close

Suburbia: Buai Mesra Folk di Kebun Belakang

IMG_1153

Review overview

WARN!NG Level 8

Summary

8 Score

 

Dok. Idham M. Haedar

 

Tiga tahun belakangan, genre musik folk semakin sering terdengar di kota-kota besar di Indonesia. Ritme sendu, lirik apik, dan sentuhan etnik yang ramah itu merambah hingga ke Cirebon, dengan antusiasme pengunjung yang, agak tak disangka, sungguh semarak pun mesra di saat yang sama. Keintiman berhasil tercipta antara penampil dengan penonton; Klopediakustik dari Kuningan, Hanyaterra dari Jatiwangi, dan Danilla dari Jakarta dengan sejuknya mengalunkan lagu-lagu, sementara penikmat folk Cirebon menyaksikan dari halaman rerumputan—sembari larut dalam musik menyantap sate kebab dan mereguk hangatnya atmosfer malam Umah Kebon.

Open gate pada pukul sembilan belas, penampil pertama Klopediakustik mulai memainkan musik akustiknya satu jam kemudian. Saat itu penonton sudah memenuhi venue; beberapa duduk di kursi matras yang nyaman, ada yang sibuk melihat pameran foto dari komunitas fotografi Klise Unswagati, beberapa lainnya memilih merchandise serta berfoto di photobooth bertema etnik. Lima lagu dibawakan Klopediakustik dengan manis: “Persimpangan”, “Cerita Gunung”, “RIP”, “Kopi Manis”, dan “Rain & Stars”. Sebelum melaju ke lagu terakhir, Gina, vokalis band ini menyapa penonton dengan suara kanak-kanaknya yang menyenangkan. Kemudian “Rain and Stars” pun berhasil menghidupkan suasana, melanggengkan keberadaan lampu di sepanjang venue yang seolah bintang-bintang bertaburan.

Usai bermanis-manis dengan Klopediakustik, Trio Grup Musik Keramik Hanyaterra hadir membawa semangat berbeda. Dibuka dengan intro prolog yang cukup panjang, “Hiddensound” lalu berkumandang dengan mewahnya. Bunyi-bunyian pop-rock-etnik dari alat musik tanah liat sukses membius penonton untuk hening sejenak, menikmati kearifan lokal yang dikemas begitu kaya, baik dari ritme, penceritaan, hingga orisinalitas genre musik folk itu sendiri. Lagu kedua dan seterusnya juga tak kalah memikat. Bagian instrumen pada lagu kedua memperdengarkan suara alam dengan magisnya—hal yang lagi-lagi membius penonton—dan pamungkasnya, “Hulu Hilir” ditandaskan dengan rapi, meninggalkan penonton dengan perasaan campur-aduk, merasa kurang dengan penampilan Hanyaterra yang hanya lima lagu.

Bagaimanapun, setelah itu adalah Danilla yang siap menghangatkan panggung. Pukul setengah sepuluh malam, dan penonton masih setia, dan antusiasme justru semakin menggebu. Sebelum sempat nama solois perempuan itu diteriakkan, sosoknya sudah muncul dengan kardigan bergaris hitam putih, rambut berombak, dan kemenawanannya yang seperti biasa. Lagu kedua, “Buaian”, benar-benar merepresentasikan Suburbia; sajian folk yang tenang dan intim, namun sedemikian bebas dan menghipnotis. Jika saya coba ingat-ingat lagi, benarlah saya terbuai malam itu, baik dengan penampilan Danilla maupun dengan pikiran dan imajinasi saya sendiri. Di titik tertentu di pertengahan lagu, saya tahu saya tak lagi di sana; saya sudah berada di beberapa memori dalam hidup saya, dengan suara empuk Danilla sebagai latar ceritanya. Saya rasa, tak banyak musisi yang bisa melakukan hal semacam itu.

Memasuki pukul sepuluh, setelah “Junko Furuta”—sebuah lagu bentuk rasa prihatin terhadap korban pelecehan seksual—digaungkan, bunyi-bunyi elektronik terdengar. Nuansa psikadelik memenuhi venue untuk beberapa saat, jemari Danilla dengan lincah menekan tuts, dan alih-alih mengusik lagu, kesyahduan khas folklore justru semakin tersempurnakan. Kemudian selesai dengan “Entah Ingin Ke mana”, Danilla beralih ke “Terpaut Oleh Waktu”. Sebelumnya ia sempat menyapa penonton dengan percakapan menyoal hubungan jarak jauh. “Kalo masih ada yang LDR, putusin aja,” katanya renyah. “Kita nggak tahu dia ciuman sama siapa di sana.”

Selalu menarik mendengarkan sapaan-sapaan ringan Danilla yang asik tanpa dibuat-buat, yang ngena dengan cara yang lucu menggelitik. Seperti lagu-lagunya yang mayoritas bertema romansa, obrolannya dengan penonton di sela perpindahan lagu tak jauh-jauh juga dari sana. “Kalapuna”, “Berdistraksi”, dan “Ada di Sana” adalah beberapa nomor lainnya dengan tema rasa. Namun tema sederhana itu nyatanya dapat diramu menjadi notasi dan kata-kata tak biasa pun tetap nyaman di telinga. Lagu-lagu easy listening namun tidak klise dinyanyikan merdu-sendu oleh perempuan menyenangkan dan rupawan pula: paket komplit, bukan? Rasanya tidak mengherankan jika Suburbia bisa seramai itu.

Penampilan Danilla ditutup dengan sebuah suguhan kontras, “Berdistraksi” yang lebih riang dan “Ada di Sana” yang serindai. Satu jam lamanya Danilla menemani penonton, waktu yang cukup untuk mengindahkan kerinduan pun memberi ruang bagi penikmat untuk segera lagi merasa kangen. Penonton beranjak, dan demikianlah, sebagai festival folk pertama di kota Cirebon, penggarapan Suburbia baik sekali. Latar santai, interaksi intim, penampil-penampil yang berbeda karakter namun tetap satu jua: hidup folk! “Nanti Juga Lo Paham” yang menjadi jargon acara ini kemudian tak perlu dipahami seserius itu juga, mengingat seintim dan sepersonal itulah Suburbia. Datang, nikmati, resapi, barangkali ada jejak-jejak nada dan kata yang tertinggal, simpan sendiri saja juga tak mengapa, lalu mungkin… boleh nonton lagi lain waktu. [WARN!NG/Christina Tjandrawira]

 

Event by          : Ruang Alternatif, Sampoerna A

Venue               : Umah Kebon Backyard, Cirebon

Date                  : 10 April 2017

Photos              : Idham M. Haedar

Man of Match : Magis sekaligus membuminya instrumen Hanyaterra, Kesyahduan Danilla saat melantunkan tembang “Buaian” dan “Ada di Sana”.

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response