close

Soloensis Rilis Single Baru

soloensis
'Tak Lagi Sanggup'
‘Tak Lagi Sejati’

Masih terngiang dengan “Youth”. Single yang digaungkan sebagai teror untuk memberitakan bahwa akan ada proyek besar dari Soloensis. Kini dijawab dengan lantang lewat nomor “Tak Lagi Sejati”. Single ini menegaskan album mereka telah siap.

Peluncuran single ini masuk dalam rangkaian hajatan besar Soloensis. Ya, soal album tentunya. “Tak Lagi Sejati” menjadi pilihan untuk membuka persepsi awal album selftitled mereka nanti. Pencarian jati diri dalam “Youth” dan sosok yang mulai mengenal masalah duniawi dalam single ini menjadi korelasi pengenalan persepsi.

Perubahan, omong kosong, dan penegasan bahwa banyak hal yang berlaku tidak sewajarnya menjadi titik berat lagu ini. Hentakan yang dimunculkan menambah kesan jengah berujung menantang. Bagaimana Isyak menghadapi polemik akademik, ruwetnya birokrasi politik, yang dianggap hanya buang-buang waktu, menjadi komposisi emosi penyusun karya ini.

“Tak Lagi Sejati” dibuka dengan lirik berbalut deskripsi. Membeberkan masalah-masalah yang dialami dan terus terjadi. Seperti seorang muda yang mulai bisa merefleksi. Distorsi gitar terasa sangat dominan. Gaya vokal Isyak yang lantang menggebu layakanya orasi isyaratkan sikap melawan.

Seolah ingin menjadi bijak, mereka berhasil menciptakan dinamika . Bagian tengah lagu dihiasi dengan aransemen lebih mendayu. Lirik bermuatan pesan moral mulai melagu. Hingga dinamika terulang kembali saat kita kembali dihentak sama seperti pada bagian awal. Tidak terlalu banyak fluktuatif suasana lagu justu menjadi penghantar yang cadas dalam penegasan kebosanan. Lagu berbahasa Indonesia pertama ini ditegaskan sebagai awalan menuju ciri Soloensis di proyek depan.

Menarik saat Pungkas menambahkan, dibalik pesan yang benar-benar tak lagi sejati, justru Soloensis menemukan sejati dirinya. Masalah yang hadir di sekitar mereka membantu tumbuh dan berkembang.

Berbeda dengan “Youth”, dimana penggarapan segi visual digarap oleh Farid Stevy (FSTVLST). Single ini diluncurkan dengan artwork. karya Kholilurrahman (Scootled). Soloensis menjelaskan bahwa karya ini mengisyaratkan paradoks. Ketidaksejatian pikiran, dan sejatinya otak yang selalu terkaburkan. Pikiran tertutup balok-balok menyerupai teka-teki silang, rumit, runyam. Mulai busuk, tidak semestinya berjalan, ditegaskan dengan keberadaan lalat di atas gambar kepala tanpa tempurung itu. Senada dengan pesan yang diceritakan dalam “Tak Lagi Sejati”. [Sandy Nugraha]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.