close

Shout Art Loud: Musik Tak Melulu Perkara Cinta

IMG_7720

Malam minggu (29/7) lalu terasa hangat di Yogyakarta. Kehadiran musik bervarian aliran telah terpampang di depan telinga. Keramahan Yogyakarta terasa pas dengan alunan para musisi muda penuh kreativitas. Kajian nada yang mereka—musisi muda—sajikan begitu beragam. Mulai dari musik lawas hingga musik blues, membuat pengunjung melekatkan diri ke muka panggung. Dengan konsep semi terbuka, para panitia mendekorasi tempat secara sederhana namun elegan. Selaras dengan musik yang dihidangkan.

Tak lain tak bukan adalah acara, Shout Art Loud milik salah satu pabrik rokok ternama. Kali ini, ajang tersebut tidak ada hubungannya dengan kompetisi kebal-kebul. Bidang seni menjadi salah satu cara sang produsen berekspansi pun strategi pembongkaran broker lagu-lagu di ranah musik Indonesia. Ajang ini melahirkan band-band yang tak kalah kualitasnnya dengan jebolan produsen ternama di belantara musik Indonesia. Begitu pula kompetisi perupa yang terwujudkan kedalam gambaran berjenis mural, dengan obyek kayu triplek. Musik dan senirupa merupakan dua hal yang tak bisa lepas dalam konteks industri musik. Para produsen mencari  perspektif baru dalam dunia musik dan seni-rupa.

Yogyakarta menjabat sebagai kota seni sejak lama. Hal tersebut terlegitimasi dengan adanya ajang semacam ini. Kota berhati nyaman menjelma sebagai arena tarung nada, lirik dan goresan cet. Sekali lagi, Yogyakarta menjadi sanjungan bagi banyak orang karena menetaskan seniman muda tiap tahunnya. Kehadiran banyak seniman membuat kompetisi ini semakin ketat, penuh dengan peluh nada dan warna. Tekanan tersebut memberikan mereka solusi untuk bereksplorasi. Ragam proses eksplorasi yang telah terajut dari para musisi dan seniman ini membuahkan karakter nada, lirik dan goresan mumpuni. Sadar atau tidak, bakal emas yang kemudian akan berkilau secara perlahan terasah afeksi dan pemikirannya.

Kompetisi telah berjalan dua ronde. Sabtu, 29 Juli 2017 kemarin merupakan ronde kedua. Tahap pertama, kompetisi terselenggara di restoran berkelas di bagian timur kota Yogyakarta. Peserta yang terjaring, awalnya berjumlah 15 kemudian diambil hanya 5 untuk diadu kembali di ronde dua. Kemudian, medan bertempur bergeser ke daerah selatan atau lebih spesifiknya di pusat kota, yaitu Taman Parkir Abu Bakar Ali. Memakai konsep rooftop, Shout Art Loud menjelma sebagai oase kegaduhan kota yang terkena polusi suara. Tersisa 5 band, kemudian akan tersaring lagi menjadi 3 band dan 3 seniman lukis. Tiga orang dan personil yang lolos dalam babak kedua, kemudian dapat mengekspresikan diri mereka pada acara tanggal 5 Agustus esok, United We Loud.

Bagian musik memang mencengangkan para penonton yang hadir, kemarin. Sajian musik baru selalu ditunggu para penikmat musik. Ada 5 band yang merombak sudut pandang para penikmat musik. Mulai dari peserta pertama, Korekayu. Band yang para anggotnya adalah jebolan Universitas Sanata Dharma membawakan lagu karangan sendiri. Pembawaan ketukan yang begitu santai, membawa para pendengar menuju imaji masa 90-an. Karakter oldies mereka memberikan dampak pada kerinduan pada nada yang riang. Sehingga, kebahagiaan yang sederhana dapat terdengar secara lantang. Beranjak ke penampil berikutnya, band yang memiliki warna blues berketukan cepat. Chord padat dihidangkan oleh Archiblues, dengan gaya melodi melengking ala Jimi Hendrix.

Half Eleven PM, band yang lengkap dengan atribut gelap siap mengantarkan para pendengar suasana angker. Grup ini membawa kita pada mimpi malam hari yang menakutkan tetapi menyamankan pun. Bagi mereka, sebuah mimpi hitam tidak melulu berurusan dengan sebuah kematian, tetapi dari hitam itu pula timbul sebuah sudut pandang menuju pencerahan kehidupan. Terpelanting ke dalam alam tidur, penonton kembali buru-buru tergugah dengan alunan blues ala Jeronbeteng Blues. Warna musik dalam band ini kuat karena adanya kehadiran alat music brass yang menghiasi dalam tiap akhiran partitur birama.

Terakhir, ada Desperados bertipikal rock n roll tahun 1940-an. Personilnya hanya berjumlah 3 orang yang menghentakkan gitar, bass dan drum secara maksimal. Tentunya pembaca mengetahui band legendaris asal Indonesia bernama Tielman Brother.  Bentuk dan karakternya macam demikian, ketukan cepat, dinamis dan nada yang begitu fluktuatif layaknya jet coaster. Mendengarkan Desperados membuat raga penonton untuk berdansa, dan sungguh benar adanya. Atmosfir semakin memuncak ketika penggagas acara mengundang Dua Petaka Membawa Benca (DPMB) dan Soloensis tampil. Di waktu yang sejajar, sang juri menilai masing-masing kontestan. Hasilnya pun telah ada, band Desperados, Half Eleven PM dan Jeronbeteng Blues melangkah ke panggung United We Loud. Dengan demikian, perspektif baru selalu dinanti dan dihargai sebagai penyeimbang indera pendengar penikmat music, karena musik tak melulu bicara cinta. [Kontributor/ Kevin Rinangga Adriyan]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response