close

Seni Menikmati Kafe di ASCOS

live music

D.I Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang kental akan aroma kebudayaan dan tradisi Jawa menjadi titik tujuan yang menarik wisatawan asing maupun domestik.  Selain itu kota Yogyakarta yang lebih dulu terkenal sebagai  “kota pelajar”, sudah barang tentu berisikan para akademisi dan seniman dari suku dan latar budaya yang berbeda. Periuk kota Yogyakarta sebagai latar bertemunya para perantau dari lintas pulau bahkan negara tak bisa lepas dari hiruk pikuk dunia kafe dan warung kopi. Bahkan, kafe dan warung kopi di sepanjang Yogyakarta, Bantul dan Sleman menjadi wahana paling populer bagi para perantau melangsungkan pertemuan, ajang nongkrong sampai pada ladang apresiasi kesenian.

Untuk yang terakhir itu, kedekatan kafe dengan kesenian bisa dilirik lewat keseriusan pengelola kafe dalam menghadirkan eventnya. Asmara Art and Coffee Shop atau orang fasih menyebutnya ASCOS merupakan sebuah kafe yang terletak  di Jalan Tirtodipuran no. 22, lokasinya dekat dengan persimpangan Prawirotaman, sebagaimana diketahui cukup strategis untuk melunasi dahaga wisatawan asing dalam menikmati suasana malam di Yogyakarta.

ASCOS lebih lagi, bukan sekadar kafe atau restoran, kedekatan ASCOS dengan dunia kesenian menciptakan ruang alternatif untuk menikmati kesenian, mengolah mekanisme apresiasi dari seniman kepada khalayak yang lebih luas. Program reguler seperti penampilan musik yang disusun sedemikian rupa sesuai genre atau gagrak tertentu semisal penampilan musik beraliran classic rock, blues, reggeae dan acara bertajuk “tribute”.  ASCOS juga kerap menggelar beberapa event dalam semangat kerja bersama para musisi pada helatan “tour”, belum lama Isabella Ramaekers, Monohero, Brooklyn Gypsies dan Sarah n’ Soul sukses melunaskan tournya di ASCOS. Nampak jelas pula posisi ASCOS dalam dunia musik indie sebagai media unjuk kreativitas para musisi-musisi tak hanya di lingkup regional melainkan nasional.

Dendang untuk Rembang

Hal lain lagi dari keakraban ASCOS dan kesenian tergambar dalam beberapa ajang pameran seni rupa. Seniman hadir sebagai inisiator, sementara ASCOS menampakkan diri menjadi ruang pameran. Tak heran jika di dalam ASCOS kerap ditemui karya gambar dengan pigura yang terpampang pada muka tembok lengkap dengan “caption” yang menyertainya. Apa yang terjadi di ASCOS kaitannya dengan dunia seni rupa adalah pameran-pameran yang digelar secara langsung menghapus batas pengunjung kafe dengan dunia seni, membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam menikmati lukisan atau artwork.

Dari berbagai gelaran yang pernah diadakan di ASCOS, ada yang begitu berbekas, atau boleh dibilang memiliki sisi “monumental” yang kental. Tersebutlah gelaran seperti pamenran seni grafis “The Printerman” diorganisir oleh komunitas Steak Daging Kacang Ijo sekaligus mengenang almarhum S Teddy D yang banyak memberi pengaruh atas kehadiran Raw Art. Dalam ruang yang relatif kecil dipajang karya para seniman kontemporer kenamaan seperti Ugo Untoro, Bob Sick, Yustoni Volunteero, Iwan Wijono dll. Bahkan pameran ini dibuka oleh tokoh akademisi seni Prof. Agus Burhan, Rektor ISI Yogyakarta.

ASCOS juga turut dalam semangat kepedulian sosial,hal ini dibuktikan dengan kesadaran menciptakan panggung pertunjukan seperti Tribute Salim Kancil, Solidaritas Petani Kulonprogo, Dendang Untuk Rembang hingga Art for Orangutan. Kesediaan ASCOS menciptakan ruang bertajuk aktivisme semacam ini menjadi pembeda dari kafe-kafe lain di Yogyakarta yang cenderung perlu dua-tiga pertimbangan yang mengulur waktu. Selain aktivisme, kedekatan ASCOS dengan kesenian juga membawa mereka pada perjumpaan dengan wilayah kreatif urban, sebut saja skena musik arus tepi seperti hip-hop atau street art layaknya grafiti yang menggebu di Yogyakarta.

Crowd
Pameran Riuh – Bodhi IA

Pengunjung ASCOS pun bervariatif, dari wisatawan domestik sampai turis asing. Jadi hal lumrah apabila banyak seniman atau para pegiat seni kerap hadir di ASCOS sebagai pengunjung kafe laiknya para pengunjung yang lain. Buah manis dari kekaraban ASCOS dengan dunia seni menjadikan kafe tersebut sebagai ladang obrolan yang lebih intim antar seniman. Pengunjung juga merasakan hal yang sama berkat penataan main stage dan meja pengunjung yang diatur sedemikian rupa seolah mengaburkan batas hingga bisa melebur dalam medan keakraban.

Bagaimanapun ASCOS adalah sebuah kafe di mana makanan dan minuman menjadi perhatian utama pengelola. Jangan khawatir tentang kulaitas makanan dan minuman, di kafe yang buka dari pukul 18.00 sampai 23.00  para pengunjung akan ditawarkan menu dengan berjubel  pilihan. Ada juga menu rekomendasi, selain beer dan kopi yang menghangatkan, salah satu menu andalan berupa olahan mie Alamie yang diramu dengan bahan-bahan terbaik tentunya dengan semangat hygienity yang terjaga kualitasnya.

Tribute to S Teddy D

Dengan berbagai alasan di atas yang sudah tentu jelas akar dan asalnya, Asmara Art and Coffee Shop (ASCOS)  adalah kafe yang layak dikunjungi oleh mereka yang menginginkan suasana Yogyakarta yang populer dengan kreativitas, aktivisme dan tentu saja keberagaman. (Galih Fajar)

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.