang seduktif ini membuat Sugar Kane dengan cepat tertangkap di antara belasan daftar band punk seantero negeri. Riot Grrrl, begitu mereka menyebut genre yang dimainkan, telah diusung sejak band ini terbentuk pada 2013 lalu dengan Dila (Vocal), Regi (Bass/Guitar) dan Daryl (drum). Dalam gebukan cepat itu, Sugar Kane bak mencuri hati lewat keluh kebosanan seorang anak kecil yang merengek minta teman. Nakal, seksi dan brutal!

Summerchild – “Intisari” | ft. Matamerahcomix

summerchild

Akhir tahun lalu, band ini sukses melahirkan anak pertama mereka, “RISAU”. Konser tunggal dengan tajuk yang sama, menandai peluncuran album yang bermaterikan 9 nomor. Boleh dibilang, band ini menjadi salah satu band indie Jogja yang punya kualitas aksi panggung mumpuni jika kata terbaik terkesan berlebihan. Nama Summerchild sendiri dipilih karena makna yang dikandungnya sesuai dengan pribadi ketiga personil. “Dalam bahasa inggris kata itu bisa berarti anak yang tidak memikirkan resiko. Jadi ya jalan aja menikmati proses,” ungkap Dhandy. Summerchild beranggotakan Dhandy Satria (vokal dan gitar), Paulus Ryan Haryanto (bass) dan Yusak Nugroho (drum). Ketiganya bukan merupakan kawan bermain. Mereka justru punya dunia pertemanan masing-masing yang tanpa sengaja dipertemukan di JBF (Jogja Blues Forum). Menariknya, album pertama mereka justru tidak mengusung blues. Mereka menyebut musik Summerchild terdiri atas tiga unsur, pshycedelic 33,3% mood 33.3% dan alternative 33%.

Umar Haen – “Kisah Kampungku” | ft. Reza Kutjh

umar haen

Jika solois pada umumnya menggunakan satu instrumen saja atau tidak sama sekali, maka bolehlah menyebut Umar Haen tidak biasa. Selain gitar di pelukan, ada ketuk cajon serta krincing tamborin; keduanya dimainkan dengan kaki, wujudkan komposisi dinamis yang kaya dalam kesederhanaannya. Single terbarunya, “Kisah Kampungku” menyajikan aroma ringan petrichor, pun gentingnya pesan di balik irama mayor menyenangkan. “Anak-anak desa berimpian kota”–demikian fenomena yang diangkat–nyatanya juga terjadi di desa-desa lainnya, dan begitulah Umar berharap kisah-kisahnya membelantara; terhubung dengan kejadian yang juga dirasakan pendengarnya.

Whitenoir – “Sub-district” | ft. Dian Ultramanminmun

whitenoir

Datang dari scene musik Malang yang semakin hari semakin riuh, Whitenoir bermodal riff gitar penuh distorsi untuk menyampaikan keresahan terhadap keadaan di sekitarnya tanpa terkesan mengganggu apa lagi menceramahi. Musik Whitenoir yang jauh dari kesan rumit dan tidak bertele-tele dapat dengan mudah memanjakan telinga penggemar Title Fight dan Superheaven. Selain pengaruh besar musik grunge kekinian, elemen musik emo awal tahun 2000-an juga bisa terdengar dari hiperbola dan analogi yang mereka gunakan untuk menyusun lirik lagunya.

 

DOWNLOAD HERE!!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response