close

Solo City Jazz 2014: Banyak Ekspektasi, Minim Bukti

solo city jazz 1
Solo City Jazz Hari Pertama
Solo City Jazz Hari Pertama

Solo pantang berhenti (dan terus berusaha) untuk bersolek diri. Baik untuk warganya sendiri maupun pelancong dari kota seberang. Tak hanya memperbaiki fasilitas pariwisata, namun juga menggalakkan kegiatan yang berbudaya. Salah satunya melalui Solo City Jazz.

Kali ini Solo City Jazz sudah memasuki gelaran kelima. Semenjak diawali pada tahun 2008—dan sempat vakum selama 1 tahun, Solo City Jazz terus menyesuaikan diri terhadap perkembangan dinamika musik jazz. Tak ayal, banyak konsep yang ditawarkan demi sikap penerimaan masyarakat lokal.

Tahun 2014, Solo City Jazz dihelat di area cagar budaya Benteng Vastenburg. Memanfaatkan area bernilai historis tinggi, membuat event ini semakin berestetika secara kultural. Namun apakah hal ini berdampak kepada penyelenggaraan? Belum tentu.

Bass Ensemble membuka perhelatan Solo City Jazz dengan aransemen ulang lagu daerah “Yo Pro Konco”. Formasi mereka yang penuh instrumen bass membuat materi tersebut terdengar tanpa jiwa. Meski sudah diselipi melodi—oleh bass pula, di beberapa bagian. Hal ini juga berdampak ke instrumental medley keroncong yang dibawakan setelahnya. Sayang sekali, Bass Ensemble membuka Solo City Jazz tanpa memenuhi ekspektasi penonton.

Penampil berikutnya adalah B’ All Star. Konon cerita mengapa grup ini bernama demikian tak lain karena nama seluruh personilnya diawali dengan ‘Bambang’. B’ All Star mengawali aksinya dengan “All About Love” dari Earth, Wind and Fire yang cukup kental irama groove-nya. Ada pula “Let It Be” milik The Beatles dibawakan secara sentimentil. Akan tetapi, kolaborasi B’ All Star bersama salah satu pejabat teras Kota Solo menjadi cela. Membawakan “What A Wonderful World”, malah terkesan seperti ajang karaokean. Hanya menuruti kemauan pejabat dirasa tidak etis untuk acara musik semacam Solo City Jazz.

Harapan agar menikmati jazz yang benar-benar jazz diapungkan kepada STP Trisakti dari Jakarta. Personel yang masih muda dan bahagia, kian menambah tebal ekspektasi itu. Tapi pada akhirnya ekspektasi menonton pertunjukan berkelas tinggal wacana. Grup yang terdiri dari enam personel ini malah membawakan lagu pop rasa pensi SMA. “Crazy Little Thing Called Love” kepunyaan Queen sarat pop minimalis. “Bengawan Solo” malah terdengar terlalu smooth. Pada akhirnya, penampilan mereka di dua lagu akhir menyajikan “Kereta Malam” yang biasa kita dengar lewat acara joget-joget di salah satu televisi swasta dan hits “Locked Out of Heaven” milik Bruno Mars semakin meyakinkan penonton; bahwa Solo City Jazz bukan acara pensi SMA.

“Giant Step” menjadi nomor pembuka yang dibawakan Solo Jazz Society. Lagu milik John Coltrane tersebut dimainkan secara instrumental; sautan melodi piano, improvisasi gitar Gibson Classic, dan permainan rancak contrabass memberikan harmoni jazz yang sesungguhnya. Kali ini ekspektasi pengunjung Benteng Vastenburg akhirnya terbayarkan. Selanjutnya, mereka memberi tampilan berbeda dengan kolaborasi bersama paduan suara dari Solo Jazz Society sendiri. Hal yang jarang ditemui pada saat mereka tampil di event mayor maupun gigs minor. “Waltz for Debbie” dan “Cik Abang” terlihat lebih berwarna bersama kehadiran paduan suara tersebut. Ramai namun tak terlampau berisik, meski banyak sound yang keluar-masuk.

Clorophyl D’ Next Generation berdiri sebagai bintang utama Solo City Jazz hari pertama. Band yang berdiri sejak 1993 dan telah menelurkan enam album ini tampil dengan formasi lengkap; Bagus Pramono (keyboard), Teza (vocal), David Qlintang (gitar), Timur Sagara (drum), Reno Revano (bass), dan Yessi Kristianto (synth). Mereka mulai mengokupasi panggung dengan aksi prima. Pop-jazz/acid yang dijadikan pedoman bermusik Clorophyl, terdengar tanpa cela. Nomor-nomor seperti “Runaway”, “Rock Your Body”, sampai “Hanya Satu” sukses menimbulkan antusiasme penonton yang sedari awal tampak malu-malu cenderung ragu untuk terlihat.

Pagelaran Solo City Jazz tahun ini memberikan evaluasi bagi pihak penyelenggara. Terutama deretan artis yang diundang untuk ikut berpartisipasi. Meski hanya event skala lokal, jangan sampai bintang tamu terkesan seadanya dan asal comot. Agar titah jazz yang diusung tetap melekat, pihak penyelenggara harus lebih selektif lagi,sehingga nantinya masyarakat juga dapat teredukasi maupun mengenal bagaimana musik jazz itu dimainkan. Apalagi didukung dengan venue Benteng Vastenburg yang begitu akomodatif bagi setiap mobilitas event.

Bertambah matangnya usia penyelenggaraan satu-satunya event jazz di Kota Bengawan ini, memberikan daya ekspektasi yang lebih pula di setiap tahunnya pantas dilambungkan. Seturut dengan apa yang sudah disampaikan Wenny Purwanti sebagai ketua pelaksana Solo City Jazz ketika sesi konferensi pers, bahwa konsep Solo City Jazz 2014 akan berpijak pada “Guyub, Nglaras, dan Ngangeni” terlihat seperti pernyataan normatif saja. Karena pada akhirnya stigma “penyelenggaraan yang biasa saja” menjadi kesan masyarakat Kota Solo. Hal itu bersumber pada dua sumbu; pemilihan pengisi acara yang kurang pas sampai kemasan dan eksekusi event yang tak maksimal. Harapan penonton untuk menikmati sajian jazz “Guyub, Nglaras, dan Ngangeni” pun mesti tertunda, setidaknya sampai tahun depan.

Jadi, sabarkah masyarakat Kota Solo untuk menunggu? [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Event by                      : C-Production, Mataya, Pemkot Solo

Date                             : 19 September 2014

Venue                          : Benteng Vastenburg, Solo

Man of the match        : Saat Solo Jazz Society membawakan “Waltz for Debbie” secara paduan suara

Rating                          : !!1/2

Tags : Jazzsolosolo city jazz
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response