close

Sigmun: Mendedah yang Khayali

3
sigmun
Sigmun

Interview by: Soni Triantoro

Suhu tak lagi sepaham, lamunan mulai memuai. Dalam khidmatnya, dentuman keras menciptakan gema repetitif yang membatu runtuh. Lengkingan vokal merayap merongrong sekujur dinding yang memanjang, meratapi keringat yang seakan membuih. Meniti rapalan yang menghasut iman terhadap kesadaran. Laksana peristiwa spiritual dalam gua di hikayat-hikayat lampau. Spektakel hari akhir yang delusif dari sebuah eksibisi musikal.

Segeralah terjaga, dan perkenalkan Sigmun, band psychedelic dan blues rock asal Bandung yang tengah tampil dalam sebuah ruang bernuansa intim sekaligus padan untuk gerayangan musik-musik gelap dan atmosferik. Mulanya hendak digelar di sebuah ruang kelas IT, namun ditakutkan sound bisa memecahkan sesuatu. Berakhirlah mereka dalam tempat parkir sebuah kampus naungan Muhammadiyah yang menjorok ke dalam sehingga menyerupai lorong, kian mengesankan pemisahan diri dari dunia luar.

Minggu, 21 Februari 2016, kuartet tersebut tiba di Yogyakarta dalam salah satu lawatan tur promosi album penuh perdana mereka yang bertajuk Crimson Eyes. Konser itu langsung dihelat petangnya. Selain dua band asal Kota Gudeg—Banana  For Silvy dan Dirty Light—dihadirkan juga Somnium yang digandeng langsung dari Bandung. Sigmun sendiri tampil impresif. Dengan lagu-lagu seperti “Ozymandias”, “Devil In Disguise”, atau “Halfglass Full of Poison”, peluh yang bercucuran bukan sekedar dampak derajat udara, tapi juga energi yang meluap-luap.

Hingga tiga hari selepas malam itu, Sigmun masih menghabiskan waktu di Yogyakarta. Dan meski membawakan musik yang temaram dengan kepekaan spiritual, bukan atas agenda atau motif apapun jika kemudian mereka memilih sebuah penginapan yang—menurut desas desus—banyak menghadirkan pengalaman serta penampakan gaib, ditambah sebuah beringin tua penuh mitos wingit terpancang tepat di luar halaman. “Alhamdulillah, enggak ada kejadian apa-apa. Dari kemarin kita diceritain yang begituan melulu,” ujar Haikal Azizi, sang vokalis yang tengah bermain biliar tatkala ditemui WARNING di pelataran penginapan tersebut.

Akan tetapi, sebagai unit dengan keseluruhan personil (Haikal Azizi [vokal/gitar], Nurachman Andika [gitar], Mirfak Prabowo [bas], Pratama Kusuma Putra [drum]) yang melewati jenjang pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung, ada alasan lebih relevan untuk berlama-lama di Yogyakarta.”Kotanya kondusif buat berkarya. Entah bermusik atau seni rupa. Kita sengaja memilih di sini biar bisa datang banyak pameran,” tukas Haikal, “Ya tujuan sebenarnya ingin liburan saja sih.”

Liburan adalah istilah yang tepat. Kurang lebih dua minggu plus empat hari dihabiskan dalam total lawatan pada delapan kota di tiga pulau berbeda. “Kita belum pernah merasakan tur yang benar-benar seperti ini. Biasanya, begitu sampai ke kotanya, manggung, paginya langsung pulang. Jadi enggak sempat menikmati kotanya dulu. Sekarang mau coba yang seperti itu, termasuk biar ada waktu interviu dengan media-media”.

Crimson Eyes memang dihampiri cukup banyak sanjungan di paruh akhir tahun 2015. Selain dianggap membawa Sigmun ke level musikalitas selanjutnya, aspek visual album juga banyak meraih sorotan. Ihwal yang disebut terakhir, Mirfak memaparkan,“Sebenarnya awalnya kita mulai dari menentukan judul albumnya dulu. Akhirnya kami menemukan nama Crimson Eyes. Kayaknya sangat menarik dan cocok. Lalu kemudian kita cari cara bagaimana kita dapat menginterpretasikan itu secara visual, yang kira-kira mewakili. Dan pada saat itu kita lagi ingin artwork yang bukan painting atau drawing, tapi fotografi”.

