close

Sister Rosetta Tharpe: Godmother of Rock and Roll

Mezzanine_630
Sister Rosetta Tharpe
Sister Rosetta Tharpe

Cotton Plant, Arkansas, seratus tahun yang lalu. Katie Bell Nubin dan Willis Atkins meminang putrinya untuk pertama kali, Rosetta Nubin. Tidak ada perbedaan mencolok dari pasangan Katie Bell dan Willis. Sama seperti seribu penduduk Cotton Plant lainnya, mereka adalah pasangan kulit hitam yang dipekerjakan sebagai—sesuai dengan nama kotanya, petani kapas. Begitu pula dengan Rosetta kecil. Tidak ada yang mengenal nama Rosetta, sampai suatu saat dia mulai memainkan gitar.

Rosetta tumbuh di lingkungan yang religius. Ibunya adalah seorang penyanyi dan pengkhotbah di Church of God in Christ (COGIC). Begitu pula dengan ayah Rosetta, meski tidak banyak lagi yang diketahui tentangnya. Tidak seperti kebanyakan orang-orang religius lainnya, Katie Bell tidak pernah menunjukan rasa takut atau merendah diri tentang kepercayaannya. Justru, ia akan menari dan bertepuk tangan merayakannya dengan bahagia. Karakter itu yang turun kepada Rosetta, yang mulai mengiringi ibunya di gereja dengan bermain gitar sejak berusia empat tahun.

Menginjak usia enam tahun, Rosetta dan ibunya meninggalkan Willis untuk bepergian dengan kelompok COGIC berceramah melalui musik rhythm and blues sebelum menetap di Chicago. Sampai saat itu, nama Rosetta menjadi daya tarik tersendiri. Orang-orang akan mengantre untuk mengikuti kebaktian COGIC dan menyaksikan Rosetta yang dikenal sebagai “singing and guitar playing miracle” di selatan Amerika Serikat. Label itu memang pantas ia terima. Ia menghentak telinga para pendengarnya lewat permainan gitar yang bertempo cepat. Tak perlu waktu lama sampai orang-orang mulai mengangkat tangannya mengikuti permainan Rosetta. Belum lagi ketika ia mulai menyanyi dan meraung-raung dengan vokalnya yang menggetarkan iman. Jangan lupakan pula fakta kalau Rosetta adalah seorang wanita, yang pada saat itu begitu jarang memainkan gitar di depan umum.

Pada tahun 1934, Rosetta menikahi sesama pengkhotbah bernama Thomas Tharpe. Meski pernikahannya tak bertahan lama, sejak saat itu ia menggunakan nama Sister Rosetta Tharpe sebagai nama panggungnya. Empat tahun kemudian, ia kembali hijrah bersama ibunya ke New York City, dimana Rosetta memulai proses rekaman bersama Lucky Millinder Jazz Orchestra di bawah label Decca Records. “Rock Me”, “This Train”, dan “My Man and I” adalah beberapa nomor yang semakin melejitkan namanya, meski membawa banyak kontroversi, terutama dari komunitas pemusik gospel. Mereka kebanyakan melancarkan protes atas penodaan lirik-lirik gospel yang dibawakan dengan musik yang terkesan sekuler. Bagaimanapun, jiwa pemberontak Rosetta lebih kuat, dengan mudah ia acuhkan protes-protes itu dan terus bermusik dengan caranya sendiri. Decca Records juga enggan berhenti menjual rekaman Sister Rosetta Tharpe yang laku keras dan mengenalkan musik gospel ke khalayak umum.

Kontroversi tidak hanya sampai disitu, pernampilan Sister Rosetta Tharpe di Cotton Club, sebuah klub malam khusus kulit putih, juga semakin mengucilkan namanya di kalangan pemusik gospel. Tidak peduli berapa banyak respons positif dan penonton yang tercengang, membawakan musik gospel dengan iringan penari berpakaian minim sudah benar-benar dianggap melampaui norma keagamaan pada saat itu. Pada periode itu, nama Sister Rosetta Tharpe benar-benar sudah dipatenkan sebagai seorang superstar. Tujuh tahun bersama Decca Records membuat Sister Rosetta Tharpe jenuh lantaran tidak diberikan ruang berkreasi yang cukup. Ia tidak merasa menjadi dirinya sendiri. Benar saja, coba dengar rekamannya yang berjudul “Tall Skinny Papa”. Pada saat itu, tidak banyak yang bisa ia lakukan karena terikat kontrak jangka panjang. Tanpa berpikir panjang, Sister Rosetta Tharpe segera angkat kaki dari Decca Records selepas kontraknya habis.

Kendati Perang Dunia II melanda, Tharpe terus merekam materi-materi baru. Lagunya terkenal di kalangan militer setelah tersedia untuk hiburan bagi pasukan yang ditugaskan di luar negeri. Pada saat itu pula, ia kembali menemukan dirinya lewat rekamannya yang paling dikenal, “Strange Things Happening Everyday”. Dengan lagu itu, Sister Rosetta Tharpe menunjukan kemampuannya sebagai virtuoso gitar dengan lirik yang mencerminkan pengalaman spiritualnya sehari-hari. Ia banyak melakukan tur konser dengan berbagai grup lain seperti The Jordanaires dan The Dixie Hummingbirds. Hingga pada tahun 1946, Sister Rosetta menemukan sesosok soul sister dalam diri Marie Knight, seorang pianis yang ia temui di salah satu konser di New York. Marie Knight memperkaya elemen musik dalam rekaman Tharpe. Kolaborasi keduanya membuahkan beberapa lagu seperti “Up Above My Head” dan “Didn’t it Rain”.

