close

Song of The Year 2015 (II)

no thumb

Back : Song of The Year 2015 (10-6)

 

5. Blur – Go Out [Magic Whip]

Hingga album kedelapan Blur—dan deretan proyek lainnya—kita masih sulit sekali melihat Damon Albarn gagal. “Go Out” tak beda jauh dengan musik-musik 90-an mereka, namun terdengar lebih relevan, seolah zaman yang mengikutinya. Albarn tetap bernyanyi secara serampangan (dan putus-putus, “To the lo-o-o-o-ocal, by myself”) dibalas serupa oleh sabet-sabetan gitar noise Graham Coxon. Semua berderap bergantian dalam ketukan ritme yang ajaib. Untuk berulang-ulang kalinya harus dikatakan: selamat jalan Oasis!

4. Kurt Vile – Pretty Pimpin [B’lieve I’m Goin Down]

 

 

Pemain indie folk produktif ini membuka album keenamnya dengan kisah kehilangan identitas: “I woke up this morning / Didn’t recognize the man in the mirror / Then I laughed and I said, “Oh silly me, that’s just me” / Then I proceeded to brush some stranger’s teeth / But they were my teeth, and I was weightless.” Namun, sebingung apapun, ia masih kenal betul cara paling menawan untuk membawakan petikan gitar necis yang konstan.

 

3. Adele – Hello [25]

 

 

“Hello, it’s me,” sapa suara yang paling dirindukan oleh industri musik. Sosok protagonis di percaturan diva ini mencoba membenahi kegagalan romantikanya yang bernilai 30 juta kopi lewat balada nostalgia bertajuk “Hello”, meski tetap dengan spektrum patah hati serupa. Vokal primadona yang melanglang (“Hello from the other side / I must have called a thousand times,”) lagi-lagi harus membawa masalah besar bagi para pencatat rekor musik dunia.

2. Kendrick Lamar – The Blacker The Berry [To Pimp a Butterfly]

 

Insiden penembakan Trayvor Martin di tahun 2012 membuahkan gelombang sajak-sajak ofensif dari jagat hip hop terhadap aksi rasisme kulit putih. Namun, tiba-tiba vokal Kendrick Lamar yang berdebu malah menggugat krida bangsanya sendiri. “I’m the biggest hypocrite of 2015!” serunya disusul rap agresif tipikal ketegangan rasial yang berujung pertanyaan introspeksi terdahsyat: “So why did I weep when Trayvon Martin was in the street? When gang banging make me kill a nigga blacker than me?”

 

1. Courtney Barnett – Pedestrian At Best [Sometimes, I Sit and Think, And Sometimes I Just Sit]

 

Ilustrasinya seperti ini:

Anda adalah sosok kolektor musik yang tak kenal payah menjamah seluk beluk Soundcloud, iTunes, Youtube, Songkick, hingga belantara Torrent. Di suatu pagi yang cerah Anda menyusun playlist musik andalan di iPhone kesayangan seharga sepeda motor. Dan karena ini adalah tahun 2015 maka isinya pepak akan rap asal glamor, sampah elektronik, deretan single pop serba featuring, pembodohan Billboard, sisa-sisa hits Ed Sheeran dan ya, Meghan Trainor. Berhari-hari lewat hanya hitungan. Di suatu pagi lain yang lebih cerah, kotoran mata yang tersisa mengganggu pandangan Anda, dan salah klik streaming jadi keniscayaan. Takdir berkata Anda tak sengaja memutar “Pedestrian At Best”, lagu yang entah apa. Volume tak tertahankan. Tensi darah meronta-ronta. Dua putaran refrain terlewati. Sebuah bangku kerja di pojok kamar menjelma Darth Vader yang mesti ditaklukan. Dua tangan ternyata cukup kuat mengangkatnya, pun untuk menerjunkannya ke tubuh sang iPhone yang terkapar dengan wallpaper album Purpose dari Justin Bieber. Berkeping-keping di ujung refrain ketiga.

Go Check:

Album of The Year 2015

Indonesian Album of The Year 2015

Indonesian Song of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response