close

Rilisan Solo Pertama Deugalih Lewat Tanah Ini Tidak Dijual

Deugalih

 

Dok. Deugalih

 

Berjumpa dengan Galih, artinya bertemu dengan energi yang meloncat-loncat. Sebentar dia akan bicara soal rencananya tentang album, lalu berpindah obrolan tentang keinginannya membuat video, pindah cerita lagi soal tema apa yang ingin dia angkat kali ini. Rencananya banyak, semua bermuara pada satu hal, album solo baru yang sedang ia garap, Tanah Ini Tidak Dijual.

Mengangkat tema Tanah, yang merupakan kelanjutan dari tema Air yang ia tuangkan bersama bandnya, Deugalih & Folk dalam album Anak Sungai, kali ini Galih ingin berjalan sendiri dengan nama Deugalih. Proses pembuatan albumnya sudah berjalan selama dua tahun sebelum akhirnya ia merangkum semuanya dalam 14 lagu, direkam dengan cara satu kali take di studio yang menghabiskan waktu hanya dua hari.

“Album ini temanya berat sekali tapi saya ingin membuat ini menjadi sesuatu yang remeh,” begitu katanya. Semua liriknya pendek tapi didalamnya ada begitu banyak cerita dan harapan. Tentang pulang ke kampung halaman, tentang tanah yang selalu menjadi perebutan kekuasaan, modal yang berputar di kota, TKI, Papua, Kendeng, Batang dan banyak lainnya, ada di album ini.

“Saya muak dengan banyak hal di Indonesia tapi sekaligus juga tahu bahwa menghadapi banyak hal di sini, tidak bisa hanya dengan kemarahan. Harus dengan banyak humor, melemparkan pemikiran kecil ke banyak kawan, dan semoga album ini menjadi jalan untuk membuka pemikiran orang yang mendengarkan, bahwa tanah kita ini selalu menghadapi ancaman, di mana pun kita berada,” paparnya dalam rilis pers yang diterima WARN!NG.

 

Poster Promo Tanah Ini Tidak Dijual

 

Deugalih ialah Galih Su yang mengawali perjalanan musiknya tidak sebagai musisi, namun scenester. Dia mulai aktif mendongeng sekaligus bermusik untuk menyalurkan rasa gelisah atas kondisi sosial, budaya dan lingkungan di tanah air. Pada tahun 2015, Galih sempat membuat album Anak Sungai bersama bandnya, Deugalih & Folks.

Selain itu dia adalah salah seorang yang aktif di skena folk sejak 2002 bersama Wasted Rockers sebagai partner in crime dalam membuat gigs. Red Neck, Three Days Blues Plus, Uma Huma dan lain sebagainya adalah gigs yang dibuat oleh mereka sirka 2002-2011. Sekarang Galih aktif mengajar di sebuah sekolah swasta di Yogyakarta sembari tetap memainkan musiknya. Tanahku Tidak Dijual adalah album solo pertamanya. [WARN!NG/Oktaria Asmarani]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response