close

[Book Review] Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia

Sarinah

 

 


Penulis: Ir. Sukarno
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Pressindo
Jumlah Halaman: 361
Tahun Terbit: 2014

Hampir di dalam segala hal, soal perempuan selalu dinomorduakan. Menikah lalu memiliki momongan dan menjadi ibu rumah tangga yang terkurung dalam rumah untuk mengurus segala tetek bengek tentang urusan keluarga mulai dari menyiapkan sarapan hingga mengurus anak seolah telah melekat dalam kodrat seorang perempuan yang baik. Bahkan ada anggapan bahwasanya seorang perempuan tidaklah perlu untuk menempuh dan mengenyam pendidikan yang terlampau tinggi, toh pada akhirnya takdir akan menempatkannya untuk berdiam diri di dalam rumah, menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik. Benarkah anggapan demikian masih bertahan hingga kini, bahkan di dalam suatu pemikiran kaum-kaum intelektual? Benarkah tak ada sedikitpun yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk ikut serta berperan dalam sebuah pergerakan yang masif?

Bung Karno dalam Sarinah: Kewajiban Perempuan Dalam Perjuangan Republik Indonesia menentang keras pendapat-pendapat yang merendahkan derajat seorang perempuan. Bahwasanya baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kedudukan dan kesempatan yang sama dalam segala hal, termasuk menjadi pemimpin atau mengenyam pendidikan tinggi. “Tidak akan ada sebuah pergerakan yang revolusioner tanpa adanya wanita-wanita yang revolusioner. Serta tidak akan ada wanita-wanita yang revolusiner tanpa adanya pedoman-pedoman yang revolusioner”.

Kata-kata seorang Bung Besar ini semakin mempertegas bahwa peran wanita sangatlah menentukan pergerakan sebuah bangsa di segala aspek. Beliau memang tidak setuju dengan gerakan feminisme di dunia Barat yang terlampau batas, tetapi beliau sangat menginginkan adanya kesetaraan, adanya persamaan, adanya keadilan terutama bagi perempuan yang ingin berjuang dan persamaan di bidang politik adalah salah satu fokusan yang harus dicapai. Sebuah impian yang kini mulai terwujud dengan mulai banyaknya kaum perempuan Indonesia yang duduk di kursi-kursi strategis dan turut serta menentukan arah kebijakan publik. Dengan begitu, wanita revolusioner akan terus lahir dan berkembang dengan berapi-api.

Lalu, siapa sosok Sarinah yang ditulis oleh Bung Karno ini? Coba kita mundur sejenak pada setahun silam. Hari Selasa, 14 Januari 2016 silam sekitar pukul 11.00 WIB terjadi peristiwa yang menggemparkan seantero nusantara. Jakarta yang merupakan Ibukota sekaligus sebagai pusat pemerintahan Indonesia menjadi target serangan teroris. Serangkaian ledakan diikuti baku tembak terjadi di kawasan pusat perbelanjaan Sarinah, Jl MH Thamrin yang mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban jiwa baik dari pihak penduduk sipil maupun pelaku terorisme sendiri.

Namun kali ini kita tidak akan membahas bagaimana aksi terorisme yang mana pihak ISIS dan NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) menjadi dalangnya tersebut dilancarkan. Dalam tulisan ini sorotan utama tertuju pada latar tempat di mana aksi terorisme tersebut dilakukan yaitu Gedung Sarinah. Banyak orang terutama generasi masa kini pasti berkerut dahinya apabila mengetahui bahwasanya Gedung Sarinah merupakan pusat perbelanjaan di Jakarta. Mengapa pusat perbelanjaan di kota se-elite Jakarta bernama Sarinah? Bukankah nama pusat perbelanjaan atau toko-toko besar selalu mengandung nama modern? Sedangkan nama Sarinah rasanya tidak cukup modern untuk sebuah pusat perbelanjaan. Siapakah Sarinah? Dan mengapa Sarinah?

Gedung Sarinah adalah pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1963 dan diresmikan pada tahun 1967 oleh Presiden Sukarno. Sarinah adalah pusat perbelanjaan pertama di Indonesia dan juga pencakar langit pertama di Jakarta. Nama Sarinah berasal dari nama pengasuh Sukarno pada masa kecil dan pertama digagas oleh Sukarno sendiri, menyusul lawatannya ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Hal ini juga dimaksudkan Sukarno untuk membuat pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus.

“Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih, Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” ujar Bung Karno, dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Ketika mendengar penuturan Sukarno lewat otobiografinya, maka dapat disimpulkan begitu besar peranan Mbok Sarinah dalam perjalanan hidup Bapak Plokamator ini.

Walaupun hanya berstatus sebagai seorang pengasuh, Mbok Sarinah-lah yang pertama kali mengenalkan kehidupan kaum bawah kepada Sukarno. Dari pengenalan itulah pada akhirnya segala konsepsi yang ditelurkan dari segala pemikiran Sukarno tidak pernah jauh dari keadaan rakyat jelata, termasuk konsep marhaenisme yang beliau bawa di tahun 1933. Padahal bila kita tengok ke belakang, tidak sedikit wanita yang cukup berperan dalam lingkaran kehidupan Sukarno, dari sang ibunda sendiri Ida Ayu Nyoman Rai, hingga kesembilan istrinya dari Utari Cokroaminoto hingga Heldy Jafar.

Namun uniknya sangat jarang kita temui nama-nama gedung atau mahakarya yang dituliskan Sukarno sendiri dalam bentuk naskah pidato dan buku tidak sekalipun menggunakan nama wanita-wanita yang telah disebutkan di atas. Justru Sarinah, seorang pengasuh dan sebenarnya tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Bung Besar nyatanya memiliki tempat istimewa di hati Sukarno. Bukti paling kentara nama Sarinah diabadikan sebagai nama gedung prestisius di zamannya dan dalam bentuk yang lain nama Sarinah diabadikan sebagai judul sebuah buku, Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia yang berisi tentang pemikiran-pemikiran Sukarno dalam pergerakan perempuan Indonesia untuk turut serta membangun bangsa.

Pendek kata, nama Sarinah begitu lekat di benak Sukarno. Pembangunan Gedung Sarinah ini bertujuan menjadi simulator, mediator dan alat distribusi ke masyarakat luas dan menjalankan fungsi sebagai stabilisator ekonomi, pelopor dalam pengembangan usaha perdagangan eceran (ritel) serta berpartisipasi dalam perubahan struktur perekonomian Indonesia. Apalagi saat gedung ini dibangun, kondisi perekonomian di Indonesia sedang menurun. Dengan menjadikan Gedung Sarinah sebagai pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan industri rakyat, diharapkan mampu mendongkrak laju perekonomian.

Banyak yang berpendapat bahwa proyek Gedung Sarinah ini hanya menjadi program gagah-gagahan saja untuk mewujudkan impian Sukarno untuk menjadikan Indonesia sebagai mercusuar dunia. Apalagi proyek ini bersamaan dengan pembangunan proyek prestisius lainnya, Gelora Bung Karno yang jelas tidak sedikit dana yang digunakan. Padahal saat itu perekonomian Indonesia sedang buruk-buruknya.

Namun, Bung Karno tetap pada pendiriannya. Baginya mega proyek ini nantinya akan menjadi suatu simbol kebanggaan bagi rakyat Indonesia, selain fungsi pembangunannya itu sendiri. Beliau menilai kelak Indonesia tidak lagi dipandang sebagai bangsa yang terjajah, tidak lagi menjadi bangsa yang cuma ikut-ikutan dan tunduk saja, melainkan menjadi sebuah lambang supremasi baru bahwa negara dunia ketiga juga bisa menancapkan taringnya dan sejajar di antara negara-negara super power yang ada.

Buku ini mengulas tuntas bagaimana sejarah pergerakan dan kedudukan wanita secara umum di segala belahan dunia, mulai zaman batu hingga masa modern seperti sekarang ini. Selain itu dibahas juga mengenai sistem matriarchat dan patriarchat yang mempengaruhi kedudukan pria dan wanita serta beberapa kebudayaan bangsa-bangsa di seluruh dunia yang masih menganut sistem matriarki atau patriarki secara spesifik. Dengan mengetahui ide, pemikiran serta pola pergerakan wanita yang dituliskan oleh Bung Karno ini, diharapkan ke depannya Ibu Pertiwi selalu mampu untuk melahirkan generasi-generasi kaum hawa yang tangguh. [Mario Muhammad/Kontributor]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response