close

[Movie Review] Sicario

Sicario
Sicario
Sicario

Director                : Denis Villenueve

Cast                       : Emily Blunt, Benicio del Toro, Josh Brolin

Durasi                   : 121 menit

Studio                   : Black Label Media, Thunder Road Pictures

Entah dimana harus memulai ulasan Sicario. Film terbaru Denis Villeneuve ini benar-benar menyergap perhatian penonton dari awal hingga akhir dalam segala aspek. Tentu saja, Sicario bukanlah film sempurna. Namun, semua elemen yang ada menyusun sebuah kesatuan karya utuh, tak bercelah. Sulit untuk membantah jika Sicario diklaim sebagai film terbaik tahun ini. Karena memang, bisa jadi klaim itu benar. Setidaknya hingga sekarang.

Atmosfir yang menaungi Sicario sudah dibangun sejak film dimulai. Ketika Kate Macer (Emily Blunt), seorang anggota SWAT, menggrebek rumah yang diduga sebagai tempat penyandraan. Apa yang Kate temukan melebihi ekspektasinya. Puluhan mayat mati mengenaskan dan disusun di balik tembok-tembok rumah itu. Sementara bahan peledak sudah disiapkan sebagai kejutan manis bagi para petugas kepolisian di teras belakang. Sejak saat itu, rasa merinding mulai menyusur badan, dan akan terus begitu selama dua jam ke depan.

Idealisme Kate yang kuat mendorongnya untuk bergabung dengan satuan khusus yang dikepalai Matt Graver (Josh Brolin). Tujuannya, menghentikan kegiatan organisasi cartel yang mulai tak terkendali di Amerika Serikat dan Meksiko. Alejandro Gillick (Benicio del Toro) juga turut tergabung sebagai penasihat khusus dalam tim itu. Setelah menjalani misi pertamanya, Kate merasa ada tujuan lain di balik sekedar memberantas cartel.

Visi cemerlang Denis Villeneuve diterjemahkan dengan baik lewat pembingkaian sinematografer handal Roger Deakins. Kecerdasan ini paling mudah terlihat dari caranya menyajikan sebuah kekerasan. Beberapa kekerasan digambarkan dengan gamblang dalam Sicario. Namun, yang melekat di kepala justru tidak digambarkan secara langsung. Banyak gambar diambil dengan meninggalkan sedikit ruang bagi liarnya imajinasi para penonton. Aransemen musik Johann Johannsson juga turut menjanga ketegangan sepanjang Sicario. Dentuman musik itu akan mengatur tempo jantung dan nafas Anda mulai dari penggrebekan rumah di Arizona hingga pertandingan bola antar kampung di Juarez, Meksiko.

Naskah Sicario yang begitu padat dan karakter yang dalam juga dihidupkan dengan cakap. Terutama lewat akting Emily Blunt dan Benicio del Toro. Walaupun karakternya lazim hadir dalam film crime thriller, Emily Blunt adalah pilihan tepat untuk menyalurkan kenaifan dan idealisme Kate Macer kepada penonton. Sama halnya dengan akting Benicio del Toro yang membuat kita sulit untuk berkedip, apa lagi berpaling, dari kehadiran Alejandro Gillick. Ia adalah tokoh yang datang dan langsung mengangkangi anggota cartel sebelum mengintrogasinya dengan segalon air. Di kesempatan lain, ia terlihat menutupi kekelaman masa lalunya sekuat tenaga.

Dua karakter ini menjadi ujung tombak narasi Sicario. Meski demikian, ada “aktor” lain yang kehadirannya menjadi sumber ketakutan tersendiri. “Aktor” itu tak lain adalah kota Juarez, Meksiko. Dimana kedatangan Anda akan disambut dengan mayat-mayat yang digantung di pinggir jalan. Tapi nyatanya, itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi penduduknya. Jangan heran kalau tidak terpicu sedikitpun kepanikan dari baku tembak di tengah padatnya lalu lintas Bridge of Americas. Melihat mayat tergeletak di tepi jalan Juarez rasanya sudah seperti melihat galian pipa baru di suatu jalan di Yogyakarta. Lumpuhnya Juarez yang didalangi ulah cartel ini nantinya memberi catatan pilu tersendiri di Sicario.

Juarez sendiri sebenarnya mulai mencoba untuk menutup lembaran kelam dalam sejarahnya. Tak heran kalau Sicario turut menuai reaksi negatif dari warga dan figur kunci di Juarez. Sicario dinilai kembali membuka luka lama bagi mereka. Tapi diakui pula kalau kekejaman yang digambarkan dalam Sicario tidak ada apa-apanya dengan kenyataan yang mereka alami sendiri beberapa tahun lalu.

Di penghujung Sicario, Anda mungkin akan bertanya-tanya nasib apa yang selanjutnya bakal menimpa Kate Macer atau Alejandro Gillick. Bisa juga Anda membayangkan keadaan kota Juarez dewasa ini. Tapi yang jelas, Sicario akan meninggalkan perasaan merinding bercampur kegirangan bagi para penontonnya. Perasaan yang muncul ketika seluruh emosi dan pikiran Anda terkuras dan terprovokasi lewat sebuah film. Sebuah kombinasi empiris yang akan terus melekat di pikiran penikmatnya.[WARN!NG/Kevin Muhammad]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response