close

Riuh Gemuruh: Formasi Pop Spesial di Gedung Spasial

Ikkubaru2

Petang itu, Kibal dan Ajus sedang duduk santai seraya memainkan gawai di seputaran lapang parkir. Dua pehobi fotografi ini rupanya datang terlalu cepat ke gelaran Riuh Gemuruh pada Minggu (24/09). “Iya nih datang kepagian. Acaranya belum mulai,” kata Kibal memulai obrolan. “Konser musik mundur dari jam yang ditentukan sudah biasa. Yang luar biasa itu kalau acara musik tiba-tiba mulai dari waktu yang ditentunkan,” tambah Ajus melontar canda.

Selepas kumandang adzan Isya’, pengunjung mulai memasuki venue. Bertempat di Gedung Spasial, Jalan Gudang Selatan, Kota Bandung, lokasi konser berformasi empat kelompok musik ini tampak cantik dengan interior yang didominasi instalasi kayu. Setahu saya, tidak ada panggung ditiap gelaran musik di tempat ini. Nyaris tidak ada jarak antara penampil dengan pengunjung. Gedung bekas penyimpanan senjata militer ini disulap menjadi wahana konser sarat keintiman berkat semangat kolektif muda-mudi Bandung.

Setelah berada di dalam venue, Kibal dan Ajus bergegas mengatur kesiapan kamera yang mereka bawa masing-masing. Di depan, sudah siap tampil band asal Jakarta, Gascoigne. Trio pengusung panji musik rock ini tidak bertele-tele soal penampilan; colok dan mainkan.

Selepas menyapa pengunjung, duet gitaris dan bassis berpostur pemain NBA ini menyajikan intro, disokong drummer bertubuh tambun dengan kelihaian menstabilkan irama. “Terimakasih Spasial sudah mengundang kami. Sudah lama kita tidak tampil di Bandung,” ujar sang gitaris merangkap vokal setelah menyelesaikan intro. “Perasaan kita belum pernah main di Bandung, deh,” timpal si bassis. Penampilan Gascoigne berlanjut dengan lagu berjudul “Life Lesson”. Alunan musik rock yang mereka sajikan terasa kalem. Distorsi gitar berada di tingkatan minimal. Tidak ada raungan khas vokalis rock. Semua serba kalem. Gascoigne terasa pop malam itu.

Menyaksikan Gascoigne membuat saya sedikit berfantasi sedang berada di sebuah tempat hiburan malam dengan botol-botol bir berdiri kosong di meja. Gascoigne hadir memberikan alternatif pelepas penat lewat tembang-tembang lagu rock lunak setelah kita terlalu lelah bekerja atau berada pada kondisi asmara yang tidak sedang baik-baik saja.

Gascoigne

Gascoigne tampil menggeber delapan materi lagu. Beberapa nomor pada album perdana bertajuk Fagen Ain’t Fakin disajikan teruntuk khalayak cakrawala permusikan arus pinggir di Kota kembang. Buat penggemar nama-nama kelompok musik alternatif Amerika angkatan 80’an seperti Mission of Burma dan The Replacement, atmosfir serupa bisa kalian rasakan kembali lewat album perdana milik Gascoigne yang baru rilis belum lama ini.

Saat Gascoigne tampil, pengunjung masih tampak malu-malu membanjiri area depan penampil. Ruang yang digunakan gelaran Riuh Gemuruh cukup luas menurut pandangan saya untuk dibuat meriah dengan aksi moshing seperti konser musik rock pada umumnya.

Sedari mula suasana yang hendak dibangun oleh pengonsep acara tidak seperti khayalan egois saya pribadi. Dari formasi penampil, yang mereka undang pun telah menyiratkan situasi kalem dan interaksi seintim mungkin antara pengunjung yang memlilih menghabiskan akhir pekan dengan musik santai dan susana nan temaram.

Selepas penampilan Gascoigne, pembawa acara mengumumkan nama band selanjutnya yang akan mengokupasi venue.  Ada cerita menarik tentang pembawa acara ini. Di tiap pengumuman maupun ocehannya, si pembawa acara tidak menampakan diri di depan, ataupun di samping para pengunjung.

Sejak awal gelaran ini dimulai, suara pembawa acara membahana tanpa eksistensi. Ini beberapa kali membuat sedikit kegaduhan di venue saat jeda pergantian band. Para pengunjung bertanya-tanya dimana si pembawa acara ini. Saya pun teturut penasaran dengan wajah dan penampilan pembawa acara dengan suara lelaki ini. Hingga tutup konser, si pembawa acara tidak berhasil saya temukan. Pun pengunjung lainnya. Hal ini tetap menjadi obrolan hangat sampai ke lahan parkir kendaraan.

Kembali ke venue, kuartet penganut aliran city pop asal Bandung, Ikkubaru sudah berada pada di atas set penampil.  Dengan hadirnya Ikkubaru, pengunjung perlahan-lahan mulai membanjiri area depan penampil. Kelompok musik yang merilis album pertama lewat label rekaman asal Jepang ini menarik perhatian pengunjung lewat lagu pembuka berjudul “Evelyn”.

Pengunjung mulai telihat atraktif. Ikkubaru tampil seksi dengan alunan musik yang saya kira terdengar seperti band asal daratan Britania, The 1975. Meski merilis album pertama dan melakukan pelbagai konser di negeri Sakura, Ikkubaru tetap terasa kiblatnya menghadap ke arah british pop.

