close

Sungai: Mengarus dan Membumi

warning magz
sungai
sungai

Mewujudkan pop dengan bebunyian analog dan lirik metaforis, Sungai mengarus di telinga banyak orang.

Ketika manusia semakin meleburkan kehidupannya dalam kotak kaca, gawai dan semesta digital, kadang kita lupa pada yang terlalu sehari-hari. Manusia  barangkali semakin terbiasa pada udara dari knalpot dan bukan pohon, air dari pipa dan bukan sumur, berpijak pada semen dan bukan tanah, makan serba instan dan bukan olahan rumah. Musisi pun begitu, menjejali telinga kita dengan segala rupa efek suara, semoga tidak ada istilah musik sintetis. Lalu saya bertemu musik Sungai secara tak sengaja di sebuah acara flea market sederhana pada 2014 lalu, yang entah dalam tataran tertentu, seperti mengingatkan saya pada esensi yang kita lupakan tersebut.

Bukan, Sungai bukan proyek aktivis lingkungan, penghijauan atau kampanye melestarikan alam. Mereka adalah unit baru dari Yogyakarta. Muncul membawa nuansa earthy dan tembang-tembang cinta antiklise yang lebih universal, nama Sungai mulai mengarus deras di antara unit-unit pendatang baru lain di Yogyakarta. Eksperimental pop, begitu mereka menyebut musik yang mereka mainkan. Mengolah musik pop dengan sentuhan instrumen dan ritme yang terasa organik, analog, jika bukan mentah.

Satu album telah mereka rilis tahun lalu. Bertajuk Arus, album yang hanya dicetak terbatas sejumlah 100 copy ini sempat mencuri perhatian publik. Nama mereka pun sudah mulai kerap ditemui di berbagai poster gig dan berbagai jenis panggung. Dibanding unit-unit anyar lain, Sungai cukup progresif. Namun tidak heran juga, karena penggerak unit ini ternyata bukan orang yang benar-benar baru di kancah musik independen Yogyakarta.

Adalah pertemuan Anggito Rahman –yang pada 2012 lalu baru saja bubar jalan dengan Anggisluka, dan Dimas Budi Satya –yang kelewat senggang di Zoo, yang akhirnya membuahkan keputusan untuk membuat proyek musik bersama. Bersama dengan Mawar Rengga, Sungai dibentuk tahun 2014. Saat itu mereka masih memakai nama “Ito dan Kawan” untuk panggung pertama mereka. Baru ketika undangan untuk tampil di Lelagu #12 yang merupakan salah satu gig bulanan di Kedai Kebun Forum, mereka resmi memakai nama Sungai.

Sungai sendiri dipilih sebagai nama bukan dengan maksud yang muluk, melainkan karena keputusan pemilihan nama diambil saat mereka tengah berada di kontrakan Anggito Rahman yang berada di pinggir sungai. “Biar mengalir sajalah, begitu,” ujar Anggito saat diwawancari WARN!NG. Sempat berganti-ganti personil, saat ini Sungai digawangi oleh enam personel, yaitu Anggito Rahman (gitar, vokal), Dimas Budi Satya (perkusi, wer-ewer), Mawar Rengga (vokal), Irine Winta (Vokal),  Adhie Bona (Bass) dan yang paling baru adalah Efan Toghas (gitar).

Selain apa-apa lainnya, kemampuan Sungai mendefinisikan musik pop dengan bumbu eksperimental menjadikan mereka liyan dan menonjol saat bersanding dengan line up lain di sebuah acara. Alih-alih menggunakan gebukan drum, Dimas Satya menggantinya dengan segelonggong kayu yang dimodifikasi, menciptakan suara perkusif renyah yang asing, namun terasa akrab di telinga. “Oh alat kayu itu aku nyebutnya Wer-ewer,itu hasil workshop sama Wukir (Suryadi) Zoo,” jelasnya. Anda harus melihat mereka secara langsung untuk melihat bagaimana ketukan ritmis yang terdengar earthy ini membungkus divisi vokal Sungai yang berlapis-lapis. Sejuk!

Meskipun tidak disengaja sejak awal, dan belum mau mengakui, namun konsep earthy seperti sudah menjelma jadi aura unit ini ketika di panggung. Coba dengarkan “Kelabu”, “Gagak”, atau “Merah Jambu”  menyuara seolah mencuri sejumput suara-suara dari alam. Apalagi dengan lirik-lirik metaforis yang menyamarkan tendensi Sungai untuk memproduksi lagu-lagu cinta yang lebih universal ketika band-band lain terus-terusan menelanjangi versi cinta yang banal. Lagu-lagu mereka multitafsir, serupa lagu cinta pada sesuatu yang lebih besar, halus, tak berbentuk.

Tentang proses penulisan liriknya, Anggito Rahman mengaku terpengaruh pada gaya bahasa Eros Djarot dan Sudjiwo Tedjo. Ia menulis lirik dengan gaya puitis untuk menantang kedalaman pendengarnya dalam memaknai lagu-lagu Sungai, “Kalau penggunaan bahasa di lirik kita emang nggak gamblang, banyak kiasan. Kan kecenderungannya anak muda sekarang lebih kena yang lugas, tapi masak sih nggak bisa nerima yang puitis juga?”

Meskipun mereka sendiri mengakui bahwa di album Arus fokus mereka masih terbelah-belah dan belum terkonsep, sebagai pendengar saya merasakan bagaimana benang merah di tiap lagu, secara lirik dan musik sedang berjalin membentuk sebuah konsep utuh.  “Di Arus kami masih gambling, tidak terarah,” ujar Mawar Rengga. Baru setelah Arus dirasa mengalir cukup jauh, mereka kini tengah mempersiapkan album baru berjudul Siklus. Sebuah manifesto dari tema yang mereka angkat, “Album kedua nanti tematik, lebih matang, kami menambah gitaris dan juga berkolaborasi dengan beberapa musisi,” bocor Anggito Rahman.

“Ada benang merahnya, yaitu tentang bagaimana alam dan manusia berinteraksi,” tambahnya. Semakin memantapkan ekspektasi untuk menikmati karya terbaru Sungai dalam beberapa waktu lagi. Sebagai sebuah unit mereka sudah punya warna sendiri, tinggal bagaimana mereka membuat semesta berkongsi. Maka serupa anatomi nadi-nadi yang mengairi tanah-tanah kita ini, Mawar Rengga mengakhiri wawancara kami dengan sebuah metafor geografis apik, “Hulunya kita, hilirnya karya kita, ya Sungai itu prosesnya.”[WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response