close

[Album Review] Savages – Silence Yourself

savages-silence yourself

Review overview

WARNING LEVEL 8.9

Summary

8.9 Score

Label: Matador/Pop Noir

Watchful Shots: “Shut Up”, “Citi’s Full”, “Hit Me”

Rating: 8,9/10

Sebagaimana produk kesenian yang monumental, album perdana Savages yang bertajuk Silence Yourself (2013) adalah testamen dari berakhirnya suatu era. “The world used to be silent,” tulis mereka di sampul album. Dunia pernah begitu senyap. Jauh sebelum teknologi informasi, dan demokrasi. Sebelum kesenian, apalagi peradaban. Sebelum musik, terlebih suara.

Dekade kedua milenium ini, kita harus kembali belajar lagi cara bicara, dan mendengar. Teknologi informasi mempermudah dan juga sekaligus mempersulit cara kita memahami satu sama lain sebagai spesies. Kita semua menjelma cerdikiawan. Avatar adalah aktualisasi. Tiktok jadi kanal revolusi. Konser sekadar untuk pamer story. Selera musik pun hanya persoalan algoritma ‘discover weekly’.

Kita sebagai spesies seolah-olah mengulang kembali proses belajarnya. Hal itu terjadi tiap ada ‘teknologi informasi’ yang mengubah cara kita berkomunikasi secara drastis, mulai dari yang paling dasar seperti bahasa dan tulisan, sampai yang lebih modern seperti telepon dan juga internet. Pro-kontra mengenai Wikipedia dan Google hanya mengulang polemik Plato terkait tulisan bahwa adanya format eksternal pemindahan informasi hanya membuat manusia malas berpikir.

Aktivitas bersuara dan sekaligus mendengar jadi sangat politis. Walaupun dunia riuh suara, tidak semua orang dapat bersuara. Walaupun ada banyak suara, tidak semua suara bisa didengar. Ketidaktahuan adalah berkat. Diam digadai bak emas. ‘Suara’ mana yang kita dengar jadi sangat krusial.

Silence Yourself bermakna apa adanya, diam lah! “Shut Up” jadi lagu pembuka dengan sampel dialog film John Cassavetes Opening Night (1977) tentang usia, “How old are you, really?” Secara kategorial, orang saling meremehkan satu sama lain, anak muda tidak boleh tahu masalah orang tua, perempuan tidak bisa ikut campur urusan laki-laki, orang ini tidak bisa itu. Savages berbicara dengan konteks film Cassavetes yang bercerita tentang perjuangan seorang perempuan untuk hidup dengan caranya sendiri, tanpa kompromi.

Kuartet Jehnny Beth (vokal), Gemma Thompson (gitar), Ayse Hassan (bass), dan Fay Milton (drum) membawa gelora punk yang zeitgeist. Tidak saja dalam payung estetika ‘post-punk’ yang mengandalkan elemen-elemen gebukan keras drum tom, bass yang funky, dan raungan gitar dengan feedback mengiris telinga, tetapi kesadarannya mengenai pemberdayaan diri.

Musik punk lahir dari resistensi kekuasaan yang menindas. Mulai dari Sex Pistols sampai Green Day menjadi oposisi politik elite yang dianggap menjalankan kekuasaannya secara semena-mena. Upaya perlawanan terhadap sistem penindas itu dirayakan sambil memainkan musik yang menolak standar-standar populer. Kurang-lebih punk adalah persoalan mentalitet menjadi diri sendiri.

Perlawanan punk lebih pasti, karena sistem penindas itu yang pasti adalah pemerintah, partai politik, dan oligarki. Perlawanan ‘post-punk’ jadi lebih rumit, karena mengikuti perkembangan wacana yang semakin lentur dalam mendefinisikan siapa penindas, dan mana yang ditindas. Mirip-mirip perbincangan kita tentang aktivis ’98 yang lebih mudah berjuang karena menghadapi musuh yang sama, yaitu rezim Orde Baru, dan aktivis Reformasi yang sulit bergerak karena dihadapkan dengan beragam permasalahan yang muncul dari berbagai arah.

