close

Sebuah Penyegaran Dibalik Agenda Busuk

LKTDOV Rotten Agenda
Rotten Agenda

Setelah beberapa waktu yang lalu  Rotten Agenda #3 diadakan dengan mencomot beberapa band luar negeri yang bermain dalam Obscene Extreme Asia, seperti Sarjan Hassan dan Touched By Nausea, kali ini Rotten Agenda #4 diadakan dengan mencomot band neo-crust/grindcore asal Malaysia, Osmantikos, yang sedang mengadakan turnya di Indonesia.

Gigs yang diadakan pada  25 Oktober 2013 di halaman parkir Slackers ini,  diisi oleh beberapa supporting act lokal seperti Last Kiss To Die Of Visceroth, Wound, Realino Resort dan Headkrusher yang menggantikan Executed dari Jakarta yang berhalangan hadir.

Tradisi gigs lokal kita tentang jam karet masih tidak bisa dipungkiri. Acara yang pada seharusnya dimulai pada pukul 7 ini, baru dimulai pukul 8 yang dibuka dengan penampilan Last Kiss To Die Of Visceroth. Band yang dipimpin oleh Indra Menus ini  memulai acara dengan post-rock/skramz/hardcore ala Envy. Pada gigs kali ini, mereka memperkenalkan drummer baru mereka, Rahmat, yang juga bermain di Energy Nuclear. Namun sayang, karena mungkin persiapan yang kurang matang, saya merasakan instrumen yang digunakan agak out of tune. Tapi overall, penampilan mereka cukup teratasi oleh jeritan Indra yang terasa penuh dengan “kegalauan” ala musik skramz.

Kini giliran Wound mengokupasi panggung. Dibuka dengan track yang berasal dari album perdana mereka Trashwork, “Wounded Age”. Di tengah penampilan, gitaris dan bassis mereka, Koi dan Gary, saling tukar instrumen. Satu nomor dari NOFX pun dibawakan. “Murder the government, murder the government!” teriak Yudha. Beberapa kali terlihat Yudha kewalahan mengikuti irama drum yang dimainkan Justiawan, yang juga bermain gitar di Last Kiss To Die Of Visceroth, karena dimainkan dengan tempo yang lebih cepat daripada seharusnya. Namun, sangat menyegarkan sekali dapat melihat salah satu band pewaris Hardcore Punk/Thrashcore/Power Violence dari Mortal Combat ini. Sebuah musik hardcore punk sejati yang cepat, liar dan bising sukses mereka suguhkan.

Penampi berikutnya adalah  Blackened Thrash asal Yogyakarta, Headkrusher. Mereka baru melakukan sebuah performa di Malaysia beberapa bulan lalu sekaligus merilis 7” vinyl oleh label Gempita Record. Di penampilan kali ini mereka hanya tampil bertiga, minus sang gitaris Rico yang berhalangan hadir. Namun, hanya dengan formasi 3 orang pun tidak mengurangi kualitas performa mereka. Setelah penampilan Headkrusher yang lumayan membuka “gerbang” untuk penonton menjejali moshpit, tampillah Realino Resort. Band yang baru saja melakukan performa di gigs Lelagu dalam format akustik beberapa waktu lalu ini pun menghajar tanpa ampun kali ini. Terlihat beberapa penonton mulai melakukan pogo dan membuka area moshpit.

Dan penampil terakhir, Osmantikos, mulai prepare setelah Realino Resort menyelesaikan penampilan mereka.

Puas dengan Realino Resort, kini saatnya tamu dari Malaysia, Osmantikos menduduki panggung.  Perlu diketahui bahwa tur dari band yang digawangi Borhan pada gitar, Ahmad Izani pada bassis dan vokal, serta Yusth pada drum dan vokal di beberapa kota di Indonesia ini adalah dalam rangka mempromosikan rilisan tape Dare To Rise Java Tour 2013. Sebuah rilisan  yang merupakan  kumpulan lagu dari beberapa diskografi mereka. Dibuka dengan track “Security Society” yang dicomot dari rilisan EP mereka pada tahun 2006, “Burn All The Order!”. Dan disusul lagu baru mereka yang hanya ada di rilisan tape terbaru mereka, “Broken Dreams”.

Musik yang mereka mainkan sangat cepat dan keras. Ditambah dengan penguasaan mereka dalam hal sounding yang membuat seluruh venue berasa sangat bising sekali. Borhan, sang gitaris pun berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada panitia dan penonton di venue. Dilanjutkan dengan beberapa track “Complacency Is Dead!”, “Eternal Patriarchy”, “Dare To Rise”, “Am I Dead Yet?”, “Real Life Exploitation”. Penonton pun mulai melakukan pogo, headbang yang juga memperlebar area moshpit. Pada akhir performa mereka, para penonton pun meminta encore. Dibawakanlah satu nomor cover song dari Tragedy yang sekaligus menjadi penutup agenda busuk malam ini.

Overall, gigs Rotten Agenda bisa disebut sebagai alternatif atau pelarian dalam skena musik bawah tanah, terutama pada musik hardcore, yang dimana mulai terlihat monoton dan membosankan dengan musik yang memainkan beat dan riff gitar yang hampir sama pada setiap band. Adanya penampil dari band-band hardcore punk/emotive hardcore macam Wound dan Last Kiss To Die Of Visceroth sampai pada blackened thrash metal ala Headkrusher merupakan sebuah penyegaran di skena bawah tanah local

Review dikirim oleh @IMadeDharmaAK

Venue : Slackers

Date : 25 Oktober 2013

Man of the match : Subtitusi instrument oleh gitaris dan bassis Wound 

Osmantikos © Mindblasting
Osmantikos © Mindblasting
LKTDOV © Mindblasting
LKTDOV © Mindblasting
Headkrusher © Mindblasting
Headkrusher © Mindblasting
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response