close

Soundgrass: Grunge Pembawa Pergerakan Lokal

soundgrass
Soundgrass
Soundgrass

 

Tak bisa dipungkiri bahwa pergerakan musik, baik mainstream maupun sidestream selalu berkutat di kota-kota besar macam Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan tentu saja Jakarta. Dominasi keempat kota tersebut masih menancap kuat dalam paradigma pikir; menegaskan bahwa kemajuan mutlak milik mereka sedangkan yang lain hanya numpang permisi belaka. Tentu saja hal tersebut merupakan kesenjangan yang teramat menyedihkan. Seolah daerah lain cukup menjadi penonton tanpa memberi kontribusi nyata. Akan tetapi perlahan demi perlahan teori itu mulai terkikis keadaan. Geliat skena lokal semakin menunjukkan taji masing-masing. Tak peduli batas geografis dan sosiologis; semua berjalan demi menyebarkan kesamaan visi juga misi. Salah satunya adalah Semarang.

Membicarakan Semarang tak ubahnya membahas situs budaya peninggalan kolonial berwujud Lawang Sewu atau mengulik khazanah wisata kuliner berupa bandeng presto yang masyhur dan lumpia yang menggoyang urat lidah. Di luar kedua subjek itu, mohon maaf Anda tidak mendapatkan reservasi tempat. Namun dalam sekitar rentang waktu duabelas bulan terakhir, perbincangan mengenai dinamika budaya semakin melaju cepat. Komunitas independen tumbuh subur, ruang alternatif kian menjamur dan gebyar festival tak mampu ditahan kehadirannya. Jika diminta menyebutkan pihak yang berperan penting dalam kebangkitan tersebut maka Semarang On Fire—media online yang aktif menyediakan informasi serta akses promosi bagi ruang alternatif Semarang—patut berada pada urutan atas daftar apresiasi atas upayanya sampai hari ini. Karena dengan bantuannya pula saya berhasil menemukan kolektif bernas bernama Soundgrass.

Semenjak Cupumanik dan Navicula mengibarkan bendera grunge di bumi nusantara, nyatanya tak merubah fakta bahwa diperlukan upaya ekstra untuk menemukan mutiara-mutiara yang terpendam di endapan bawah tanah. Tak seperti folk yang gencar melakukan ekspansi atau pop yang mudah dijumpai di televisi; kemunculan kemeja flannel, celana jeans yang belel, sepatu Converse lusuh ditambah lirik bermuatan sosial-politik jarang diketemukan di kawah permusikan. Tak ayal ketika Soundgrass muncul ke panggung pementasan, antusiasme berubah pesat seketika. Harapan untuk melebur bersama distorsi kasar dan luapan ketidakpuasaan bukan sekedar angan yang melayang.

Band yang beranggotakan Hario Putro (gitar), Hibatul Zamzami (vokal), Bramasta Hanifa (drum) dan Marthian Sularso (bass) ini dibentuk dari ketidaksengajaan. Tatkala sedang menikmati keintiman Ten milik Pearl Jam dan Bleach karya Nirvana, Iqbal dan Hario merasa memperoleh inspirasi besar yang mengarahkan keduanya pada keputusan untuk mendirikan sebuah kolektif bermusik. Pemilihan nama Soundgrass pun diakui tidak memiliki makna filosofis tertentu; sekedar ingin nampak solid saat identitas tersebut dipasang melalui medium artwork maupun flyer publikasi.

Untuk urusan karya, beberapa lagu sudah mereka hasilkan. Di antaranya ada “Asylum” yang kental dengan progresi rapat serta “Blame” yang sarat presisi kompleks. Selain itu, proses pembuatan EP perdana sudah memasuki tahap finishing. Rencananya, dalam tiga bulan ke depan akan dilepas ke pasar umum. Secara garis besar, warna musik Soundgrass pada EP nanti masih terpengaruh kejayaan Seattle Sound yang dibesarkan Alice In Chains, Nirvana, Pearl Jam juga Soundgarden. Jika band beraliran grunge identik dengan penulisan lirik menyoal kemelorotan moral, Soundgrass lebih memilih untuk tidak ambil pusing; atau tepatnya lebih senang menuliskan kisah cerita di sekitar sebagai pelengkap keliaran. Untuk membereskan urusan penyempurnaan EP, mereka menghabiskan waktu sekitar sembilanpuluh hari masa kerja ditambah tiga kali pengambilan shift recording materi. Tak hanya berkerja secara mandiri, Soundgrass turut serta menggandeng rekan-rekan terpercaya yang sudah kompeten di bidangnya demi mewujudkan rilisan berkualitas. Direkam di Strato Studio dengan bantuan Adhi Uban selaku sound engineer, Luthfi dari Sugar Bitter memegang mixing-mastering dan Sakti Reviandana memoles cover sampul sesuai jati diri yang dibawa. Ditambah lagi dalam kemasan packaging EP, kelak terdapat sajian visual yang menggambarkan nafas tiap lagu; sekaligus merepresentasikan seperti apa integritas Soundgrass.

Saat ditanya mengapa mengambil tema grunge sebagai arah bermusik, Soundgrass menjawab dengan cukup meyakinkan. “Ya niatnya sih mau buat genre baru era 2000-an. Tapi kok susah ya? Kenapa ambil grunge soalnya masih dikit (yang bawain itu). Harusnya dengan tidak banyaknya band grunge bisa lebih banyak yang mendengarkan dan mengikuti perkembangannya, harusnya. Kurt Cobain dan antek-anteknya terlalu hebat kalo tidak diapresiasi”, pungkas Soundgrass dalam wawancara bersama WARN!NG beberapa waktu lalu.

Apabila setiap band mempunyai rencana yang berujung pembuatan album penuh, maka tidak dengan Soundgrass. Iqbal beralasan bahwa ketidakmampuan dalam menyatukan benang merah antar lagu dirasa menjadi ganjalan utama yang dihadapi. “Nah ini yang saya tunggu tunggu. Kita engga bakal buat album penuh dan engga ada niatan ke sana. Susah coy buat 10 lagu lebih dengan benang merah yang sama. Otak anak-anak Soundgrass engga kuat kalo buat album penuh, hehehe.”

Melihat kompetensi yang mereka miliki, rasanya ucapan Iqbal tinggal menunggu waktu untuk tertelan kembali dengan keluarnya album penuh yang gahar dari pencapaian sekarang. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Check them out!

Soundcloud Soundgrass

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.