Ikkubaru tampil selama hampir satu jam. Mereka lebih menikmati suasana ketimbang penampil pertama. Rizki (vokal/gitar) lebih banyak melakukan interaksi dengan pengunjung di tiap jeda lagu. Ikkubaru menyajikan total delapan judul lagu. Nomor-nomor tenar milik Ikkubaru seperti “Chasing”, “City Hunter”, Street Walkin”, dan “Skyline” selalu masuk menjadi list wajib saat naik pentas. Tak terkecuali buat pengunjung Riuh Gemuruh malam itu.

Koor masal terjadi di baris depan. Nomor “City Hunter” dan “Skyline” punya tempat tersendiri bagi pengunjung yang datang khusus demi Ikkubaru. Kuartet pop yang total telah memiliki tiga album ini menutup penampilan dengan ciamik lewat gubahan ulang lagu milik The Chemical Brother berjudul “Star Guitar”.

Ikkubaru menyelesaikan kewajiban sekitar pukul 10. Saat saya menghampiri Kibal dan Ajus, keduanya sedang asyik memilah-milah hasil bidikan kamera. Tidak lama kemudian, suara pembawa acara membahana lagi. Kepala para pengunjung kembali celingak-celinguk mencari sumber suara.  Kepala saya dan Kibal serta Ajus pun ikut celingak-celinguk.

Ikkubaru

Suara pembawa acara tersebut menyatakan sebentar lagi akan tampil band bernama Secret Meadow. Seraya mengingatkan pengunjung, si pembawa acara mengarahkan perhatian ke suatu sudut venue yang terdapat sederet meja memajangkan karya-karya album para penampil. Selain itu juga terdapat kaus merchandise resmi. Rilisan segar berbentuk cakram padat dan merchandise tersebut dijual dengan penawaran khusus pada gelaran konser ini.

Sekira pukul 10 lebih 15 menit, Secret Meadow mengambil alih perhatian pengunjung. Penganut aliran pop senada Ikkubaru barusan lumayan menyita waktu saat menyiapkan set. Para personil Gascoigne pun turut serta membantu kesiapan instrumen penunjang tampilan Secret Meadow.

Setelah 10 menit, Secret Meadow mulai mengalirkan energi pop berhaluan alternatif dari set penampil. Sesuai intro, lagu berjudul “Vexation” mereka mainkan. Lagu tenar berjudul “Endlings” mencairkan suasana. Musik pop yang ringan nan riang mengakibatkan area depan penampil semakin membludak. Barisan depan hingga belakang larut dalam materi andalan milik Secret Meadow tersebut.

Datang untuk menyajikan tujuh nomor lagu, materi andalan milik Secret Meadow lainnya dengan judul “Water in the Flowing River” melanjutkan keberhasilan mempertahankan khalayak Riuh Gemuruh malam itu.

Pilihan Secret Meadow untuk menggubah lagu tenar milik Pure Saturday berjudul “Desire” makin membuat betah pengunjung. Pada sela-sela jeda pergantian lagu, para personil Secret Meadow melalui Ricardo (vokal) mengatakan mereka memang mengidolakan legenda pop alternatif dari kota kembang tersebut. Dikatakannya lagi, Pure Saturday juga menjadi referensi mereka dalam melahirkan karya.

Selepas okupasi Secret Meadow, perhelatan Riuh Gemuruh masih punya satu gacoan lagi. Gacoan itu ialah Cheery Bombshell. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh para pengunjung. Melihat kembali penampilan langsung dari kelompok musik bermazhab heavy pop yang mengibarkan karya sejak 1995 itu adalah peristiwa spesial.

Bahkan dari artikel salah satu portal berita musik yang saya dapatkan menyebut Cherry Bombshell merupakan bagian dari kebangkitan skena underground Kota Bandung pada era 90’an. Cherry Bombshell hadir memenuhi set penampil. Malam itu, mereka tampil super lengkap dengan dua vokal, tiga gitar, bass, drum, dan keyboard.

Materi-materi dari album lawas hingga yang paling terkini mereka sajikan. Membuka penampilan dengan single “Mengenang Masa”, venue dibuat penuh oleh kehadiran Cheery Bombshell. Momor berjudul “Langkah Peri” menjadi andalan pada konser kali ini dengan menciptakan koor masal.

Menyajikan sepuluh materi lagu, Esti (vokal) yang memegang kendali garis depan, kerap menyindir beberapa personil saat jeda pergantian lagu. Sindiran tersebut menyangkut ejekan menyangkut umur para personil yang seharusnya berada di rumah mengurus anak ketimbang manggung tengah malam.

Pengunjung pun berkali-kali dibuat tertawa saat candaan tersebut dilontarkan seraya beberapa gitaris nampak letih dan mengeluh. Candaan tersebut membentuk suasana intim yang makin menjadi-jadi menuju akhir perlehatan.

Udara dingin yang berhembus dari luar gedung berubah menjadi semilir kehangatan setelah tersaring riuh rendah gelombang nada spesial musik pop yang berpusing-pusing di dalam venue. Ditambah suasana spesial serba intim yang terbangun sejak awal konser, membuat pengunjung betah enggan beranjak dari gedung Spasial sebelum penampil terakhir menyelesaikan nomor pamungkas. [Kontributor/Indra Kurniawan]

Event by: Go Ahead

Date: 24 September 2017

Venue: Gedung Spasial

Man of the Match: Cherry Bombshell

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response