close

RSD Jogja 2016: Pesta Pora Penggiat Rilisan Fisik

SONY DSC
Gaute Granli & Thore Warland
Gaute Granli & Thore Warland

Dibuai oleh romantisisme rilisan fisik, Record Store Day di Jogjakarta 2016 berhasil digelar sebagai pesta meriah para pegiat musik.

Tahun ini menjadi tahun kedua Yogyakarta untuk menggelar perhelatan Record Store Day (RSD). Telah berminggu-minggu lamanya penyebarluasan informasi tentang pesta rilisan fisik tahunan ini beredar secara viral di linimasa. Sampai pada akhirnya, bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta, RSD 2016 Jogja berlangsung dengan sukes pada Sabtu (16/4).

Sejak pukul dua siang, para penjaja piringan hitam, kaset, dan cakram padat yang bergabung dalam Jogja Record Store Club telah menggelar lapaknya. Walau tercatat ada 17 stan toko musik yang menjual koleksinya, sulit sekali membedakan antara satu stan dengan yang lain. Hal ini disebabkan karena tidak adanya jarak antara pelapak satu dengan yang lainnya. Para penggemar rilisan fisik yang datang pun seolah tak sungkan untuk ngobrol santai, dan tentu saja, tawar menawar harga dengan para penjual. Semuanya membaur dalam tawa dan obrolan-obrolan renyah karena itulah salah satu tujuan dari diadakannya RSD ini: mempertemukan dan mengakrabkan penjual dan penggemar rilisan fisik dalam satu venue.

Mereka yang datang dalam acara ini pun bukan hanya kalangan anak muda yang sedang giat-giatnya kembali pada rilisan fisik. Beberapa orang yang terlihat tak muda lagi usianya pun juga terlihat wara-wiri di bawah tenda berwarna kehijauan untuk menggali vinyl dan kaset. Karena memang, rilisan yang dijual dalam RSD tahun ini memang layak untuk dikoleksi. Beberapa musisi bahkan memang sengaja untuk menjadikan RSD sebagai momentum untuk melepas rilisan terbatas dengan harga yang bersaing pula. Pada RSD Jogja, rilisan fisik yang dilepas secara spesial adalah album kompilasi yang berisi sepuluh lagu dari sepuluh musisi asal Jogja. Beberapa musisi yang mengisi rilisan berbentuk kaset yang dijual hanya sebanyak 50 kopi ini adalah Niskala, Temaram, dan Neurovibe. Bagi Anda yang tertarik untuk memilikinya, silakan bermuram durja karena rilisan dari Jogja Record Store Club ini sudah habis terjual dalam waktu beberapa jam saja.

Harry Firmansyah
Harry Firmansyah
Sungai
Sungai

Selain diisi oleh stan toko musik, ada juga stan records label, majalah, dan makanan ringan dalam perhelatan RSD 2016 di Jogja. Namun, bukan pesta namanya jika tidak ada musik yang bagus, serta penampilan menarik di atas panggung. Maka dari itu, Herry Firmansyah, Sungai, serta Gaute Granli dan Thore Warland pun didapuk untuk menyemarakkan euforia.

Herry Firmansyah, yang dulunya merupakan gitaris dari band Sister Morphin, membawakan lebih dari lima buah lagu di atas panggung. Dua di antaranya yang ia bawakan dengan dakikan-dakikan gitar adalah “Rockstar Diary” dan “Pseudo Rock n Roll” yang diambil dari EPnya, Blue on G-Strings. Halaman Bentara Budaya pun diliputi oleh nuansa blues yang cukup membuat kerumunan tetap berdiri di depan panggung sambil terkesima oleh kepiawaiannya bermain gitar.

Penampilan yang cukup ditunggu dalam RSD 2016 Jogja adalah milik Sungai. Membawakan lima buah lagu termasuk nomor teranyarnya, “Kelabu”, Sungai pun hadir bak relaksasi bagi penatnya orang-orang yang tengah memilah-milah rilisan fisik. Hadir dengan personel lengkap dalam format akustik membuat gerimis hujan yang turun menjadi syahdu. RSD Jogja pun memiliki kuantitas yang sama antara pembeli dan mereka yang ada di depan panggung: sama-sama banyak!

Sempat diselingi dengan diskusi ringan dan kocak dari pihak penyelenggara, duo musisi asal Norwegia, Gaute Granli dan Thore Warland pun mengokupasi panggung. Cabikan-cabikan gitar serta sound effectnya, gebukan drum, dan teriakan-teriakan yang bukan dalam bentuk kata-kata yang tertata dan terarah, menampilkan musik yang terkesan tidak nyambung satu sama lain. Gitaris dan drummer ini seolah bermain semaunya, tanpa ada batasan apapun. Namun, itulah yang membuat musik mereka menarik dan menghadirkan decak kagum. Penonton pun dengan serius menyaksikan empat buah nomor yang mereka bawakan, sampai diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah.

Sedari panas menyengat ke sore yang hangat, hujan rintik-rintik menjadi berisik, hingga malam datang dan makin sedikitnya kendaraan berlalu-lalang, RSD Jogja 2016 tak sekali pun terlihat menyepi. Ini menunjukkan bahwa rilisan fisik memang betul masih merajai hati para penikmat musik. Pada akhirnya, stan-stan pun menutup lapaknya satu per satu saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Itupun karena harus mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan. Kalau saja tidak, mungkin sampai esoknya pun, masih banyak para penggali rilisan fisik yang merelakan uangnya berpindahtangan demi kecintaannya terhadap hobi dan juga musisi itu sendiri. Long live records! [contributor/ Oktaria Asmarani]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response