close

[Movie Review] Jakarta Maghrib

Jakarta_Maghrib

What : Jakarta Maghrib

Director : Salman Aristo

Genre : Drama, Omnibus

Rilis : 2010

 

              Renungan Kehidupan : Potret Kehidupan Urban Ala Jakarta Maghrib

Tidak terhitung sudah berapa kali saya menyaksikan tayangan adzan maghrib di televisi. Setiap saya melihat televisi di waktu senja, pasti pada saat itu juga saya menonton siaran adzan maghrib. Ada berbagai macam versi tayangan adzan maghrib di setiap stasiun televisi. Namun di antara semua itu, ada satu tayangan yang menarik perhatian saya. Beberapa bagiannya mampu membuat saya tertegun dan berpikir.

Tayangan adzan maghrib tersebut pada dasarnya mempunyai ide cerita yang sederhana. Pada saat matahari telah sampai di ufuk barat disertai dengan warna langit yang kemerahan, orang-orang diceritakan berhenti sejenak dari aktivitas keseharian untuk kemudian melaksanakan ibadah salat. Proses ini digambarkan secara utuh dari awal, mulai dari ketika orang-orang itu beraktivitas, mendengar suara adzan maghrib, lalu memutuskan untuk pergi ke tempat ibadah guna salat. Suasana serta waktu sangat kentara terasa di tayangan ini dimana sang sutradara merekam keindahan langit senja kota yang menampilkan perpaduan warna tersendiri.

Pada bagian gambar langit senja inilah, tayangan adzan mahgrib tersebut menjadi terlihat lain bagi saya. Pikiran saya selanjutnya membayangkan apa yang terjadi di bawah sana –tempat-tempat di bawah naungan langit sore itu. Tidak berapa lama, otak saya dipenuhi oleh gambaran keadaan sebuah kota besar, yakni bayangan akan jalan yang macet, pengendara motor yang saling berebut jalan, pedagang kaki lima penjaja makanan, riuh-rendah pembicaraan orang, gerutu kesal polisi lalu lintas, dan sebagainya. Dengan kata lain, suasana tenang juga damai yang disuguhkan langit sore serta alunan adzan mahgrib bisa saja berbeda jauh dengan apa yang terjadi di jalanan, di kantor, di kampus, atau di mana pun tempat orang beraktivitas.

Pengalaman di atas saya temukan kembali sewaktu menonton film Jakarta Maghrib. Film ini bukanlah film yang dapat dengan mudah dilihat di bioskop. Meski begitu, kualitas film ini patut diapresiasi. Film besutan sutradara Salman Rianto ini menyajikan kompilasi cerita yang diperankan oleh beberapa pemain film, di antaranya aktor seperti Reza Rahadian, Ringgo Agus Rahman, Lukman Sardi, Indra Birowo, Widi Mulia, Asrul Dahlan, Deddy Mahendra Desta, dan Fanny Fabriana. Adapun cerita yang terdapat dalam film ini terdiri dari enam macam. Cerita Iman Cuma Pengin Nur dipilih sebagai sebagai cerita pertama Film Jakarta Maghrib. Seterusnya, cerita Adzan, Menunggu Aki, Jalan Pintas, Cerita Si Ivan, dan Ba’da menghiasi jalan cerita film ini.

Seperti halnya tayangan adzan maghrib tadi, film Jakarta Maghrib turut menampilkan suasana dan keadaan kota besar, yaitu Jakarta di kala senja. Waktu senja merupakan unsur utama film. Ini terlihat dari penggabungan cerita dan tokoh pada akhir film (cerita Ba’da) pada saat adzan maghrib berkumandang. Paradoks suasana serta potret kehidupan manusia urban di kala senja dipotret dengan apik dalam film Jakarta Maghrib. Bahwasanya ada sisi lain dari kehidupan manusia yang terjadi serta dapat dicermati apabila diri kita meluangkan sedikit waktu untuk mau berdiam diri, mengamati, dan berpikir. Aktivitas berpikir tersebut selanjutnya akan melahirkan apa yang disebut dengan proses perenungan diri terhadap segala sesuatu yang telah dijalani atau diamati.

Proses perenungan inilah yang ditawarkan oleh film Jakarta Maghrib. Film yang tersusun dari beberapa macam cerita sanggup memberikan gambaran akan kedinamisan serta perbedaan kehidupan manusia. Film ini mampu membuka pikiran penonton bahwa hidup yang dijalani tidak selalu berkutat pada diri sendiri atau orang-orang terdekat. Pemahaman akan luasnya pengertian berikut proses berjalannya kehidupan mampu membuat penonton berdiam sejenak dan berpikir. Di sisi lain, latar waktu yakni senja hari yang disertai dengan alunan adzan mahgrib ikut mendorong proses perenungan tersebut terjadi. Keduanya dapat menggiring orang sejenak berhenti dari rutinitas keseharian untuk beribadah kepada Sang Pencipta.

Meski begitu, di dalam kompilasi ceritanya, Film Jakarta Maghrib secara konsisten menampilkan cerita kaum urban kelas menengah ke bawah. Akan lebih baik jika terdapat satu atau dua cerita yang menggambarkan kehidupan kalangan elit seperti pejabat atau sosialita. Hal ini dilakukan sebagai langkah penyeimbang terhadap cerita sekaligus penyempurna proses perenungan diri, terutama bagi penonton. [Warning/Nindias Khalika]

tumblr_lh111y4AtV1qhu6n5o1_500
Tags : Indonesiamovie
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response