Savages mengadu punk dengan permasalahan eksistensi diri, dan komunikasi sebagai basis pengalaman komunal. Punk berusaha hadir menghindarkan kita dari distopia saat kemanusiaan hanya persoalan perkembangan zaman. Silence Yourself jadi semacam panggilan penyadaran.

Kembali ke nomor “Shut Up”. Berangkat dari konteks sampel Opening Night tadi, pendengar dihadapkan dengan chorus, “And if you tell me to shut up / I would tell you to shut it / Did you tell me to shut up? / Oh if you tell me to shut it / I’ll shut it now.” Ada jukstaposisi menarik dalam chorus ini. Jika kita harus selalu melawan, direpresentasikan dengan keengganan untuk diam, mengapa di akhir kita harus menyerah dan memilih diam?

Ada berbagai cara untuk memaknainya. Punk tidak berhenti pada individualitas, karena individualitas bisa berujung pada egoisme. Ego yang berlebih dapat beralih rupa jadi kekuasaan yang menindas. Di saat dunia begitu ribut, tindakan diam dan mendengarkan bisa jadi sebuah pemberdayaan.

Diam berarti mempersilahkan pihak lain berbicara untuk membangun pemahaman satu sama lain; diam sebagai aktivitas menarik diri dari kekuasaan. Dalam suatu dialog, diam bukan berarti menyerah, karena tidak perlu ada yang menang ataupun kalah.

Savages dengan sadar menempatkan musik mereka sebagai suatu tuntutan. Musisi yang bersuara saat pendengarnya diam, dan mendengarkan. Namun, bukankah itu relasi kuasa yang diciptakan tiap peristiwa kesenian? Panggung, dan sorot lampu menuntut perhatian kita. Pigura memisahkan mana yang berharga mana yang tidak.

Sebagaimana tertulis di manifestonya, Savages memposisikan diri mereka sebagai suara penegasan diri untuk membantu pendengarnya mengalami secara berbeda ruang-ruang yang biasanya diisi oleh musik, termasuk ruang-ruang privat.

Lagu “City’s Full” bercerita tentang kota yang berisi banyak gadis cantik. Lebih dari apa yang tampak, ia bercerita tentang kejujuran terhadap perasaan suka yang datang dari dalam diri. Lagu “Hit Me” bercerita dari sudut pandang bintang porno Belladonna yang mendapatkan kepuasan seksual dari tindakan kekerasan. Savages ingin bilang bahwa persoalan hasrat ada pada sisi lain dari koin yang sama dengan cinta. Jika kita bisa jujur yadengan perasaan cinta, kita juga bisa jujur dengan dorongan hasrat seksual yang datang dari dalam diri.

Lagu-lagu Savages tidak terdengar klise seperti lagu-lagu arus utama yang berbicara tentang cinta maupun hasrat. Apa yang disajikan musik arus utama sering kali hanyalah hal-hal yang manis, sugar coating pengalaman hidup. Lagu-lagu tersebut tidak berasa otentik, karena hidup memang tak semanis itu. Masyarakat tidak serta-merta menerima setiap bentuk cinta dan hasrat, karena mereka memiliki standar nilai dan norma. Seseorang bisa diperkusi hanya karena mencintai seseorang.

Dunia memang tidak sepenuhnya sunyi sebelum suara. Akan selalu ada solilokui dalam kepala kita sendiri yang berdebat tentang apa pun itu. Kerisauan akut jadi masalah yang jamak menuju era industri 4.0 seperti sekarang. Savages menemani kita untuk berdamai dengan perangai primitif manusiawi yang tidak saja melulu ego dan benci, tetapi juga cinta dan hasrat.

[Devananta Rafiq]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.