close

STUDIORAMA: Jembatan Estetika Budaya Populer

studiorama
studiorama
studiorama

 

Seni adalah molekul daya pikat yang saling tarik-menarik dan kadang juga menjauh satu sama lain demi mewujudkan sensibilitas primer; baik secara audio maupun kinetik konseptual. Namun sebuah kolektif seni yang bermukim di ibukota berusaha untuk memfasilitasi enigma tersebut agar dapat berjalan bersama tanpa harus kehilangan taji masing-masing.

STUDIORAMA adalah wujud konkret dalam menjawab problematika yang (sering) muncul ke permukaan, tentang bagaimana menyatukan sisi-sisi runcing dari sebuah kesenian.

Mereka bergerak konstan membuat pertunjukkan seni kolaborasi antar musisi. Total sudah lima buah karya yang mereka buat dalam wujud STUDIORAMA Session dan STUDIORAMA Live. Menampilkan Future Collective, Ramayana Soul dan Voyagers of Icarie dengan balutan kontempelasi unik dan berkualitas, membuktikan bahwa STUDIORAMA tak ingin berhenti pada satu kutub saja.

Maka sesi tanya-jawab WARN!NG dengan perwakilan STUDIORAMA akan memberikan gambaran seluk-beluk terkait kolektif ini secara rigid. Dari analogi milik Adam Smith sampai kedatangan Mac Demarco pada 22 Januari mendatang.

 

Apa tujuan dan visi dari terbentuknya STUDIORAMA ini?

Menjadi jembatan bagi para pengisi acara baik musisi dan/atau seniman yang berkualitas namun belum mendapatkan sorotan yang pantas dalam ruang berkesenian tanah air.

Apakah STUDIORAMA membuat segmen pasar tersendiri untuk menikmati sajian kolektif seni kalian?

Tidak. Tapi jika publik melihatnya demikian, maka itu terjadi secara tidak sengaja. Menurut ekonom termahsyur, Adam Smith, pasar tercipta karena adanya campur tangan invisible hands. Mungkin ini yang terjadi dengan STUDIORAMA.

Selain musik, kalian juga membuat konsep seni-visual yang mungkin cenderung kompleks dan berestetika tinggi. Bagaimana kalian menemukan inspirasi di balik pembuatannya?

Kami menemukannya lewat misi STUDIORAMA yang selalu kami pegang teguh: nilai estetika yang terintegrasi dengan kesenian populer, baik itu musik, karya visual, tari, pahat, atau ragam karya seni lainnya. Kami menganggap bahwa musik dan visual sebagai bentuk kesenian yang sangat menarik; tetapi kami “curiga” hasil perpaduan keduanya dapat menawarkan sesuatu yang lebih menggugah.

STUDIORAMA memiliki dua buah acara di dalamnya: sessions dan live. Dan yang mungkin jadi halangan adalah masalah pendanaan dan konsistensi untuk mewujudkan sesi STUDIORAMA secara teratur. Bagaimana STUDIORAMA menanggapi kedua hal tersebut?

Pada dasarnya kedua hal tersebut bukan masalah besar. Kami menikmati proses pengerjaan sehingga segala aspek yang kami lalui, termasuk pendanaan dan konsistensi—termasuk konsisten dalam mencari dana—memang pantas untuk dialami dan bukan merupakan beban.

Di dalam pengerjaan sesi live, apakah STUDIORAMA menetapkan tema yang berbeda? Atau hanya berpaku pada satu konsep besar yang dimiliki STUDIORAMA?

Tentu saja berbeda. Jika hanya terpaku dengan satu konsep saja, itu artinya bermain terlalu aman. Dan kami selalu ingin untuk bereksperimen, jauh dari main aman. Ini bisa dilihat dari gelaran-gelaran STUDIORAMA LIVE yang berbeda satu sama lain, seperti STUDIORAMA LIVE #4 yang mengandalkan visual, baik dengan proyektor atau pemanfaatan standing lamp, dan STUDIORAMA LIVE #5 yang menghadirkan penari kontemporer.

Saya mengamati berbagai artis atau musisi yang sudah pernah berkolaborasi bersama STUDIORAMA. Dari Voyagers of Icarie, Ramayana Soul, Future Collective, sampai Mac Demarco. Dan saya menyimpulkan bahwa mereka yang diundang begitu cutting edge. Bagaimana proses kurasi untuk pemilihan tersebut?

Dilakukan secara bebas, bertanggung jawab, dan dengan meleburkan beragam disiplin yang menjadi latar belakang individu-individu yang terlibat dalam kolektif Studiorama. Masing-masing dari kami hidup dan merayakan kancah musik yang berlangsung saat ini. Dengan mengamati apa yang terjadi di sekitar, kami mencoba menangkap entitas mana yang relevan untuk ditampilkan dalam setiap gelaran kami.

Dan juga genre yang dibawakan musisi tersebut juga tidak begitu populer di masyarakat umum. Misal electronic retro-futurism, folk berbalut elektronika, atau psikadelia ketimuran. Memang sepaham dengan visi STUDIORAMA untuk mengenalkan seni yang ‘rumit’?

Menurut kami, gelaran STUDIORAMA menyajikan seni budaya populer atau dengan kata lain tidak rumit. Kami senang dapat memperkenalkan sajian kesenian budaya populer yang segar.

Lalu, seberapa penting sebuah nilai filosofis musik menjadi spirit yang diangkat STUDIORAMA ke wujud karya seni kolektif?

Menjadi sangat penting karena persoalan musik adalah persoalan jiwa bagi kami yang tergabung dalam STUDIORAMA.

Berbicara mengenai materi publikasi saya tertarik dengan beberapa poster untuk live sessions yang sudah dibuat. Kesan psikadelia begitu kuat. Siapa yang bertanggung jawab di dalamnya?

STUDIORAMA adalah kolektif, setiap individu di dalamnya bertanggung jawab terhadap citra kolektif ini. Namun jika berbicara soal desain poster, Ardneks adalah pihak yang bertanggung jawab mendesainnya.

Membicarakan acara kalian tanggal 22 Januari besok, bisa sedikit diceritakan mengapa Mac DeMarco menjadi pilihan STUDIORAMA?

Kami terdorong untuk mengundangnya setelah tahu bahwa ia akan menjalani tur Asia Pasifik pada awal 2015. Kebetulan, kami adalah penggemar karya-karya dari anak emas musik Kanada tersebut dan mengetahui bahwa promotor lokal Prasvana—yang diperkuat oleh kawan-kawan kami—kemudian mengajak STUDIORAMA bekerjasama untuk mendatangkan Mac DeMarco, maka ini menjadi kesempatan yang tak bisa dilewatkan. Bakal menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Lebih lanjut lagi, menurut kami Mac DeMarco adalah salah satu ikon muda yang mampu merepresentasikan belantika musik independen saat ini.

Wawancara oleh: Muhammad Faisal

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.