close

“Sound of Jazz”: Alunan Jazz dalam Balutan Kesederhanaan

no thumb

Jogja National Museum (JNM) tidak seliar biasanya. JNM yang akrab dengan musik hardcore, mengalami pergantian suasana. Minggu (26/5), mahasiswa ISI yang tergabung dalam Student Symphonyc (Studsy) menggelar konser bertajuk “Sound of Jazz” tepat di Pendopo Ajiyasa JNM.

Karpet merah menimbulkan kesan elegan khas pertunjukkan jazz di malam yang gerimis itu. Dekorasi sederhana dan lighting minimalis pun mendampingi kesan elegan itu. Alhasil, suasana elegan dan santai lahir di JNM malam itu, malam yang tidak sepanas biasanya.

Pukul 19.45 WIB, sekumpulan orang berjas hitam dan ber-jeans biru memasuki panggung. Mereka duduk dan menyiapkan alat musik masing-masing. Setelah semuanya masuk, sang konduktor, Singgih Sanjaya, naik ke panggung dan disambut tepuk tangan yang meriah.

Setelah gemuruh tepuk tangan reda, para pemain yang mayoritas memegang alat musik tiup membuka pagelaran dengan lagu “Big Band Cavalde”. Lagu jazz ini memberikan hentakan di awal dan berayun kemudian, cukup untuk memberikan efek nendang sebagai pembuka. Sayang, feedback terjadi berkali-kali pada lagu pembuka ini. Lengkingan-lengkingan tinggi terulang hingga empat kali dan hal ini menjadi satu gangguan bagi para pendengar. Meski begitu, repertoar ini tetap mengundang tepuk tangan meriah setelah selesai dimainkan.

Selesai repertoar pertama, MC naik ke panggung dan memperkenalkan Studsy kepada para penonton. Ia menjelaskan bahwa Studsy merupakan komunitas musik jazz yang terbuka bagi siapa saja. Selesai penjelasan singkat MC, acara pun dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia. Sambutan yang diberikan begitu singkat, sekedar ucapan syukur saja. “Saya bingung mau ngomong apa. . .intinya, selamat menyaksikan,” ujar Danar Dono menutup sambutan singkatnya.

“Fattore Jam” menjadi lagu kedua yang dibawakan, disusul dengan “Impromtu for Studsy” dan “A Night In Tunisia”. Empat lagu berturut-turut, Studsy terus memanjakan telinga penonton dengan jazz yang mengalun. Sebelum sesi pertama berakhir, “Fusion No. 1” dimainkan. Kali ini, Singgih Sanjaya memainkan pianika solo, sementara tugasnya sebagai konduktor digantikan oleh Bagaskara B.S.

Setelah jeda selama 15 menit, sesi kedua pun dimulai. “Wring That Neck” karya Deep Purple membuka sesi ini. Tanpa ada jeda, lagu selanjutnya, yakni “Body and Soul” dibawakan oleh brass section dengan solo trombone oleh Iwank Markzaid. Musik yang swinging kembali dibawakan kali ini. Permainan trombone Iwank pun memberikan kesan mendayu yang sekali lagi memanjakan telinga. Selesai membawakan “Body and Soul”, terjadi dialog antara MC dengan Iwank, yang berujung menjadi guyonan ringan khas ISI guna mencairkan suasana.

Selanjutnya, repertoar yang dibawakan adalah medley “Barry Manilow”. Repertoar kali ini merupakan gabungan dari lagu-lagu Barry Manilow, salah satu penyanyi kontemporer yang telah mendunia. Nuansa pop-jazz kental terasa pada lagu ini. Tempo swinging dan harmoni sederhana dalam repertoar ini menjadi salah satu cirinya.

“Smile”, musik yang menjadi theme song Charlie Chaplin: Modern Times, menjadi repertoar ke Sembilan. Kali ini Bagaskara B.S. menjadi solisnya. Sebelum mulai bermain, sang konduktor memperkenalkan Bagaskara kepada penonton. Tak lupa, Singgih Sanjaya juga menceritakan segudang prestasi yang telah diraih pemain oboe ini, beserta dengan berita bahwa bulan Juli ia akan melanjutkan kuliah musik di Singapura.

Setelah tersihir oleh permainan Bagaskara yang menakjubkan, alunan jazz kembali dihadirkan melalui lagu “Spain”. Kali ini, Studsy menampilkan pula satu vocal group yang terdiri dari 6 orang. Sayang, karena terlalu kerasnya brass section di belakang, suara para penyanyi di depan justru kurang terdengar.

Setelah lagu yang dicanangkan menjadi lagu terakhir itu dimainkan, acara dilanjutkan dengan pemberian bunga oleh penonton kepada conductor dan ketua panitia. Selesai pemberian bunga, MC pun memberikan memberikan kata penutuh pagelaran ini dengan ucapan maaf dan terima kasih, diselingi dengan gurauan yang sebenarnya garing. Tepuk tangan meriah pun diberikan seusai penutupan. Namun, tanpa direncanakan, “Big Bang Cavalde” kembali dialunkan sebagai encore pagelaran musik jazz yang sederhana namun memanjakan ini. [Warning/Yudha]

Event by : Student Symphonic
Venue : Jogja National Museum
Date : 26 Mei 2013
Man Of The Match : Pagelar musik jazz di tempat semestinya; Sederhana
Rating : ***

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.