close

Seno Gumira Ajidarma: Hanya Patuh Pada Pena

seno youtub
Seno Gumira © Channel youtube Alinea TV
Seno Gumira Ajidarma. Dok. Youtube

Disuruh mendefinisikan sastra, ia jawab itu kibul belaka, disuruh berbicara tentang perjalanan sastra, ia ganti seenaknya, kritik dibungkam dalam jurnalisme, ia terus melawan lewat keluwesan sastra. Seno Gumira Ajidarma, yang patuh hanya kepada pena-nya sendiri.

Wawancara oleh: Tomi Wibisono & Titah Asmaning

“Ini mau ngomongin sastra perjalanan atau perjalanan sastra? Sastra perjalanan aja ya, perjalanan sastra terlalu membosankan,” seloroh Seno Gumira di mimbar seminar bertajuk Seminar Sastra: Perjalanan Sastra Indonesia. Siang itu, alih-alih melaksanakan agendanya menjadi pembicara perjalanan sastra, dengan cueknya ia mengubah topik bahasannya. Bersama Faruk Tripoli dan Windy Ariestanty, siang itu Seno Gumira menghabiskan waktu dua jam berbicara di gedung PKKH UGM.

Usai bercerita di depan, Seno langsung dikerubungi penggemar untuk meminta tanda tangan. Acara belum usai, masih ada band penutup, namun fokus utama orang-orang di sana adalah pria gondrong ini. Seno pun pindah ke ruang tunggu, untuk kembali melayani foto bareng dan legalisir buku. Lebih dari setengah jam, namun tak semua penggemar bisa dapat tanda tangan. Seno harus segera kembali ke Jakarta.

Penulis yang sudah memulai berkarya sejak 16 tahun ini, sepertinya memang super sibuk. Ia tiba di Jogja sekitar jam 10, untuk kemudian harus terbang ke Jakarta pukul 15:00. Melihat itu, WARN!NG kemudian mengikutinya sampai ke bandara untuk melakukan wawancara. “Saya check in dulu ya, nanti saya keluar lagi, kalian tunggu di sini,” ujarnya. Tidak berapa lama, Ia keluar lagi membawa kabar buruk, bahwa hanya 30 menit tersisa sampai pesawat membawanya kembali ke Jakarta. Kami pun duduk di pojok salah satu cafetaria di bandara Adisutjipto. Tawaran kesegaran es jeruk pun bahkan kami abaikan demi menyingkat waktu dan berbicara dengan peraih SEA Write Award tahun 1987 ini.

“Jadi apa nih pertanyaannya?” ujarnya seperti menantang. Gaya bicara ceplas-ceplos dan cukup intimidatif memang jadi kesan pertama saat ngobrol dengan Seno Gumira. Kesan yang juga tertangkap di karya-karyanya. Sebagai penulis, ia memang terkenal cukup rebel. Pun begitu dengan dandanannya, rambut gondrong lengkap dengan anting di telinga kirinya, lebih dari cukup mendobrak dandanan normal kaum mapan.

“Pendongeng yang kritis terhadap rezim Orde Baru”, begitu yang tertulis dalam buku Sastra dan Politik: Membaca Karya-Karya SGA karangan Andy Fuller. Pramoedya Ananta Toer juga memujinya sebagai salah satu penulis muda yang masih Ia baca, “Pandangan-pandangannya lebih demokratis daripada yang lain” ungkap Pram dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian.

Salah satu langkah progresifnya adalah melawan pembungkaman di jalur jurnalisme, ia kemudian menggunakan keluwesan fiksi sebagai senjata. Menanggapi represi pemerintah yang tetap ada dan berlipat ganda Seno dengan santai menanggapi “yang penting kan dilawan.”

Tahun 1992, ia pernah dicopot dari jabatannya sebagai ketua redaksi Jakarta Jakarta karena menulis liputan panjang tentang insiden Dili. Kejadian yang kemudian membuatnya menulis Saksi Mata (1994), Jazz, Parfum dan Insiden (1996) dan kisah di balik keduanya di Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (1997). Laku perlawanan di jalur sastra kemudian ia teruskan ketika mengkritik tindakan Petrus circa 1998 di kumpulan cerpen Penembak Misterius (1999), Sampai saat ini pun Seno Gumira masih aktif menulis kolom tentang politik di beberapa surat kabar.

Baru-baru ini, keterlibatannya di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 di mana beberapa program tentang ’65 direpresi oleh pemerintah memancing penasaran kami atas responnya. “Sudah biasa to kita? Nggak ada yang baru. Lagu lama itu, semenjak orde baru kita sudah dilarang-larang,” ujarnya seperti sudah mahfum dengan tabiat negara ini yang parno terhadap gagasan-gagasan yang dibicarakan.

