close

Dorong Perubahan Sosial, 7 Musisi Deklarasi “Saksi Nada”

Saksinada (9)

 

Saksinada
Saksinada

Terhubung oleh kepedulian terhadap isu-isu sosial politik, tujuh musisi dari empat kota mengelompokkan diri dalam Saksi Nada. Minggu (18/4) kemarin, bertempat di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, kolektif ini melakukan deklarasi. Saat ini, musisi yang tergabung dalam Saksi Nada antara lain adala Sisir Tanah, Dendang Kampungan, Agoni (Yogyakarta), Iksan Skuter (Malang), Deugalih (Bandung) dan dua anak sastrawan Wiji Thukul, Fajar Merah dan Fitri Nganti Wani (Solo). Mereka juga diperkuat oleh Antitank, seniman visual yang selama ini kerap melakukan aksi protesnya lewat mural.

Saksi Nada sendiri dimaksudkan menjadi kolektif seniman yang bertujuan menjadikan seni, khususnya musik, sebagai media penyadaran publik dan mendorong perubahan sosial. “Di sini kami harap musik menemukan ruang untuk bekerja secara lebih manusiawi,” jelas Bagus Dwi Danto (Sisir Tanah) selaku penggagas kolektif ini. “Lewat musik ini kami ingin agar tujuan baik punya langkah yang lebih konkret,” tambahnya.

Saksinada
Antitank
Saksinada
Sisir Tanah

Para musisi yang tergabung dalam Saksi Nada ini dulunya bertemu di panggung-panggung aksi seperti gerakan tani di Kulonprogo dan acara bermuatan sosial politik lain. Lewat liriknya, mereka ingin memotret realitas dan konflik di masyarakat seperti ketimpangan ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, karut marut politik hingga kebubudayaan di Indonesia. Di Yogyakarta sendiri misalnya, konflik agraria, ruang publik, pertahanan, air sampai intoleransi semakin bertambah. “Kami disini ingin memanfaatkan kemampuan estetika pribadi, baik desain maupun musik yang adalah instrumen penting untuk menyuarakan perubahan,” terang Andrew Lumban Gaol (Antitank).

Kolektif ini juga muncul sebagai respon atas maraknya aksi pelanggaran kebebasan berekspresi di Yogyakarta. “Mungkin ini bisa jadi sample di daerah lain untuk melakukan hal yang sama, kita (seniman) tidak lagi jalan secara sporadis sendiri-sendiri, tapi sudah dalam satu ikatan. Kalau kita sebagai individu-individu melawan ormas-ormas fasis, ya capek juga. Tapi kalau bergerak dalam kelompok mungkin bisa jadi pertimbangan buat mereka,” jelas Andrew.

AJI dipilih sebagai ruang untuk deklarasi ini juga untuk menunjukkan bahwa Saksi Nada para pewarta ini punya semangat yang sama. Anang Zakaria, ketua AJI Yogyakarta menegaskan bahwa kerja mengawal demokrasi tak bisa dilakukan sendirian, “harus ada dukungan berbagai pihak, termasuk publik itu sendiri,” katanya.

Iksan Skuter
Iksan Skuter

Pada deklarasi yang dihadiri oleh seniman, jurnalis dan berbagai aktivis tersebut, tampil pula Agoni dan Iksan Skuter. Iksan Skuter sempat membawakan sebuah lagu berjudul “Kakek dan Cucu” yang ia tulis dari tragedi pembunuhan Salim Kancil September 2015 lalu.

Deugalih juga menambahkan bahwa Saksi Nada bukanlah kelompok eksklusif. Artinya Saksi Nada sangat terbuka untuk seniman-seniman lain yang punya semangat sama dengan mereka untuk melakukan kerja kolaborasi. Walaupun mengaku masih mencari bentuk yang tepat, semangat dan karya para seniman yang tergabung sangat berpotensi untuk membuat sebuah aksi yang berarti. [WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response