close

Situs 37suara Rilis Lagu-Lagu Bertema Agraria untuk Dukung Korban Penggusuran Kulon Progo

S_7366215084897

 

Berkolaborasi dengan Sisir Tanah, Iksan Skuter, Melancholic Bitch, Endah N Rhesa dan sederet lainnya.

Pada bulan Januari 2018, berbagai bentuk intimidasi serta kekerasan fisik kembali dialami warga dan relawan yang menolak penggusuran rumah di Temon, Kulon Progo, Yogyakarta. Lahan-lahan yang merupakan alas tempat tinggal mereka akan segera dialihfungsikan dari sawah dan pemukiman warga menjadi bandara baru yang sementara ini dinamakan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Tanah yang sudah dihidupi secara turun-temurun oleh warga itu mesti berhadapan dengan upaya pengosongan lahan tanpa kesepakatan yang jelas dan pemenuhan syarat administrasi yang tuntas.

Foto: Yudha Kurnia

Dalam rangka berkontribusi mendukung aksi warga melawan penggusuran paksa tersebut, sebuah proyek kolektif bernama 37suara didirikan dengan melibatkan musisi, seniman, dan peneliti dari berbagai wilayah; Yogyakarta, Bantul, Madiun, Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan kota-kota lain yang tersebar di seluruh Indonesia. 37suara berupaya menggemakan suara warga dalam 37 rumah tersisa yang masih dipertahankan. Diharapkan gerakan yang tak terafiliasi dengan lembaga dan organisasi manapun ini sanggup memberi sokongan moral pada warga dan relawan, serta memperluas kesadaran publik atas realitas ketidakadilan yang terjadi di Kulon Progo.

Foto: Yudha Kurnia

Melalui situs 37suara.net, khalayak dapat mengikuti perkembangan terkini dari konflik perebutan tanah tersebut. Beberapa konten di dalam situs 37suara.net adalah rilisan musik-musik bertema agraria, artikel reportase dan opini seputar isu terkait, karya-karya video, maupun laporan pengelolaan dana donasi.

Terkhusus konten musiknya sendiri, rencananya situs 37suara.net akan merilis lagu baru secara berkala dari musisi-musisi berbeda. Sederet musisi yang dalam proses pengerjaan untuk proyek ini adalah Melancholic Bitch, Endah N Rhesa, Tika and The Dissident, Pohon Tua, Momo dan Parabiru, Deugalih dan menyusul lainnya. Sementara sebagai pembukaan, dua solois folk yang selama ini memang menaruh perhatian pada isu agraria, yakni Sisir Tanah dan Iksan Skuter sudah dapat disimak karyanya di situs tersebut.

Iksan Skuter, Sisir Tanah, Frau dan Fajar Merah dalam konser Gugur Bumi Gugur Pertiwi

Sisir Tanah merilis lagu bertajuk “Lagu Hidup” di 37suara.net pada pertengahan bulan Januari 2017. Lagu yang diciptakan oleh Bagus Dwi Danto ini mengangkat tema solidaritas antar sesama manusia untuk mempertahankan hak hidupnya di manapun mereka berada. “Solidaritas bagi mereka yang tengah menghadapi masalah sangat penting, karena kita adalah sesama manusia yang punya rasa kemanusiaan. Masalah bisa menimpa siapa saja, dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah menghadapinya bersama-sama. Hari ini warga di Temon, besok siapapun bisa mengalami masalah serupa. Kita akan kuat jika bersama-sama. Barangkali ada yang bertanya, apakah warga yang sedang menghadapi konflik butuh musik? Bagi saya, karena saya menggeluti musik, maka lagu adalah ungkapan solidaritas yang paling dekat dengan saya. Barangkali warga tidak butuh lagu saat ini, tetapi lewat lagu ini saya berharap bisa turut menyumbang semangat bagi warga maupun para relawan, serta mengajak siapa saja untuk ikut bersolidaritas sebagai sesama manusia,” tukas Danto selaku sosok tunggal di balik Sisir Tanah.

Sementara lagu dari Iksan Skuter yang sudah dapat diakses lewat situs 37suara.net adalah “Terima Kasih Petani”. Aransemen “Terima Kasih Petani” disusun dengan seluruh instrumen yang dimainkan oleh Iksan Skuter sendiri. Namun, ia mengajak Citra Aulia Prastika, seorang anggota Gubuk Baca Anak Alam untuk mengisi departemen vokal. Adapun artwork untuk lagu ini dibuat oleh Racuncinta

“Terima Kasih Petani” tercipta dari berbagai keresahan. Pertama, terkait dengan pengamatan akan bagaimana anak-anak dirasa mulai kehilangan lagu anak yang sesuai dengan imajinasi dan psikologi di usia yang sesuai. Kedua, banyaknya konflik agraria sendiri yang mengorbankan pihak petani, dan gejala petani sebagai profesi yang berbondong-bondong ditinggalkan. Akhirnya, lagu ini sekaligus mencoba mengajak anak-anak untuk menghargai petani yang makin lama makin dilupakan dalam “kamus cita-cita” buatan orangtua dan kurikulum sekolah. Anak-anak adalah masa depan yang harus di selamatkan. Minimal mereka dibantu untuk dikenalkan akan realitas bahwa apa-apa yang dikonsumsi tiap hari adalah hasil kerja petani.

Semua lagu yang dirilis situs 37suara, dibagikan secara gratis menggunakan lisensi Creative Commons (CC). 37suara juga terbuka menerima kiriman lagu, karya seni, maupun tulisan yang berhubungan dengan isu agraria dan boleh disebarkan secara gratis sebagai bagian dari proyek ini.

Artwork: Agung Kurniawan
artwork: Racuncinta
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response