close

Saat Frau Kembali Menyihir

aNKN_1976

Penciptaan sebuah konsep menikmati, mendistribusikan, dan menyampaikan musik secara baru benar-benar dihadirkan oleh Leilani Hermiasih alias Frau, Rabu (28/8), di auditorium IFI-LIP Yogyakarta. Begitupun kerjasama Frau dengan Papermoon Puppet Theatre yang benar benar menyihir penonton dalam dimensi lain ciptaannya selama satu jam penuh. Penonton bahkan memilih tetap duduk diam, berharap Frau tampil kembali setelah pertunjukan ditutup. Teriakan dari panitia,”Woy udah selesai! Ayo pulang!!!” seakan baru menyadarkan penonton dari hipnotis Frau.

Frau © Warningmagz
Frau © Warningmagz

Pintu masuk dibuka jam 19.00, antrian panjang mengular sampai gerbang luar LIP/IFI. Saat ruangan dibuka, para penonton yang ada di dalam auditorium berjejal dan berdesakan. Tangga di kanan-kiri tribun serta lantai bawah pun sampai dipenuhi oleh penonton.

Setelah memasuki ruangan, penonton dihadapkan pada jajaran tiga lelaki yg duduk di atas kursi kotak, itulah Answer Sheet. Blok kain hitam yang menutup stage utama Frau masih ditutup dan membuat Answer Sheet duduk akrab – tanpa pemisah- dengan penonton.

Pukul 19.30, Answer Sheet mulai menghangatkan ruangan dengan alunan aransemen yang lembut dalam nomor “Stay Leave”. Meskipun Karebet, pasangan Ogi dalam duet ukulele tidak hadir, permainan Answer Sheet tetap memuakau.  “ A Regretful Season” dan single pertama dalam album terbarunya “Chapter 1 : Istas Promenade”, yakni “The Pleasant Drink of United Ink” selanjutnya juga dibawakan dengan manis. Ogi sang vokalis membubuhkan canda di setiap jeda lagu yang mereka bawakan, mencoba akrab dengan audiens tentunya.Terakhir,  “A Love Beach, Sadranan” membuai para penonton dalam kedamaian pantai. Lagu tersebut sekaligus menjadi penutup penampilan singkat Answer Sheet.

Ruangan jadi gelap gulita sekitar tiga menit lamanya. Ketika lampu dinyalakan, audiens langsung dikagetkan dengan tata panggung yang menakjubkan karya Papermoon Puppets Theatre. Suasana rumah sederhana dengan teras yang dihiasi beberapa pot kaleng besi berisi tanaman buah karya  Edwin Roseno, Green Hypermart. Belum selesai memuji tata panggung, Frau langsung menarikan jarinya di atas tuts-tuts pianonya dengan manis dalam nomor “Something More”. Selama pertunjukan, Papermoon juga mempertunjukkan teaternya seiring bergulirnya cerita dari album “Happy Coda” tersebut.

Frau menyihir penonton dari atas panggung yang dihiasi kain-kain putih sebagai langitnya kala itu. Sebuah lampu merah di sisi jendela, tempat Frau bermain, pun tampak mendukung penyajian musik Frau. Dari segi tata panggung hingga lighting mampu menciptakan suasana mistis nan syahdu ke auditorium IFI-LIP Yogyakarta sore itu.

Sebelum lagu kedua dimainkan, Frau berjalan turun ke arah keyboard RD700 yang biasa ia namai Oscar. Seting piano kini berada di bawah panggung dan lebih dekat dengan penonton. Tak lama, dimulailah lagu kedua yang berjudul “Water”. Pada lagu ini Papermoon memainkan sebuah boneka nenek-nenek yang sedang membuatkan secangkir teh untuk Frau.

Di sela pergantian lagu, Frau mulai bercerita tentang kisahnya dan Mbak Tunut seorang wanita yang menginspirasinya dalam pembuatan lagu “Water”. Lagu ketiga dan keempat dibawakan secara berurutan “Empat Satu” dan “Mr.Wolf” dikemas lebih asik dan padat. Sebuah lampu gantung bernuansa lawas turun di atas boneka seorang bapak dan para pemain Papermoon yang ikut  bermain kartu pada sebuah meja kayu kecil. Lagu kelima “Whispers” merupakan lagu terpendek dalam album berisikan delapan lagu ini. “ Laguku kebanyakan selalu di bawah empat menit, karena menurutku lagu yang pendek itu bisa langsung ‘sampai’ tanpa perlu diulang-ulang,” ujar Frau di sela penampilannya.
Selanjutnya, giliran nomor pertama dari album ini, yakni “Tarian Sari” dilayangkan. Lagu ini merupakan lagu yang banyak mendapat revisi setelah Frau berdiskusi dengan beberapa teman yang menghidupi tulis menulis. Perlu diketahui sebelumnya, Frau juga sempat mengungkapkan bahwa kedelapan lagu yang berada di album terbarunya sudah pernah dimainkan di tempat yang sama yakni LIP, pada 11 Januari 2011. Karyanya saat ini merupakan hasil penggodokannya selama dua setengah tahun sejak saat itu.

“Yah, setidaknya aku ingin lagu-lagu ini layak untuk di dengar” ujar Frau dalam konferensi pers. Lagu ketujuh terinspirasi dari zaman SD dan SMP saat ia masih kerap membuat ibunya khawtir sampai membuat surat untuknya, dan lagu ini berjudul “Suspens”.

Tak terasa satu jam berlalu sudah, Frau pun memainkan lagu kedelapan dan terakhir yang berjudul “Arah”. Lagu syahdu ini benar benar membuai penonton semakin terhanyut hipnotis Frau. Seperti yang  sudah dituliskan di depan, penonton benar-benar tersihir hingga enggan beranjak dari tempat duduknya. Bahkan setelah acara ditutup dengan penghormatan kepada penonton, penonton masih duduk nyaman di di bangku mereka.

Lighting-nya, penampilannya, keren banget….konser yang paling keren,” ujar Uzi yang juga menyaksikan konser peluncuran album Frau itu. (Warn!ng/Bahar Rabbani)

Gigs documentation here !->Konser Frau “Happy Coda”

 

Event by: Kongsi Jahat Syndicate
Date: 28-29 Agustus 2013
Venue : Auditorium IFI-LIP Yogyakarta
Man of The Match: Persenyawaan tata panggung, lighting, konsep, beserta musik yang mampu menyihir audiens.
Warn!ng Level: ••••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response