Ketika akhirnya pengumuman dari pihak bandara memberitahukan bahwa pesawat akan segera take off, Seno Gumira menghentikan ceritanya. Kami mendapatkan banyak jawaban menarik. Tentang awal karier kepenulisannya, mitos tentang menjadi penulis, sampai sikapnya terhadap sastra dan diskusi tentang ’65 yang dilarang pemerintah.

Seno Gumira Ajidarma
Seno Gumira Ajidarma

Waktu pertama kali tulisan anda dimuat itu tulisan apa?

Puisi.

Tapi sampai sekarang kenapa belum mengeluarkan puisi?

Nah yang ini aku nggak akan jawab.

Padahal kan di buku Nagabumi, atau Kitab Omong Kosong selalu ada puisinya.

Iya, di Nagabumi ada 100 puisi.

Tapi kenapa nggak membuat satu buku puisi begitu? Seperti Rendra dulu sebelum menulis puisi, awalnya dia nulis cerpen juga. Apa tidak ingin membalik pola tersebut?

Buat apa? Saya nggak ingin jadi penyair. Bikin puisi ya bikin. Itu puisi ”Aku Membunuh Munir” ada kan syair-syairnya, nah boleh diadu sama penyair manapun di dunia ini (tertawa).

Apa yang ada di pikiran Seno kecil ketika dia dewasa nanti?

Nggak mikir apa-apa, itu puber aja ingin bergaya.

Bergaya jadi penulis?

Bukan penulis, seniman. Seniman itu gayanya ada, style-nya ada. Ada Rendra, ada Sapto Hudoyo bergaya juga. Yasudah bikinlah karya, gitu aja.

Dan akhirnya keterusan jadi wartawan?

Jadi wartawan itu karena mesti kerja. Bisanya apa? Nulis. Ya jadilah wartawan.

Dulu udah ada pembagian jobdesk gitu?

Dulu sebagai pembantu lepas di koran Merdeka. Ya macam-macam yang ditulis, kemudian karena tahu saya sekolah di Bekasi, jadinya difokuskan ke kebudayaan, kesenian, macam itu.

wawancara bersama Seno Gumira
wawancara bersama Seno Gumira

Banyak yang bilang jadi wartawan tidak bisa untuk hidup, jadi walau banyak yang belajar jurnalistik nggak mau jadi wartawan.

Salah besar. Itu Gunawan Mohammad kaya to? Jakoeb Oetama kaya to? Dan seluruh grub Kompas dan Tempo. Semua punya mobil, punya rumah sendiri kok, nggak nge-kos. Jadi penulis nggak ada hubungan jadi kaya dan miskin, urusan kemandirian ekonomi itu urusan setiap manusia, termasuk wartawan. Jadi dari manapun sumber nafkahnya orang harus mandiri. Kalau nggak gitu dia secara politis nggak mandiri.

Tapi kalau untuk jadi penulis harus mandiri secara ekonomi, sementara mandiri secara ekonomi nggak bisa dari menulis?

Nyatanya aku bisa. Kalau nggak bisa ya gagal namanya. Tapi juga banyak orang yang profesinya apa, juga menulis. Gus Mus misalnya, dia kan kyai.

jualan agama lebih laku?

Ya yang nggak laku kan juga banyak. Yang ngotot ini nggak laku kan banyak. Tapi kan khotbah terus, belajar agama terus.

Kalau penulis muda yang menurut Anda oke, siapa?

Banyak, itu Andina Dwifatma, atau Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Eka Kurniawan. Kalau yang lebih muda lagi ya nggak tahu (tertawa)

Kalau membaca tulisan Anda di tahun ’98 itu banyak tentang kritik sosial, hingga makin kesini romantika percintaan. Frame-nya karya sastra yang menanggapi zaman. Nah kalau zaman sekarang ini kira-kira temanya apa?

Saya saja seminggu yang lalu masih nulis kolom di Kompas. Nah itu tengok saja, saya tiap dua minggu sekali menulis di Tempo tentang politik.

Jadi nggak ada kata selesai ya..

Pokoknya yang penting nggak bunuh orang.

Tentang penamaan Sukab, kenapa selalu memakai nama Sukab?

Ya karena nggak perlu ganti. Seberapa urgent gantinya Sukab itu. Bisa tapi nggak urgent.

Tahun ini Anda jadi salah satu juri di Ubud Writers and Readers Festival 2015, dan kemarin ada kasus pelarangan diskusi tentang ’65.

