close

Sounds From The Corner: Menebar Inspirasi Lewat Tayangan Bertaji

team SFTC
Sounds From the Corner
Sounds From the Corner

Di tengah kondisi budaya kekinian yang semakin melesat maju, inovasi mutlak diperlukan; agar nantinya mampu mengakomodir berbagai relevansi kemungkinan. Tak ayal, banyak pihak berlomba-lomba menawarkan konsep perubahan, khususnya dalam bidang musik. Selain sebagai bentuk propaganda perubahan atas keadaan satir dunia musik tanah air yang bergerak stagnan, juga bertujuan untuk menyuguhkan sajian berkualitas prima bagi para penikmat. Maka atas alasan itulah, sebuah unit kolektif bernama Sounds From The Corner (STFC) hadir untuk menjawab kegundahan.

Dibentuk dari proyek pribadi Dimas Wisnuwardono, Sounds From The Corner telah berkembang menjadi salah satu pionir kemajuan kancah independen. Bergerak di bidang dokumentasi skena musik lokal, kelompok yang digawangi Teguh Wicaksono, Ferry Arya Seto, Deni Abdurrachman, Herald Reynaldo, Ananda Suryo, Adythia Utama, Tyas Wardhani, Priscilla Jamail, dan Dimas Wisnuwardono ini sudah menelurkan 26 sesi dokumentasi musik baik secara live performance maupun tatap muka dengan musisi terkait. Jangan ragukan kapasitas musisi di dalamnya. Seringai, Payung Teduh, SORE, The Adams, Morfem, dan Barasuara telah berhasil dikerjakan penuh totalitas. Dan hasilnya dapat diakses secara cuma-cuma melalui website maupun kanal YouTube milik mereka.

Kali ini WARN!NG berkesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang Sounds From The Corner. Diwakili Teguh Wicaksono yang bertindak sebagai Program Director SFTC, obrolan mengalir lancar menuju tiga titik; introduksi, proses kurasi dokumentasi sampai harapan untuk ruang independensi.

Bisa sedikit diceritakan bagaimana awal mula SFTC terbentuk?

Pada awalnya SFTC merupakan project pribadi Dimas Wisnuwardono. Pada era itu Dimas merupakan salah satu videografer yang giat mendokumentasikan skena musik lokal, dengan karakter yang kuat. Lalu pada pertengahan 2012 saya ikut membantu mengkonsep dan menjalankan programnya. Pada saat produksi tiga artis pertama kami yakni Raisa, Maliq N’ D’Essential dan Soulvibe, kami jalan berdua dibantu teman-teman. Seiring waktu, SFTC bertambah besar dan tim kini kami terdiri dari sekitar 8 orang.

Apakah yang ingin SFTC tawarkan ke penikmat musik?

Gagasan besar SFTC adalah menjembatani khalayak banyak dengan musik dan musisi lokal berkualitas, dalam format penampilan live yang bisa diakses Online. SFTC juga merupakan upaya untuk mendokumentasikan skena lokal Indonesia. Seperti yang kami jabarkan di About Page SFTC, this is our way to give back, inspire and pay respect.

Bagaimana SFTC sendiri bekerja?

Cukup sederhana. Kami berdiskusi dengan artis bersangkutan konsep performance yang akan digarap, berkordinasi dengan tim internal, menentukan jadwal, memastikan availability semua pihak, mengambil gambar, mengedit, lalu publish video.

Sejalan dengan tujuan SFTC yang ingin menyediakan layanan music video dengan kualitas gambar dan suara bagus, bagaimana kriteria SFTC dalam menyeleksi musisi yang akan diajak untuk bekerjasama?

Kurasi merupakan aspek yang cukup esensial dalam SFTC, karena kami ingin memastikan bahwa artis yang menjadi roster SFTC harus berkualitas. Kami ingin SFTC jadi destinasi khalayak untuk mengakses musik berkualitas dari Indonesia. Kalau kamu ke website kami, bisa terlihat bahwa kami menjejerkan NOAH bersama dengan Seringai, Raisa dan Tulus dan artis lainnya. Ini upaya kami untuk meleburkan batasan genre, atau pengertian orang tentang segmentasi apapun yang ada di sekitar kita. Yang ingin kami tampilkan hanya musik berkualitas, titik. Karena pada akhirnya hanya ada dua jenis musik, yang berkualitas dan yang tidak. SFTC menghadirkan musik yang berkualitas, digarap dengan audio dan video yang bertanggung jawab.

Soal proses kurasi, tim SFTC cukup percaya kuping, mata dan hati sendiri.

Oke, sangat menarik. Bagaimana untuk pembuatan SFTC edisi suatu festival musik? Adakah rencana untuk itu?

Beberapa video live kami memang diambil dari event-event musik—termasuk festival, tapi kami hanya merampingkan konten hanya artis tertentu. Alasannya karena kami mendokumentasikan penampilan artis, bukan event. Namun, pikiran untuk edisi festival musik tentunya sempat terpikir, tapi secara teknis pasti akan lebih rumit, dan membutuhkan tim produksi yg jauh lebih besar.

Lalu adakah rencana untuk mengambil/membuat sesi dengan musisi indie luar negeri?

Pastinya berniat, bila ada kesempatannya pasti kami lakukan, ada rencana untuk melakukannya di masa mendatang.

Ke depan, adakah kemungkinan SFTC membuat film dokumentasi tentang musik?

Ada, kami sudah melakukan itu dengan DjakSphere di masa lalu, dan sedang melakukannya dengan Indonesia Mahardhika, kompilasi musik progresif Indonesia.

Musisi Indonesia yang ingin dibuat sesi bersama SFTC siapa?

Terlalu banyak untuk dijabarkan.

Independent movement identik dengan profit yang jauh dari harapan, bagaimana SFTC menyiasati kondisi tersebut?

SFTC berjalan atas dasar ambisi/visi/gol yang selaras dari orang-orang yang ada di dalamnya. Walaupun bukan project yang komersial, namun kami selalu berusaha untuk memberikan kompensasi, sekecil apapun. Kami bekerja sama dengan pihak ketiga (brand, studio, audio provider, komunitas etc). Kami juga mendulang sedikit pemasukan dari video monetization.

Bisa dibilang, SFTC adalah independent movement. Bagaimana SFTC memandang gerakan independen yg makin lama makin ke sini makin dinikmati publik?

Tentunya kami senang, dan adalah misi SFTC juga untuk menyebar luaskan musik yang tidak mendapatkan exposure dari media tradisional. Musisi non-mainstream Indonesia sangat banyak yang punya potensi dan kualitas yang sangat baik, dan semakin banyak orang yang familiar dengan mereka, semakin berkembang juga referensi orang Indonesia terhadap musik berkualitas.

Infrastruktur Online di Indonesia perlahan berkembang, generasi anak anak muda sekarang juga semakin aware dengan budaya digital, dan itu merupakan salah satu penentu yang esensial bagi kami karena media tradisional pada dasarnya sama sekali tidak mendidik dan menginformasikan khalayak dengan baik.

Di halaman YouTube kami banyak komentar yang mengatakan “wah kapan artis ini bisa ada di TV”, dan itu menunjukkan dengan jelas bahwa ada information gap yang besar, dan SFTC merupakan upaya untuk menambal gap tersebut dengan menyediakan referensi yang baru, berkualitas dan tepat guna.

Wawancara oleh Muhammad Faisal

Tags : Interviewsounds from the corner
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response