Kala mencari objek untuk difoto, Haikal ingat akan seorang kawan yang memiliki karya patung “seperti sosok yang entah muncul dari mana”. Dirasa mewakili dan mencerminkan konten dari Crimson Eyes, karya milik Reska Dwi Addry itu pun dipilih. Hasilnya lalu dilayangkan kepada Kendra Ahimsa untuk direspons via kreasi artwork-nya, menghasilkan kolaborasi visual yang mempesona. “Jadi akhirnya tidak pure dari si Kendra atau Reska. Itu kolaborasi. Kita sendiri cuma kontribusi masalah palet warna dan komposisi. Sisanya kita lempar ke Kendra. Lebih berat ke senimannya daripada kitanya,” imbuh Mirfak kembali.

Jika mereka memang telah didukung latar belakang empiris yang mumpuni di bidang seni visual, beda cerita untuk sepak terjang musikalnya. Selain Tama, ketiganya mengaku baru mengawali kiprah band dengan penulisan lagu yang serius di Sigmun. “Band pertama saja sudah bagus. Gila ya?” seloroh Haikal, disusul tawa dari rekan-rekannya.

Awalnya, Sigmun bernama Loud. Lantaran terlalu generik, nama itu merasa perlu diganti. Di tengah pencarian dengan referensi aliran seni surealisme, tercetuslah nama Sigmun yang diadaptasi dari sosok Sigmund Freud.

Selain itu, pengolahan alam bawah sadar juga menjadi gagasan Sigmund Freud yang diamini oleh Haikal telah menjadi gimmick dari Sigmun kendati sebenarnya terjadi dalam proses berkarya semua orang. “Contoh sederhananya di penulisan lirik. Misalnya, menyebutkan kata ‘pohon dengan daun berwarna merah’. Itu walau tujuannya estetis saja, tapi pasti di bawah alam bawah sadarnya ada faktor-faktor lain sehingga mendorong dan menggiringnya untuk mengeluarkan kata ‘pohon dengan daun berwarna merah’”.

Gimmick itu lantas berkembang menimbun rasa penasaran untuk mengeksplorasi korelasi konsepsi alam bawah sadar dengan histori kultur psychedelic, tapi Tama dengan kocak segera memaklumatkan kata “bersih” sembari menunjuk satu-satu personil Sigmun. Menunjukan kerapnya mereka menerima singgungan orientasi pertanyaan ke arah yang sama. Ini lantas justru menambah keyakinan bagi WARN!NG untuk mengulas sisi non-imajiner dari Sigmun.

sigmun
sigmun

H: Haikal | J: Jono | M: Mirfak | P: Pratama

Apakah pernah dihantui oleh musik sendiri? Terbawa mimpi misalnya?

H: Konotasinya negatif atau positif? Positifnya sih ada, seperti ”Keren banget nih,” ciee.

J: Satu bulan pertama setelah rilis album dihantui sih. Soalnya dengerin terus.

Di antara gejala permasalahan alam bawah sadar adalah depresi atau cemas berlebihan. Apakah kalian pernah mengalami hal-hal semacam itu sebagai inspirasi berkarya?

M: Wah si Jono ini.

P: Jelas. Nurachman Andika (Jono) ini berkehendak bikin lagu yang akan bikin kalian semua menangis.

H: Ya maksudnya enggak mungkin ada orang yang terbebas dari hal-hal itu. Dan sudah pasti itu mempengaruhi proses penulisan lagu kami. Dan memang sering kali kami bermain musik sebagai pendekatan psikis, walaupun tidak dikatakan secara vulgar.

Ada yang berasal dari momen atau kasus berkesan?

H: Ada. Tapi enggak mau kami ceritakan.

Kenapa?

H:   Kita ingin interpretasi lagunya enggak dikunci sama kita. Biar audiens menginterpretasikan sendiri. Biar lagunya bagaimana kan tetap aja pasti mendengarkannya sendiri-sendiri. Bakal jadi subjektif juga, jadi mending kita bebaskan saja sekalian.

Bagaimana awalnya terpikir memainkan musik yang seperti ini?

