close

Skandal: Memahami Makna Kesenangan

Skandal – Mikael P. Paramasatya

 

Photo by Mikael P. Paramasatya

 

Langit kota menunjukan simbol yang cukup cerah. Nampak begitu jelas pancaran sinar matahari mengelilingi pelbagai penjuru setelah beberapa hari terakhir dirundung gelap pekat tanda tak bersahabat. Tanpa dikomando, langkah orang-orang meluncur ke permukaan tanah seraya mensyukuri apa yang sedang terjadi. Benak diri seketika tersimpul puas berharap berkah tersebut berlanjut hingga sekian hitungan nanti.

Suasana taman setali tiga uang. Generasi millenials tersebar di sudut-sudut yang rindang dengan celotehan tawa tanpa henti. Beragam aktifitas turut serta dilakukan; memainkan papan seluncur, menendang bola plastik di lapangan tengah, atau sekedar duduk bersila melepas penat di bangku kayu bersama playlist ciptaan sendiri. Hanyut dalam lautan kenikmatan senja seolah tak memperdulikan tumpukan deadline pekerjaan sampai kompleksitas asmara yang entah bernasib bagaimana.

Kira-kira seperti itu saya mendefinisikan Skandal—kuartet alt/indie-rock asal Yogyakarta yang mengusung warna klasik ’90-an. Dibentuk di tahun 2011 oleh Yogha Prasiddhamukti dan Argha Mahendra, kemunculan Skandal berawal karena obrolan yang diucapkan keduanya. Keinginan untuk memadukan harmoni alternatif serta selera yang serupa menuntun angan mereka dalam pemberhentian berwujud band.

Sama halnya dengan band pada umumnya, Skandal juga mengalami pasang surut pergantian personil dalam rentang periode 6 (enam) tahun terakhir. Formasi terdahulu telah menelurkan demo single berisi sepasang track yang dipublikasikan secara digital serta format CD-R berjumlah terbatas; dibagikan dari tangan ke tangan dengan cuma-cuma. Sayangnya, intensitas bermusik Skandal sempat mengendur ketika Yogha musti berkelana ke Jakarta yang berdampak menurunnya produktifitas.

Tahun 2015, titik balik Skandal ditahbiskan dengan masuknya Rheza Ibrahim dan Robertus Febrian. Keyakinan sikap mereka berdiri pada pucuk tertinggi bahwa merilis sesuatu merupakan kewajiban yang tak bisa ditawar. Alhasil, dibantu Yellow Records band yang terinspirasi Teenage Fanclub, Sugar, The Lemonheads, The Clean, Ride, Superdrag, Superchunk, Guided By Voices, Sebadoh, Doughboys, hingga Supercrush, The Mites, dan Smiles ini mulai meracik materi yang akhirnya terealisasi di awal tahun 2017.

Mini album Skandal yang bertajuk Sugar bercerita mengenai perputaran kehidupan sehari-hari. Bagi Skandal, pemilihan tema semacam ini merefleksikan sumber pencarian tak terbatas yang mampu ditumpahkan ke dalam transformasi kerenyahan kocokan gitar, geliat ketukan perkusi, dan konsistensi tempo di tiap nada. Singkatnya, Sugar menyediakan ruang untuk relaksasi yang bersifat sentimentil tapi lugas serta cakupan personal maupun penyembuh mood kala berjatuhan.

Semua lagu yang tercatat dalam Sugar disusun Rheza dan Febrian dari kontemplasi riff gitar mentah, direkam seadanya, sebelum dimasak menjadi kesatuan utuh lewat fase berlatih di studio. Ketika konstruksi tertata rapi, tiba gilirannya lirik melengkapi kepingan yang dirangkai. Kendati demikian, tidak keseluruhan lagu mendapati perlakuan sejenis. Ada yang bergerak seirama, ada juga yang melaju membawa fluktuasi keadaan.

Tak bisa dipungkiri, kesulitan menghampiri masa penciptaan Sugar terutama kendala soal bagian teknis. “Lebih ke teknis ya. Misal ketika mixing pertama, ada beberapa part gitar dan bass yang harus dikerjakan ulang karena tuning yang belepotan, kemudian membuat engineer kami kebingungan. Penyesuaian jadwal rekaman yang sudah dibuat juga jadi tantangan. Sisanya mungkin soal mengelaborasi ide-ide dan improvisasi yang suka muncul mendadak selama proses rekaman di dalam studio. Semacam, iya nggak ya, ini enaknya dilakuin atau enggak ya, dan sebagainya”, papar Yogha kepada WARN!NG.

Perjalanan mereka tak berhenti sesaat setelah Sugar dilahirkan. Capaian dan tujuan selanjutnya menunggu untuk ditaklukan. Merilis karya, melebarkan sayap dengan tur darat atau lintas negara, hingga melepas split dengan band sepermainan. Menerapkan etos do it with your friends rasanya tepat dalam menuliskan kiprah Skandal. Terpenting, jika bukan mereka yang menjalani lalu siapa lagi?

Skandal memaparkan sajian representasi kejayaan genre alternatif dua dekade silam. Sekelumit momentum yang membawa antusiasme berdegup kencang tatkala gigs dikumandangkan, menyelami bahtera jatuh cinta kepada perempuan dengan kemeja biru, atau menyusuri Sabtu siang bersama kawan seperjuangan. Mereka menyelipkan pesan perihal cara mencumbui rutinitas, memeluknya, dan menetapkannya selaku memori lampau yang meneteskan kerinduan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.