close
IMG_7637

Rangkuman kebahagiaan konser Sore di Lokananta

sore © Rimustik Event Organizer
sore © Rimustik Event Organizer

Selayaknya acara band ala ala acara pensi sekolahan atau kampus, acara ini sengaja memasang angka 6 dengan satuan PM di selebarannya. Seakan jadi mitos ada kaum yang percaya dan ada yang tidak, tapi sepertinya lebih memihak pada kaum yang bersikap tidak. Lebih setengah jam venue masih diisi segelintir penonton sembari menikmati pertunjukan sound check dari atas stage. Tapi mitos mulai pudar ketika pembawa acara keluar. Entah siapa namanya, tapi mereka cukup baik membuka acara ini. Mengenalkan para performers yang akan tampil bukan hanya dengan menyebut nama atau diimbuhi kelakar, mereka membacakan profil band secara singkat, padat, dan jelas.

Dibuka oleh band indie Solo, Rintik Hujan. Band yang baru saja merilis album Sederhana ini menyapa penonton dengan nomor “Arjuna Kau Membuat Gila”. Menjadi band yang sedang bergaung di Kota Solo menjadi sumber penghasil penasaran untuk sebagian penonton. Warna musik yang menuhankan kesan vintage dalam karyanya menjadi jembatan penyambung dengan bintang yang sebenarnya. Rintik Hujan melenggang dengan “Don’t Worry”, tepuk tangan sebagai apresiasi ikut melegakan. Bagaimanapun band indie di rumah sendiri harus dikenal oleh penikmat musik lokal. Meski sudah melahirkan album yang dirilis dengan fisik kaset pita, Rintik Hujan masih mengcover “Wouldn’t it Be Nice” dari Beach Boys. Pengenalan untuk lagu sendiri sebenarnya justru malah ditunggu, dan akhirnya mereka menutup salam dengan single “Tunggu Aku”.

Sore mulai mengokupasi panggung lewat single andalan “No Fruits For Today”. Rasa gemas hadir ketika lagu ini dibawakan tapi tak ada suara megah dari Mondo Gascaro. Memang masih sama dengan aslinya, hanya masih terbawa ekspetasi akan hadirnya Mondo di lagu ini.

Kelakar ringan disisipkan, dan dilagukanlah “Ambang”. Salah satu nomor dari album Centralismo ini membius penonton, suara mendayu khas Ade Paloh perlahan menuntun tubuh untuk terhuyung. Masih saja dengan aksi panggung yang santai, Sore memuji suasana petang itu di Lokananta. Angin sepoi dan udara sejuk dari bediding yang singgah di Solo akhir-akhir ini menyambut lantunan lagu “Bogor Biru”. Lagu yang menjadi soundtrack film Modus Anomali ini mengangkat dinamika pertunjukan. Seratusan Sorealist malam itu diajak mengangguk, melonjak dan berteriak menyanyi seirama.

Malam itu Sore seakan ingin mengenang kedigdayaan album perdana mereka, seperti sebelumnya, tembang dari Centralismo dilantunkan. “Somos Libres” dan “Mata Berdebu” adalah nomor yang memperpanjang deretan kenangan tersebut.

“Merintih Perih” menjadi nomor kedua dari album Ports Of Lima. Belum ada yang berbeda dari lagu ke lagu, suasana malah semakin santai. Gurauan ‘bebas’ oleh mereka di atas panggung mengundang gelak tawa pengunjung. Sembari bergurau, Sore juga menyampaikan bahwa konser malam itu juga termasuk dalam rangka menjelang perilisan album Los Skut Leboys. Sebelumnya Los Skut Leboys hadir di penghujung 2014 lalu dengan format extenden play (EP).

Menyambung isu soal perilisan album baru, disuguhkanlah “There Goes”, salah satu single dalam EP Los Skut Leboys. Masih sedikit pelit akan materi-materi baru mereka, “There Goes” menjadi satu-satunya nomor anyar di konser ini. Kebahagiaan dilimpahkan kembali kepada nomor lawas. Adalah “Layu” yang melagu, disusul dengan nomor dari album Ports Of Lima, “Etalase”.

“Apatis Ria”, begitu judul ini tersemat di udara, sontak disambut gembira para pendengarnya. Koor masal pun membahana, suara Ade Paloh yang sedari tadi lamat-lamat terdengar semakin ditutupi oleh nyanyian pemujanya. Tampaknya Sore memang benar-benar mengkomposisikan setlist dengan baik. “Apatis Ria” menjadi awal untuk sing along kaum Sorealist, bagaimana tidak menjadi lanjut jika “Pergi Tanpa Pesan” pun ikut dalam iring-iringan penghujung pertunjukan ini.

Lagu terakhir mereka membunyikan salam perpisahan dengan single andalan, “Ssst” menjadi pilihan. Tentu masih dengan riuhnya suara penonton, riuh ini seakan menjadi tanda penolakan akan berakhirnya pertunjukan. “Ssst” sudah benar-benar diam, ucapan selamat malam dan terima kasih pun telah diucapkan. Tapi seperti kebiasaan teriakan “we wants more!” menjadi ayat wajib untuk sebuah pertunjukan. Seakan sudah siap akan permintaan itu, Sore pun kembali dengan lagu “Setengah Lima” sebagi encore. Sekali lagi koor masal pun tak terelakkan, kebahagiaan terlihat walau ini telah menjadi akhiran. [WARN!NG/Nugraha Sandy]

Event by : Rimustik Event Organizer
Date : 13 Juni 2015
Venue : Lokananta Studio, Solo
Man of The Match: Koor masal dari lagu “Apatis Ria” hingga encore “Setengah Lima”.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.