close

[Movie Review] Shaun Of The Dead

Shaun-of-the-dead-background-shaun-of-the-dead-61288_1280_1024
shaun-of-the-dead-shaun-of-the-dead-24873528-1181-901

Dalam budaya manapun di dunia ini tidak ada yang mengisahkan bahwa salah satu pertanda hari kiamat adalah mewabahnya virus zombie yang mengakibatkan manusia menjadi mayat hidup dan saling memangsa manusia lainnya. Namun pada sebagian besar film zombie yang pernah saya tonton, kemunculan zombie berakhir pada musnahnya masyarakat sebuah daerah, baik itu skala kecil maupun besar, Resident Evil, Silent Hill to name a few.

Sebagai sebuah karakter dalam film, dari definisinya, zombie itu membosankan. Semua yang mereka bisa lakukan hanyalah melenguh, mengejar manusia dengan kaki yang diseret-seret, dan mengunyah lengan korbannya. “Shaun of The Dead” dengan sempurna merefleksikan rasa sentimen saya terhadap zombie tersebut dalam adegan pembuka film ini, dimana ketika karakter tokoh utama berjalan gontai menyusuri trotoar yang penuh dengan tubuh-tubuh zombie yang tergeletak, dengan tanpa menyadarinya sedikitpun. Dia terlalu mabuk dan cemas akan kemungkinan bahwa kekasihnya mungkin saja meninggalkannya setelah ini.

Dikisahkan Shaun (Simon Pegg) seorang pecundang, adalah pekerja kelas menengah asal London Utara. Shaun dianggap sebagai produk gagal dalam masyarakat sosial sekitarnya. Ia adalah kekecewaan, bagi pacarnya, keluarganya, rekan kerjanya, hingga teman satu rumahnya. Hanya sahabatnya Ed (Nick Frost), seorang pecundang tingkat akut, yang masih mampu melihat sisi positif darinya.

Saking kewalahan menangani banyak hal dalam hidupnya dalam satu waktu; main game di siang hari dengan Ed, bekerja di toko elektronik, dan dicampakkan oleh pacarnya Liz (Kate Ashfield) setelah berkali-kali gagal menepati janji, Shaun sampai tidak menyadari bahwa kota tempat mereka tinggal terkena ancaman virus zombie yang sudah menyebar hampir di seluruh wilayah. Sampai ketika Shaun dan Ed menyadari kondisi genting yang sedang mereka alami, maka inilah kesempatan Shaun untuk menyelamatkan Liz, ibu, ayah tirinya, dan beberapa temannya dari mayat-mayat hidup tersebut dan membuktikan bahwa ia bisa melakukan sesuatu dengan benar.

Apa yang membedakan Shaun of The Dead dari film-film komedi sejenis Scary Movie dan membuat joke didalamnya dua kali lebih evektif adalah fakta bahwa punchlinedalam Shaun of The Dead tidak pernah mengarah pada parodi murahan. Kreatornya adalah orang-orang yang mampu memandang sisi jenaka dalam keadaan absurd namun tetap menjalankan plot cerita secara rapi, penuh dengan darah, dan di saat bersamaan sangat emosional. Seperti saat adegan klimaks di bar, ketika adegan segenting itu pun kalimat-kalimat lucu masih bisa disisipkan dalam dialog tanpa unsur diada-adakan.

Simon Pegg menampilkan jenis karakter yang penonton bisa ‘andalkan’ dalam sosok Shaun, the likeable loser. Seseorang yang stuck pada lingkaran kebiasaan buruk tapi tidak cukup sadar untuk mengubahnya. Seseorang yang ketika mendapat kesempatan untuk pembuktian diri tapi selalu terbentur kenyataan bahwa semua tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Review dikirim oleh Catra Nandiwardhana

 

Shaun-of-the-Dead
Tags : movie
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response