H: Saat di Loud dulu, saya dan Mirfak kiblatnya lagi di musik seperti The SIGIT, vintage. Jadi kita main Led Zeppelin atau The White Stripes. Semakin ke sini, bertambahlah referensi dengan Pink Floyd dan lain-lain, kemudian berkembang ke sini.

Inspirasi untuk liriknya dari mana?

H: Kita dari mana-mana sih. Dari buku dan film. Kayak “Ozymandias” sebenarnya dapatnya dari nama Ozymandias yang saya tahunya dari film Watchmen. Di Breaking Bad juga ada satu episode yang memakai nama Ozymandias. Yang ada adegan si Hank mati, lalu si Walter White menangis dan jatuh di pasir. Nah, itu sama kayak patung Ozymandias yang asli.

Kalau buku?

H: Macam-macam sih. Kalau sekarang lagi suka baca (Haruki) Murakami.

sigmun
sigmun

Di mana keterlibatan Rekti THE SIGIT di pembuatan Crimson Eyes?

H: Enggak ada [tertawa]

P: Dia yang suka mengomentari,“Ah jelek nih, ganti!”

M: Tapi enggak diganti [tertawa]

P:  Dia adviser.

M: Salah satu mentor kita.

H: Sebenarnya dia mau memproduseri. Ya takutnya kalau terlalu di bawah bayang-bayangnya Rekti, kitanya malah hilang. Dia berperan di proyek The Raid juga.

Apakah kalian melihat musik psychedelic memang tengah melejit hari ini?

J: Sekarang jaman internet sudah lancar. Jadi setiap orang sudah bisa bikin apa aja. Sebenarnya kalau buka di Youtube, apa saja sudah ada. Dan masing-masing juga ada pengikutnya.

H: Maksudnya, di saat Tame Impala sedang terkenal-terkenalnya, EDM juga lagi naik. Jadi masing-masing scene ada yang lagi terkenal. Majemuk saja sih.

Kalau di Indonesia, band psychedelic apa yang bisa kalian rekomendasikan?

H: Napolleon. Crayola Eyes. Di Semarang ada Moiss—psychedelic enggak ya?

M: Lefty Fish.

P: Aku lagi suka Somnium.

Mengajak Somnium di tur ini juga adalah keputusan label Orange Cliff ya?

H: Iya. Tapi kita juga suka. Kita kenal mereka dan suka musiknya, jadi kayaknya enak kalau dibawa tur

Ada persepsi bahwa lingkungan dan kultur kota Bandung menunjang musisi Bandung untuk membuat musik yang cenderung atmosferik. Setuju?

H: Tuh kan, benar apa kata gue dulu! [bicara ke Mirfak dan Jono] Setuju. Soalnya kecenderungannya memang kelihatan seperti itu. Seperti post rock kan menjamur di Bandung Utara yang dingin. Nah, pas geser ke Ujungberung yang gerah, musiknya beda. Mungkin ini dugaan tanpa riset, tapi kalau saya melihatnya itu berpengaruh sekali. Ada kecenderungan musik yang dipilih oleh anak muda.

Apa kira-kira pengaruh cuaca dingin itu ke pembuatan musik atmosferik?

P: Cepat lapar.

H: Ke suasana itu sih. Biasanya kalau dikasih gerah kan, “Anjing gerah banget!” Lalu mainnya kayak Burgerkill

M: Cuaca berpengaruh. Dingin dan santai, mungkin membuat suara jangkrik atau…

J: Tapi kalau menurut gue enggak cuma cuaca, tapi juga lingkungan. Termasuk sosio-politiknya. Bandung Utara kan masih wealthy. Makin ke selatan makin padat, downtown.

Sempat ada artikel di sebuah media yang mengkritisi orientasi tur band-band lokal ke Amerika Serikat, dibanding menjelajah kancah musik Asia. Bagaimana menurut kalian?

H: Sebenarnya itu pola pikir yang memposisikan musik sebagai komoditi. “Lebih gampang jualan ke Asia dulu.” Cuma enggak semua band independen berpikir kayak begitu. Seperti kita waktu mau ke Amerika dulu tujuannya bukan ingin jadi apa-apa. Cuma kayak “Anjing, keren nih main di Amerika Serikat”. Kalau menurut saya, band independen lebih sering yang pertama dikeluarkan itu kenaifannya. Idealismenya. “Gue pengen manggung di Amerika!” Itu dulu biasanya. Bukan kok soal bagaimana bisa dapat fans yang banyak atau dapat jaringan di mana. Kalau menurut saya itu yang bikin musik independen lebih menarik. Kegabahannya untuk mengambil keputusan.