Semasa hidupnya, Sister Rosetta Tharpe menikah sebanyak tiga kali, di samping hubungan lain dengan banyak pria, dan wanita. Di puncak karirnya, Rosetta Tharpe menikahi manajernya, Russel Morrison di Griffith Stadium, Washington DC pada tahun 1951. 25 ribu penggemarnya menghadiri upacara pernikahan yang dilanjutkan dengan konsernya itu. Di pertengahan dekade itu pula, popularitasnya menurun. Setelah berpisah dengan Marie Knight, ia tidak lagi banyak menggelar konser atau merekam lagu baru. Saat itu pula, pamor Elvis Presley meningkat dan menggeser tempatnya di hati para penggemar. Sedikit yang mereka tahu, tanpa Sister Rosetta Tharpe, Elvis Presley hanyalah penyanyi lain yang bermodalkan paras tampan. Dia tidak akan setenar sekarang tanpa pengaruh Rosetta Tharpe.

Namun, musisi sekaliber Sister Rosetta Tharpe tidak akan pernah dilupakan. Meski telah dilupakan di Amerika Serikat, ia tetap melakukan tur, kali ini di Inggris bersama musisi Chris Barber di tahun 1957. Tujuh tahun kemudian, ia juga melakoni tur Eropa bertajuk Blues and Gospel Caravan bersama nama terkenal lainnya seperti Muddy Waters, Little Willie Smith, dan Reverend Gary Davis. Salah satu rekaman tur tersebut disiarkan melalui Granada Television. Saat itu Sister Rosetta Tharpe adalah seorang ibu-ibu yang berumur 49 tahun. Wig pirang menutupi rambut aslinya yang mulai memutih ketika tampil di stasiun kereta api yang terbengkalai di Wilbraham Road, Manchester. Namun, hal itu tidak lantas menyurutkan keajaiban penampilannya di tengah hujan dan angin yang berhembus kencang dan dingin. Berbekal satu unit Gibson SG berwarna putih, Sister Rosetta tetap meraung-raung dan menghentak membawakan “Didn’t it Rain” kepada para penonton yang tidak bisa tinggal diam di seberang rel kereta.

Sepanjang karirnya sebagai musisi, banyak orang yang datang dan pergi mewarnai hidup Sister Rosetta Tharpe. Tetapi, hanya ada satu orang yang selalu berada di sampingnya, Katie Bell Nubin, ibunya. Katie Bell setia menjaga anaknya, bahkan ketika melewati fase bengal dan eksperimen-eksperimen yang dilakukan Rosetta. Tidak heran kalau kematian Katie Bell di tahun 1968 memberikan pukulan berat kepada Tharpe. Pada salah satu konsernya di Copenhagen, Denmark, 1970, Sister Rosetta Tharpe memberikan eulogi dan penghormatan terakhir pada ibunya. Konser itu juga menjadi konser terakhirnya yang disiarkan secara luas sebelum ia mengalami komplikasi diabetes dan stroke. Kesehatannya semakin menurun, bercak-bercak hitam mulai muncul di kakinya. Awalnya, ia menghiraukan hal tersebut, tanpa mengetahui kalau bercak-bercak hitam itu berujung pada amputasi kakinya. Bayangan kematian semakin terlihat jelas di mata Rosetta. Namun, penyakit itu tak kunjung menyurutkan tekadnya dalam bermusik. 9 Oktober 1973, sesaat sebelum ia memulai rekaman barunya, Sister Rosetta Tharpe tutup usia setelah terserang stroke untuk kedua kalinya.

58 tahun kehidupan Sister Rosetta Tharpe telah mengubah arus sejarah musik modern untuk selamanya. Sister Rosetta Tharpe adalah padanan kata minoritas, bahkan anomali di masanya. Tapi semua itu ia terima sebagai bagian dari kehidupan. Ya, memang benar, ia memiliki kepercayaan terhadap Tuhan dan ia melampiaskan segala tragedi yang ia alami kepadanya. Akan tetapi, ia tak lantas takut dan mengecilkan diri di depannya. Seperti ibunya, ia dengan bahagia menari dan memainkan gitarnya dengan begitu liar. Namun, siapa saya untuk membicarakan kepercayaan seseorang?

Saya hanya tahu kalau Sister Rosetta Tharpe adalah sebuah ekspresi dan penerimaan atas kehidupan dengan cara yang begitu personal. Dengan label musisi gospel wanita berkulit hitam, ia melakukan apa yang dilakukan Elvis Presley, Jerry Lee Lewis, bahkan Chuck Berry beberapa dekade setelahnya. Pengaruh dan kontribusi Sister Rosetta Tharpe dalam dunia musik tidak perlu ditanyakan lagi. Jauh sebelum Alan Freed berdeklarasi, “I call it rock and roll,” di salah satu siaran radionya, Sister Rosetta Tharpe telah memainkan musik yang sama di kebaktian gerejanya. Tak heran kalau gelar The Godmother of Rock and Roll sarat dengan namanya. Sister Rosetta Tharpe adalah sebuah kekuatan yang terhentikan. 20 Maret, satu abad setelah ia lahir, sentuhan religiusnya akan selalu mengiringi permainan gitar dan vokalnya yang tidak akan pernah tersamakan. Mungkin kali ini, giliran Rosetta yang dapat menyentuh Tuhannya.

Di pemakaman Northwood, Philadelphia kini ia beristirahat dengan tenang. Setelah upacara pemakaman yang tidak terlalu ramai. Apapun yang telah ia lakukan semasa hidup bisa didistilasi dalam sebaris kalimat yang tertulis pada batu nisan di atas makamnya, “She would sing until you cried and then she would sing until you danced for joy. She helped to keep the church alive and the saints rejoicing.” [Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response