close

[Album Review] Sarasvati – Sunyaruri

sarasvati – sunyaruri

 sarasvati - sunyaruri

Omuniuum / BatCave Studio

Watchful Shot:  Larung Hara Senandung Hujan

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Dari ruang di mana wujud sudah bukan menjadi masalah, Risa Saraswati menemukan banyak kisah. Sudah tiga buku dan tiga EP yang menjadi artefak pertemanan Risa dan teman-temannya itu. Sampai kemudian sunyi itu datang ketika mereka tidak lagi muncul setiap malam. Maka Sunyaruri adalah rangkuman dari sunyi yang menyadarkan Risa bahwa kita tidak pernah benar-benar bersama, tapi juga tidak pernah benar-benar sendiri.

Setelah buku Danur menemani Story of Peter dan Maddah yang diluncurkan bersama Mirror, Risa dan Sarasvati kembali merilis package buku dan CD, kali ini berjudul Sunyaruri. Dunia sunyi yang ditemukan Risa setelah ditinggal pergi geng kecilnya yang dulu memenuhi lirik-lirik lagu di Story of Peter. Kesunyian atau kesepian ini kemudian diterjemahkan Risa ke larik-larik kata yang kemudian digarap oleh Sarasvati.

Masih seperti karya-karya sebelumnya, kisahnya juga adalah milik mereka yang bercerita kepada Risa dari dimensi yang tidak lagi mempunyai bayang-bayang. Tidak ada yang sangat baru kecuali bunyi-bunyi alat musik bersenar yang menjadi lebih dominan, serta vokal Risa yang terkesan lebih berat. Rangkaian Sunyaruri  dibuka dengan dua menit yang tidak disertakan di daftar lagu yang tertera, Risa mendendangkan lagu favorit Peter – teman kecilnya – diiringi humming dan denting piano yang cukup horor. Kemudian Sunyaruri”, yang menjadi inti karya ini, menyuara.

Sarasvati rupanya mencoba mengikuti jejak beberapa band lain yang memasukkan unsur keroncong  melalui nomor kedua, Senandung Hujan”. Di lagu yang mengisahkan hantu perempuan yang dibunuh setelah diperkosa ini, tiupan flute dan genjrengan cuk membawa suasana ke sebuah orkes keroncong yang lawas dan legit. Lalu jika di Mirror dulu Risa menggandeng Cholil Mahmud untuk berduet, kali ini giliran vokal serak Ink Rosemary yang menggenapi lagu Cerita Kertas dan Pena”.

Mungkin resep untuk bisa benar-benar menikmati EP ini adalah dengan sekaligus membaca bukunya.  Dengan begitu, rasa perih dan segala kisah tragis yang diceritakan lengkap di buku bisa tersampaikan dengan baik saat mendengarkan melodi gitar dan lengking biola yang cukup perih, seperti saat Larung Hara diputar. Pulang lalu menjadi penyelesaian dari karya yang kata Risa adalah cerita terakhir tentang teman-temannya ini. Suara tawa riang beberapa anak kecil disisipkan di akhir lagu, seolah Risa berusaha membuat perpisahan ini tidak menyedihkan. Namun sayangnya hal ini tidak menjadi begitu menarik karena baru saja Tigapagi sudah melakukan hal serupa di Roekmana’s Repertoire-nya. [WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.