close

Suara Untuk Sesama

Pure Saturday (3)

Hujan malam itu seakan ikut memberikan apresiasinya kepada nada-nada indah yang terdengar dari GOR UNY. Bahkan hujan di luar ruangan itu ikut bernyanyi ketika tiupan angin semilirnya menyegarkan penonton yang malam itu kepanasan karena penuh sesak.

WSATCC © Warningmagz
WSATCC © Warningmagz

 

Pure Saturday © Warningmagz
Pure Saturday © Warningmagz

White Shoes and The Couples Company(WSATCC) serta Pure Saturday menjadi bintang yang ditunggu malam itu (26/10). Konser yang diadakan oleh FE UNY dengan tema “Musik untuk Semua” rasanya memang cocok mengingat kedua band yang menjadi bintang tamu itu dicintai oleh semua kalangan. Bahkan terlihat beberapa turis mancanegara yang datang untuk menonton WSATCC. “Do you love this band?”. Sontak turis tersebut mengiyakan tanpa ragu pertanyaan yang dilontarkan oleh MC.

FSTVLST dan Sri Plecit ditambah Orkes Pensil Alis, Briliant, Sophiasoviastolka, dan Holiday Anna menjadi band pengantar acara yang dimulai pukul 3 sore tersebut. Tiga comic dari Stand Up Jogja yaitu Hifdzi Khoir, Bene Dion, dan Mukti Entut ditambah Ge Pamungkas mampu mengocok perut sebagian besar penonton. Hadirnya empat comic ini menjadi jeda istirahat bagi telinga yang sedari sore dihajar dentuman amplifier yang tak kalah kerasnya.

Atraksi Panggung

Sri Plecit yang malam itu membawakan 6 lagu, mampu membangkitkan gairah berjoget penonton yang sebelumnya hanya duduk menyimak panggung. Saat yang ditunggu tiba ketika personel WSATCC mulai mengokupasi panggung dan memainkan sebuah intro. Penonton mulai berteriak histeris ketika Sari (vokalis) muncul dengan mengenakan dress berwarna merah yang sewarna dengan bibirnya menambah kesegaran malam itu. “Masa Remadja” menjadi lagu pertama yang disuguhkan dengan sangat apik oleh Sari sembari jari lentiknya memainkan kipas lipat.

Panasnya malam itu tidak membuat band yang kerap tampil di jogja ini terganggu. Penguasaan panggung yang sangat baik ditambah atraksi tari-tarian yang enerjik menjadi nilai tambah. Bahkan ajakannya berjoget kepada penonton pada lagu “Cangkurileung” mendapat sambutan meriah kemudian diikuti respon yang positif pula. Asiknya malam itu dirasakan pula oleh segenap personel WSATCC.

Candaan pun tak lupa tertutur dari mereka. “Lambe sing nduwur opo sing ngisor?” (Bibir yang atas apa yang bawah?” ujar Sari. “Wah vokalise saru” (Wah vokalisnya tidak senonoh” Mela sang keyboardis menimpali diikuti tawa penonton. Sontak Ricky (bass), John (drum), Saleh (guitar), dan Rio (guitar) ikut menertawakan dua personel perempuan mereka itu. Lagu “Aksi Kucing” menjadi jawaban dari aksi gimmick mereka tadi. Lagu-lagu perpaduan dari single, album pertama dan kedua dibawakan mereka malam itu. “Vakansi”, “Senandung Maaf”, “Matahari” merupakan beberapa lagu yang memuaskan gairah penonton. WSATCC menutup malam itu dengan “Tam-tam Buku”.

Berakhirnya WSATCC membuat penonton untuk undur diri lebih dulu. Keputusan yang kurang tepat, mengingat penampil selanjutnya adalah  dedengkot indie pop yang jarang pentas di Jogja. Jam menunjukkan pukul 11 malam ketika Pure Saturday mulai beratraksi di atas panggung. Sambil memegang gitar akustik, Iyo dkk mulai menyanyikan lagu “Labirin” yang disambut riuhan penonton yang semakin merapat ke panggung. Aksi Pure Saturday memang minim interaksi, mereka paham para penonton ingin sing along bersamanya.  Kemudian “Elora” dimainkan sembari diikuti suara penonton yang belum surut semangatnya.

Atraksi panggung yang dilakukan oleh Iyo juga tak kalah menariknya, ia melompat dari satu sisi ke sisi lain sambil menodongkan mic kepada penonton. Ditambah bagi-bagi merchandise secara gratis, praktis membuat antusias penonton semakin naik. Sayang di beberapa lagu terjadi kesalahan teknis dari sound system sehingga Adi terlihat beberapakali membenahi setelan gitarnya. Akan tetapi suguhan lagu-lagu seperti “Spoken”, Kosong”, dan penutupnya “Desire” sukses membuat penonton mendera eargasm. Walau ditinggal beberapa penonton, Pure Saturday tetap perform dengan maksismal .

Sedikit mengingat satu bulan yang lalu, jika kita amati jalanan jogja, tak sulit untuk menemukan promosi acara ini. Ya, publikasi acara ini memang sangat masif namun ekonomis. Tanpa baliho besar, panitia memilih menggunakan kertas HVS hitam putih. Dengan Persiapan yang matang, publikasi yang masif,  line up menarik dan penuh penonton membuat Parade Musik FE ini sebagai salah satu event yang megah untuk sebuah konser yang dikordinir mahasiswa. Dan apapun tendensinya, hujan malam itu jatuh seirama dengan penampilan total dari WSATCC dan Pure Saturday. 

dikirim oleh kontributor : Yesa 

 

Crowd © Warningmagz
Crowd © Warningmagz

Gigs Documentation here – > Parade Musik FE UNY #2 

Event by : BEM FE Universitas Negeri Yogyakarta

Date : 26 Oktober 2013

Venue : GOR UNY

Man of The Match : Publikasi massif yang ekonomis

Warning Level :•••1/2

Tags : Pure SaturdayWhite shoes and the couple company
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response