M: Seperti kita dulu [tertawa]

P: Untung kita dikasih gagal. Jadi pelajaran.

Tapi ada rencana untuk main ke Amerika Serikat lagi?

M: Amerika Serikat kayaknya belum. Terakhir saja.

P: Eropa dulu lah.

H: Dari Afrika sudah ada panggilan…. Bohong saja, dia kan enggak tahu [Menunjuk ke WARN!NG].

sigmun
sigmun

Selaku sosok yang pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah, seperti apa Haikal memposisikan musik dalam kehidupan?

H: Menurut saya pribadi, kalau pure sebagai musiknya saja sih bisa beririsan dengan spiritualitas atau kebutuhan untuk mendekatkan diri pada tuhan. Cuma kalau kegiatannya sudah dengan musik sebagai kegiatan sosial, memang banyak mudaratnya. Saya bisa paham kenapa ada anggapan kalau musik itu haram. Tapi kalau pure sebagai musik, buat saya enggak ada masalah. Bahkan, bisa membantu mendekatkan diri pada tuhan. Sufi memakai musik dan tari-tarian juga.

M:  Ya logikanya begitu. Kalau orangnya ingin bandel, mungkin musik bisa jadi haram. Tapi kalau cuma untuk kita, ya main musik karena ingin main saja. Kalau misal bisa terhibur ya alhamdulillah, kalau enggak terhibur ya bagaimana caranya mereka bisa terhibur. Kalau saya pribadi, mengapa haram kalau misalkan tujuannya bukan untuk melakukan yang negatif? Atau berarti menggambar dan membuat patung pun enggak boleh? Haramnya ke negatifnya itu.

Kalian bahkan juga bergelut di seni rupa. Artinya apakah sama juga dengan persepsi haram tentang tukang menggambar?

H: Kalau saya berangkat dari niatnya apa. Kamu sholat kalau niatnya bukan buat tuhan dan buat riya ya sia-sia juga. Berarti yang paling mendasar adalah niatnya. Walaupun saya kadangkala masih ada keragu-raguan.

Masih ada keragu-raguan?

H: Iya, ada.

Tapi apakah persepsi seperti itu memang ditemukan di Madrasah Aliyah?

H: Mungkin bayangan tentang madrasahnya kita luruskan dulu. Madrasah gue enggak seekstrim itu. Agak moderat. Walaupun memang ada beberapa orang yang punya pandangan seperti itu, tapi tidak mayoritas.

Salah satu lagu di Crimson Eyes mengusung tema hari kiamat. Apakah kalian percaya kiamat?

Sigmun (serentak): Percaya.

Ada yang punya teori tertentu tentang hari kiamat?

H: Biasanya kalau konspirasi teori ya ini [menunjuk Jono]. Jelaskan saja dulu tentang flat earth.

J: Tergantung kiamatnya apa. Arah pemerintahan dunia sebenarnya juga kiamat untuk peradaban sekarang. Dan mungkin kita juga akan menemukan sesuatu di balik Antartika. Kita enggak tahu ada apa di sana.

H: Jadi kalau flat earth itu percaya kalau bumi itu seperti piring, dikelilingi oleh antartika. Kita belum tahu di balik antartika ada apa.. eh dia saja sih sebenarnya yang belum tahu [menunjuk Jono].

Ada tokoh intelektual lain yang jadi inspirasi untuk karya Sigmun?

H: Nabi Muhammad SAW, sudah pasti. Harus. Siapa lagi Jon?

J: Diri saya sendiri.

H: Marcel Duschamp, Rene Magritte, dan Asmudjo Jono Irianto.

M: Salvadore Dali.

H: Andre Breton juga lumayan mempengaruhi penulisan lirik. Dia metode penulisannya automatism. Walaupun kita enggak sebrutal dia—yang enggak nyambung banget automatism-nya.

P: Orang tua saya sendiri

photo by: Titah Asmaning

 

 

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response