close

[Movie Review] Requiem for a Dream

MV5BMzM2OTYwMTY4Nl5BMl5BanBnXkFtZTcwMjU1Njg3OA@@._V1._SX333_SY500_
MV5BMzM2OTYwMTY4Nl5BMl5BanBnXkFtZTcwMjU1Njg3OA@@._V1._SX333_SY500_

Sara Goldfarb: I’m somebody now, Harry. Everybody likes me. Soon, millions of people will see me and they’ll all like me. I’ll tell them about you, and your father, how good he was to us. Remember? It’s a reason to get up in the morning. It’s a reason to lose weight, to fit in the red dress. It’s a reason to smile. It makes tomorrow all right. What have I got Harry, hm? Why should I even make the bed, or wash the dishes? I do them, but why should I? I’m alone. Your father’s gone, you’re gone. I got no one to care for. What have I got, Harry? I’m lonely. I’m old.

Menceritakan sebuah jurang mematikan yang dibalur kesenangan sesaat: narkoba. Narkoba merajai segala nadi kehidupan 4 orang yang terjebak dalam impian-impian semu. Impian akan kehidupan yang jauh lebih baik, sayangnya menempuh jalan yang salah. Jerat narkoba, memang sangat memabukkan. Memanjakan dengan ilusi-ilusi menyenangkan, namun menghancurkan dalam hitungan yang belum sempat Anda sadari.

Empat orang dengan mimpi-mimpi sederhana. Sara Goldfarb (Ellen Burstyn), seorang janda kesepian yang hidup seorang diri. Memimpikan tampil dalam acara kuis di layar kaca menggunakan gaun masa mudanya yang kini sudah tak cukup lagi di tubuh rentanya. Memutuskan mengkonsumsi obat-obatan pelangsing dengan dosis acak-acakan. Anaknya, Harry Goldfarb (Jared Leto) tinggal bersama sahabat baiknya, Tyrone (Marlon Wayan). Mereka berdua mempunyai mimpi untuk kaya dan hidup bermewahan. Harry memiliki seorang kekasih bernama Marion Silver (Jennifer Connelly). Keduanya memimpikan membangun masa depan bersama. Sayangnya ketiga orang ini adalah pengguna narkoba. Tyrone akhirnya berhasil membujuk Harry untuk berbisnis narkoba, sebagai penyalur. Uang yang mereka dapatkan memang banyak dan cepat; sayangnya di perjalanan tidak semulus yang mereka bayangkan. Marion pun sampai terpaksa menjual diri demi memenuhi kecanduannya terhadap narkoba.

Film tahun 2000  ini dibuat berdasarkan novel karangan Hubert Selby Jr yang divisualisasikan ke dalam bentuk drama besutan Darren Aronofsky. Sensasi luar biasa yang diberikan kepada penonton, berupa kesepian dan ketidaknyamanan. Film ini bukan sekedar film Hollywood bubblegum. Setelah menontonnya, Anda pasti merasakan selimut katup kesendirian dan kegelapan berpendar dari diri Anda.

Anda akan disuguhi dengan sinematografi apik ala Aronofsky. Close up karakter, montage, flash images, efek suara, slow motion dengan tangkapan kamera super makro dan soundtrack yang mengiris. Merinding adalah kata yang pas dalam menggambarkan sensasi yang dihasilkan film ini. Scene-scene film ini sangat menyedot perhatian penonton dan menguras ulu hati. Perhatikan juga di bagian akhir, bagaimana Aranofsky menutup film ini  dengan pose-pose Sara, Harry, Tyrone dan Marion. Semuanya hancur karena barang hina tersebut.

Requiem for a Dream sebenarnya tidak melulu mengisahkan bagaimana efek dari adiksi semata. Di sisi lain Aronofsky juga ingin menceritakan sisi kelam kisah manusia-manusia kesepian dan kurang kasih sayang. Bagaimana cara manusia mengatasi kesendiriannya, bagaimana manusia berusaha lari dari kenyataan hidup mereka yang pahit, dan bagaimana manusia perjuangan manusia dalam mencapai segala impiannya, yang secara ironis dilakukan dengan cara yang salah.  Hasilnya? Sebuah rangakaian kisah brutal, penuh kegilaan dan depresi tingkat tinggi. (Warning/Edwina Primananda)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response