Sudah biasa to kita? Nggak ada yang baru. Lagu lama itu, semenjak orde baru kita sudah dilarang-larang. Jadi setelah reformasi, saya mengeluarkan buku Iblis Tidak Pernah Mati. Yasudah jangan mimpilah, ada terus dia. Mau banyak mau dikit, itu ada. Itu ngelarang-larang, tenang-tenang aja, yang penting kan dilawan. Dan juga (kebijakan) menyensor pada abad ini kan ajaib, semua yang disensor itu yaudah nggak ada acaranya. Tapi kan para pelakunya (pelaku diskusi di UWRF-Red) mengundang siapapun untuk makan siang di jam yang sama, tempat yang sama, artinya diskusinya tetap berlangsung. Cuma soal sah atau nggak, direstui pemerintah atau tidak. Nggak direstui ya nggak apa-apa toh, cuma pemerintah aja loh kok bingung.

Apa bentuk konkret dari melawan tadi?

Kalau kasusnya ini, lah itu dilarang diskusi tapi di jam dan tempat yang sama tetap diskusi. Cuma namanya makan siang, dan nggak bayar lagi. Sekarang siapa yang nggak ngomongin ’65? Orang punya otak mana yang tidak ngomongin ’65? Kalau nggak berotak nggak saya omongin. Apa boleh bunuh orang? Orang berotak yang nggak ngomongin. Kalau nggak ya kasian saya, artinya dia lebih kejam dari orde baru.

Sekarang isu tentang ’65 jadi populer, apakah itu baik?

Justru sangat baik.

Tapi saya juga mendapati banyak penulis yang nyinyir dan bilang kalau menulis isu ’65 itu latah.

Ya memang, jadi seolah-olah sastra yang baik itu tentang ’65. Sastra tentang orange juice itu juga bisa bagus kok. Itu soal musiman. Dulu takut, politik nggak boleh, sekarang begitu nulis politik, dibilang latah. Jadi maunya gimana?

Berarti dasarnya nulis sastra apapun yang penting bagus?

Iya. Perkara bagus atau nggaknya kayak apa ya debat dulu. Jadi nggak ada klaim yang berlaku selamanya.

Kalau tentang buku-buku yang dijual dengan harga melambung, apakah anda mengikuti?

Berapa?

Kemarin Kitab Omong Kosong sampai 150 ribu.

Oh murah itu 150 ribu. Sebelum dicetak ulang, Senja Berdarah di Jakarta di loak sampai 500 ribu. Nagabumi 300 ribu tapi ya habis semua. Agak ngiri juga tapi duitnya nggak ke saya (tertawa).

Cetak ulang itu perlu ya berarti?

Buku yang habis itu berhak cetak ulang. Itu menurut saya. Itu hak hidupnya.

Tahun 2015 ini, kultur membaca ini kayaknya sudah mulai naik lagi. Menurut Anda gimana?

Sekarang orang membaca itu nggak lagi diejek kutu buku, atau aneh gitu. Padahal sebenarnya ya nggak. Sekarang malah gaya, bikin klub buku, komunitas buku, itu ibu-ibu kaya ada yang bikin diskusi sebulan sekali, walaupun bukunya ya buku takut masuk neraka. Tapi pokoknya buku dulu, nanti dari situ baru sastra dan lain-lain.

Kalau komentar Anda tentang buku sebagai action figure?

Itu bagus kok ketimbang pakai mercedes. Nggak apa-apa, baik itu. Lebih murah lagi dibanding BMW atau tas Louis Vuitton. Wong buku itu kadang dilihat punggungnya saja sudah inspiring kok. Kayak Das Kapital, Marx bikin ini berapa tahun dia ngendon di perpustakaan London.

Tentang cerpen “Cinta Di Atas Perahu Cadik” yang difilmkan Edwin jadi “Someone’s Wife in The Boat of Someone’s Husband” gimana menurut Anda?

Ya oke-oke aja, itu menarik. Skenario saya diproses. Kan jadi itu mereka menanyakan pada penduduk tentang Sukab, seolah-olah film dokumenter, padahal itu full fiksi. “Dulu ada yang namanya Sukab ya?” terus dijawab “Iya, itu peninggalan Portugis” segala macem. Ya itu namanya diproses, jadi punya skenario nggak harus kaku, di skenario kayak apa, di film harus kayak apa. Lagipula kalau mau difilmin (persis seperti cerpennya) ya susah (tertawa).

seno 3
Seno Gumira Ajidarma

Buku yang terakhir dibaca apa?

Franz Kafka – Josephine The Singer, Susan Sontag – A Trip to Vietnam, buku lama semua, dari tukang loak. Machiavelli by Quentin Skinner, jadi kalau saya menulis politik saya harus baca Machiavelli.

Kalau penulis yang berpengaruh buat Anda?

Semua. Semua pasti ada pengaruhnya

Terakhir, kenapa Seno Gumira nggak memakai sosial media?

Buat apa? Nggak ada yang mau dijual juga.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response