close

Summerchild: Merisau Kisah dalam Alternative Rock

Summerchild

Akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 7 Desember 2016, ada satu helatan yang cukup intim bertempat di Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Yogyakarta. Adalah Summerchild yang berhasil mengukuhkan monumen mereka dalam bermusik dengan album berjudul Risau. Tata lampu remang dengan paduan warna merah, kuning dan jingga ditambah dekorasi bernuansa singup berhasil membahasakan kerisauan yang ingin mereka sampaikan. Musik alternatif rock bernuansa gelap yang mereka usung seperti menemukan tempat yang tepat untuk dipentaskan. Lebih dari 400 orang berjejal mengisi ruang yang diatur tanpa kursi. Pertunjukan tunggal selama kurang lebih 1,5 jam ini sukses memberi suguhan berkualitas.

Ada satu hal cukup unik ketika mencermati tata panggung di konser tunggal bertajuk “Risau” kala itu. Adalah boneka-boneka sapi yang berjajaran menghiasi panggung. Tentu aneh, musik mereka jelas tidak selucu boneka sapi. Pula dengan Dhandi Satria (vokali dan gitar) yang juga penulis lirik di album itu, dia jelas tidak wajar untuk mengoleksi boneka sapi, mengingat postur kurus jangkung dan gaya dandanannya dengan rambut keriting sepunggung yang tampak misterius. Ya walaupun sejujurnya itu tidak terlalu penting. Tapi mereka mengungkapkan jika tata panggung ini dibuat mirip dengan kondisi ruang mereka berkarya. Jadi, penting tidak penting, boneka sapi adalah salah satu saksi mereka berkarya. “Menarik aja boneka sapi,” kata Dhandy menjawab enteng ketika ditanya.

Nama Summerchild sendiri dipilih karena makna yang dikandungnya sesuai dengan pribadi ketiga personil. “Dalam bahasa inggris kata itu bisa berarti anak yang tidak memikirkan resiko. Jadi ya jalan aja menikmati proses,” ungkap Dhandy. Summerchild beranggotakan Dhandy Satria (vokal dan gitar), Paulus Ryan Haryanto (bass) dan Yusak Nugroho (drum). Ketiganya bukan merupakan kawan bermain. Mereka justru punya dunia pertemanan masing-masing yang tanpa sengaja dipertemukan di JBF (Jogja Blues Forum). Menariknya, album pertama mereka justru tidak mengusung blues. Mereka menyebut musik Summerchild terdiri atas tiga unsur, pshycedelic 33,3% mood 33.3% dan alternative 33%. Dan ya memang ada benarnya, cukup susah untuk menyebut musik mereka, walau sebetulnya sensibilitas pop mereka juga cukup kuat.“Summerchild akhirnya bisa membebaskan kita dalam berkarya. Kita tidak terpatok suatu genre. Akhirnya yang kita hasilkan adalah kejujuran kita,” ungkap Ryan.

Risau secara garis besar menceritakan tentang persoalan identitas. Melalui 9 lagu yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris ini mereka mencoba mengurai salah satu perasaan paling purba yang dimiliki manusia, kerisauan. Kerisauan ini meliputi persoalan kesadaran diri, dosa, dan juga doa. Nomor-nomor seperti “Risau”, “Drama Terbaik”, dan “Intisari”  menuturkan kegelisahan yang lumrah dijumpai manusia yang merasa.

Karakter musik mereka di album ini cukup khas. Progresi akord minor mendominasi komposisi album. Dipadu dengan ketukan drum rapat dan permainan bass yang mengimbangi. Secara komposisi, Summerchild terbilang beruntung dengan anggota yang memiliki kekayaan referensi. Ketiganya juga memiliki proyek band lain yang diakui justru memperkaya referensi musik masing-masing. Ryan dengan Tiger Paw (heavy metal), Dhandy yang juga bermain untuk Burning Cat Fish (Grunge), atau Yusak yang bermain pula untuk Buktu (post rock).

Untuk aksi panggung, kualitas bermain mereka sebetulnya tak perlu diragukan. Boleh dibilang, unit ini adalah salah satu band indie asal Jogja dengan kualitas panggung terapik. Skill ketiganya mumpuni untuk memainkan aransemen alternative yang mereka usung.  Sebagai bukti, mereka selalu merebut atensi penonton ngayogjazz kendati tak membawakan jazz. Sejak 2015, band ini memang sudah rutin mengisi gelaran jazz tahunan ini. “Panggung ngayogjazz ini panggung yang bikin grogi, soalnya kita nggak main jazz,” ungkap Dhandy.

Dalam berkarya, rupanya Summerchild juga memiliki kegelisahan yang terus menggelayuti. Mereka menyebutnya masalah logika dan logistik. Penjelasanya begini, logika dalam hal ini mereka artikan dengan perilaku pendengar yang sudah tak lagi menentukan baik buruk musik dengan mendengar. Tapi lebih pada variabel lain yang dimiliki musisi, seperti siapa si musisi, seberapa tenar, ataupun seberapa banyak angka pengikut di media sosial. Bukan lagi apa karyanya dan seberapa bagus karya itu. Di sisi logistik, mereka menggelisahkan kondisi musik yang harus dihidupi, pula kesusahan mengubah musik menjadi penghidupan. Kondisi seperti ini mereka akui sering diperparah dengan beberapa Event Organizer yang kerap tidak adil memeperlakukan musisi.

Kegelisahan ini yang lantas memacu Summerchild untuk tidak polos dalam mengeluarkan karya. Mereka menolak dianggap musik yang mereka hasilkan hanya sekadar hobi. Mereka sadar betul bahwa musik juga pantas dihargai seperti layaknya indsutri kreatif lain. “Banyak yang bilang hidup dari musik memang bukan hal mudah. Tapi ada ungkapan kalau kita memang perlu modal memupuk musik kita supaya tumbuh dan berbalik memberi buah untuk kita petik,” tutur Yusak, personil paling sepuh di Summerchild.

Ke depan, Summerchild mengaku sudah ditawari untuk tour ke beberapa kota, namun belum sempat terlaksana. Mereka masih mempersiapkan konsep yang matang. “Kami sebetulnya tak mau kalau tur ini hanya sekadar bermain di luar kota,” ungkap Dhandy. Tur Risau diupayakan bakal dilakukan setelah urusan pribadi masing-masing personil rampung, atau setidaknya yakin jika ditinggal tidak berantakan. Tak dipungkiri Ryan dan Dhandy saat ini masih berstatus mahasiswa. Kendati begitu, mereka menjanjikan tur bakal dilangsungkan tahun ini. Sedikit bocoran, ada beberapa kota bakal disambangi Risau. Diantaranya ada Solo, Semarang, Bandung, Surabaya, Malang dan Bali. [WARN!NG/Umaru Wicaksono]

Download Summerchild – “Intisari” di album kompilasi WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017 DI SINI!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response