close

Sisir Tanah: Perayaan Monumen Buah Semangat Baik

sisir tanah (5)

Review overview

WARN!NG Level 7

Summary

7 Score

Buah dari tujuh tahun perjalanan Sisir Tanah ranum sudah. Segalanya menggembiarakan, kecuali pilihan perayaan riuh yang menumbuhkan tanya, kemana puisi yang sublim dan jeda-jeda notasi yang kontemplatif itu?

Selepas lagu terakhir dipungkasi, saya berdiri menyalami Bagus Dwi Danto, lelaki yang sejak 2010 menghidupi Sisir Tanah. Perlu 7 tahun, sampai akhirnya ia merilis album bertajuk WOH ini. Sebuah peluk hangat bersambut, setelah itu saya pulang jalan kaki. Harusnya saya senyum-senyum –seperti biasanya setelah menonton Sisir Tanah, tapi saya terdiam sepanjang trotoar, mencoba mencerna perasaan ganjil yang terbersit setelah menonton pertunjukan barusan. Saya ingat sayur lodeh masakan ibu di rumah.

Sayur lodeh ibu mungkin adalah salah satu masakan ibu yang jadi favorit saya. Pulang tak lengkap rasanya jika tak ada sayur lodeh itu di meja makan. Berisi potongan pepaya muda dan kacang lotho, kuah santannya kental berwarna krem. Kadang keasinan karena ibu memasak sambil ngemong keponakan, takaran garam di jarinya luput, tapi tak pernah jadi tak enak. Biasanya disajikan di mangkok agak besar, yang sisi dalamnya sudah menguning di ketinggian tertentu –jejak terlalu sering digunakan. Pinggir mangkoknya bergerigis, beberapa cuilan kecil hasil keseringan beradu dengan sendok atau garpu. Lawuh kerupuk dan kecap, begitu saja. Rumah sudah utuh dan pulang sudah lengkap rasanya.

Tapi suatu waktu pernah saya pulang membuka tudung saji, dan menemukan sayur lodeh dengan kuah agak encer berisi kacang panjang  dan potongan hati ayam. Disajikan di mangkok putih yang masih kinclong, pinggirnya bahkan sangat mulus. Tak ada kerupuk. Hanya ada botol kecap dan ayam goreng yang dipotong agak kecil. Ibu sedang terlalu capek untuk memasak katanya, sayur lodeh itu ia beli di warung baru di dekat rumah.

Menonton konser rilis WOH pada 6 Mei 2017 lalu itu, mengingatkan saya pada rasa sayur lodeh yang ibu beli. Enak, bergizi, hiegenis, tapi tak mengobati rindu saya yang sederhana. Rindu kau tahu, acapkali bukan perkara sesuatu yang besar, mewah, dan rumit.

Fajar Merah
Ananda Badudu

Gelaran malam itu sekaligus menyudahi rangkaian Harus Berani Tur 2017, tampil di 17 kota dalam waktu kurang dari 2 bulan tentu patut diapresiasi. Konser di kota sendiri ini dibuka oleh Fajar Merah yang masih selalu menghipnotis dengan “Bunga dan Tembok”-nya, dan Ananda Badudu yang mungkin harusnya sedikit minum pondoh atau menelan nasihat ‘orang tua’ dulu sebelum maju ke panggung. Namun dua-duanya sungguh adalah penampilan yang menghibur dan manis.

Sepanjang kira-kira lima tahun mengikuti lagu dan pernampilan Sisir Tanah, kabar rilis album WOH tentu sesuatu yang menggembirakan. Setelah malang melintang di panggung segala rupa, akhirnya lagu-lagu yang sedari dulu ia unggah di Soundcloud punya monumen –ia pun bahkan akhirnya punya akun instagram. Dalam genjrengan gitar kopongnya, ia menyerukan dan menularkan perlawanan yang puitis. Sebuah api perjuangan yang alih-alih membara, biasanya menelusup ampuh lewat jeda-jeda sepi di lirik yang dibungkus vokal Sisir Tanah yang berat dan mantap. Filosofi semangat baik, itulah kiranya yang menjadi bahan bakar Sisir Tanah menerjemahkan adegan-adegan keseharian dalam lagu-lagu folk bernas tersebut.

