close

Senja Banda Neira di Jogjakarta

IMG_8441

 

Banda Neira © Warningmagz
Banda Neira © Warningmagz

“Bersepeda sepulang kerja, kenyang hirup asap transjogja, klakson kanan kiri berbalasan wohoo.. Senja di Jogjakarta..” dan penonton riuh menyambut rubahan spontan lagu “Senja di Jakarta” ini. Sekali lagi, Banda Neira berhasil mengambil hati penonton Jogjakarta.

Ketika tayangan kitsch di televisi Indonesia sudah bukan menjadi rujukan untuk hiburan, maka lebih baik datang menyaksikan konser bukan ? “Rhytm of Cristism”, menjadi tajuk konser StompOut yang digelar di Purna Budaya UGM tahun ini. Sabtu (15/04), sekitar 1000 kepala terduduk santai menikmati penampilan lima nama yang bertugas berbagi bahagia malam itu.

Duduk-duduk manis, sepertinya sudah menjadi kebiasaan saat menikmati suguhan musik folk dimanapun. Maka seperti itulah penonton StompOut malam itu. Genre folk yang mendominasi line up membuat mood syahdu sudah meruang bahkan sejak penampilan pertama. Archiblues yang musiknya yang cukup menghentak bahkan hanya disambut dengan tepuk tangan saja. Boarding Room kemudian berhasil membuat penonton cukup riuh dengan 4 nomor yang mereka bawakan.

Tiupan harmonika Irfan, sang vokalis di “Sajak Perpisahan” membuka penampilan apik dari Jalan Pulang. Membawakan 7 nomor dari album baru mereka, Jalan Pulang menghanyutkan penonton dalam lagu-lagu mereka yang puitis dan indah. “Di Kota” menyuara sebelum “Lelah” yang bernuansa shoegaze meningkatkan level syahdu malam itu. Nomor “Jalan Pulang” kemudian dimainkan untuk menutup penampilan unit yang dulunya berformat duo ini.

Jeda sesaat setelah itu, dan mood ceria yang dibawa Jalan Pulang berubah jadi gloomy. Rabu mendapat giliran mengokupasi panggung. Album Renjana mungkin sudah ada di playlist anda, tapi menyaksikan mereka mewujudkannya secara live adalah kesempatan berharga. Dalam siluet, Wednes dan Judha memainkan nada-nada magisnya. “Dru” yang merupakan nomor nirvokal dimainkan pertama. Lalu suara berat Wednes menyuara di nomor “Semayam”. Tampil tanpa banyak gimmick, lagu lain seperti “Dalam Tidur”, “Baung”, “Lingkar” dan “Kereta Terakhir” berhasil membuat penonton terpukau.

Titik kesyahduan memuncak ketika duo yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul ke stage. “Jogja memang selalu manis”, sapa Ananda Badudu sebelum memainkan nomor “Di Atas Kapal Kertas”. Humming manis dari Rara Sekar langsung disambut sing along antusias dari penonton. Membawakan 9 nomor, Banda Neira memanjakan penggemar mereka. Ibukota Jakarta bahkan harus tergusur ketika tiba-tiba judul dan lirik lagu mereka diubah menjadi “Senja di Jogjakarta”. Riuh sing along juga terdengar sepanjang “Di Beranda”, “Rindu” dan “Berjalan Lebih Jauh” dimainkan.

Seperti Jogja yang selalu spesial di mata Banda Neira, malam itu Banda Neira juga spesial di mata penonton. Gardika Gigih, composer yang sedang mengerjakan project bersama Ananda Badudu dan Rara Sekar ini dipanggil ke panggung untuk ikut memainkan pianikanya di nomor “Esok Pasti Jumpa” dan “Hujan di Mimpi”. Tidak hanya itu, penonton juga mendapat bocoran dua lagu baru. “Matahari Pagi” yang tercipta dari perjalanan naik gunung mereka dan “Derai-Derai Cemara” yang merupakan musikalisasi puisi Chairil Anwar. Musikalisasi puisi ini sekaligus menutup penampilan mereka. Perasaan bahagia bercampur penasaran album baru Banda Neira adalah hasilnya.

Banda Neira © Warningmagz
Banda Neira © Warningmagz

Dari semua keriuhan malam itu, yang kurang terasa riuh mungkin adalah tema acaranya sendiri. “Tapi yang penting asik ngumpul-ngumpulnya” komentar Ananda Badudu ketika ditanyai WARN!NG di belakang panggung. Memang, siapa bilang aksi kritis harus dengan meneriakkan slogan-slogan berbahaya, dalam kesyahduan nada-nada indahpun tetap bisa. [WARN!NG/Titah Asmaning]

 

[Gallery] konser ini, klik -> StompOut 2014 rhythem of criticism 

Event by: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM

Date: 15 Maret 2014

Venue: Purna Budaya UGM

Man of the match: Rabu dan Banda Neira yang sangat menghanyutkan

Warning level•••1/2

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response