Tanpa gimmick apapun –bahkan tanpa sapaan yang biasa ia lakukan, Sisir Tanah yang malam itu mengurai rambutnya menyanyikan “Lagu Baik” dan “Lagu Romantis” dalam genjrengan gitarnya. Setelah itu WOH mewujud lunas, dalam pilihan aransemen fullband yang terdengar baru. Mereka yang malam itu melengkapi Sisir Tanah adalah Ragipta Utama (gitar), Nadya Hatta (kibor), Faizal Aditya (bass), Indra Agung (drum), Asrie Tresnady (sitar), Yussan Ahmad (tanpura), Erson Padapiran (trumpet), dan Jasmine Alvinia (backing vocal).  Deretan lagu-lagu berikutnya pun riuh. Untuk saya dan mungkin orang-orang yang kadung terbiasa mendengar Sisir Tanah sebagai gitar kopong dan lirik yang jadi kekuatan utama, format ini justru mengurangi porsi kontemplatif yang biasa muncul di penampilan Sisir Tanah yang khidmat. Seperti terlalu dipoles, kurang organik, kurang pas.

sisir tanah

“Lagu Bahagia” misalnya dipenuhi gebukan drum yang memperkokoh pojok kata-kata tertentu, menjadikannya anthem riang. “Jika Mungkin”, “Lagu Lelah”, dan “Obituari Air Mata” pun dilengkapi petikan gitar yang liris, atau denting piano yang menonjol. Tata panggung minimalis yang ditubruk dengan lampu beraneka warna, untuk saya justru menciptakan jarak tertentu. Tak ada sing along dari penonton, barangkali secara tak sadar kami sungkan mengintervensi konsep yang agaknya sangat dijaga selama pertunjukan berjalan malam itu. Choir tertahan ini akhirnya lepas setelah setlist berakhir dan nomor “Lagu Wajib” dinyanyikan hanya dengan gitarnya lagi. Terakhir, sungguh ganjil rasanya menyaksikan Bagus Dwi Danto melepas gitarnya di nomor “Lagu Pejalan”. Beruntung kehangatan masih terjaga lewat guyonan akrab Sisir Tanah di tiap jeda lagunya.

Pun begitu, tambahan petikan sitar dan tanpura di nomor “Konservasi Konflik” patut diapresiasi karena menambahkan unsur psychedelic yang tak pernah terbayangkan akan ada di discography Sisir Tanah. Tambahan rentetan lirik “seseorang dibunuh, belasan orang dibunuh, ratusan orang dibunuh…” yang tak ada di versi lama lagu ini membuat potret-potret hidup yang ia nyanyikan makin rumit. Dan ketika Sisir Tanah bertanya “Tuan dan Nyonya belajar logika sudah sampai mana?”, sekali lagi ia membuktikan, secara lirik, ini adalah salah satu lagu folk terbaik yang pernah diciptakan penyanyi Indonesia.

sisir tanah

Pada akhirnya, WOH –yang bisa juga dibaca sebagai ekspresi takjub “woh!”—tetap harus dirayakan sebagai sebuah pencapaian dan monumen atas perjalanan karya Sisir Tanah selama ini. Namun untuk saya WOH tak membuktikan apa-apa, karena selama tujuh tahun ini pun, kita tahu Sisir Tanah telah membuktikan dirinya; dalam puisi-puisi bersahaja, penampilan maksimalnya yang tak peduli ditonton belasan atau ratusan orang,  sing along tak henti yang kadang sumbang dari penonton, massanya di panggung aktivisme atau konser gembira. Ia sudah jadi juara dalam menciptakan lagu-lagu folk yang menelanjangi hidup. Selamat atas WOH-nya Sisir Tanah, semoga biji-biji buahnya menyebar dan subur menumbuhi segala bentuk ruang hidup yang setiap hari dalam sengketa ini. [WARN!NG/Titah AW]

Gallery -> Konser Rilis Album Woh Sisir Tanah

Event by: Kongsi Jahat Syndicate

Date : Sabtu, 6 Mei 2017

Venue: Auditorium IFI-LIP, Sagan, Yogyakarta

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response