close

Synchronize Fest 2016: Pertunjukan Bhinneka Tunggal Ika Musik Tanah Air

soneta-group-186

 

Soneta Group

 

Diyakini sebagai festival musik lintas genre dan lintas generasi terbesar di tanah air, Synchronize Fest 2016 hadir sebagai debutan yang berhasil meriuhkan agenda bernas sepanjang tiga hari tiga malam

 

Kabar menyenangkan kala mendengar sedang digagasnya sebuah hajatan akbar yang berkonsep menampilkan lebih dari 100 pertunjukan terkurasi dari artis dan band terbaik yang dimiliki tanah air yang tenar dari berbagai era mulai dari dekade 70-an, 80-an, 90-an hingga 2000-an.  Hajatan yang diberi tajuk Synchronize Fest tersebut merupakan buah kerja sama antara Dyandra Promosindo dan Demajors. David Karto selaku Festival Director dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa misi utama dari Synchronize Fest yaitu mensikronisasikan serta menggerakan local content dari berbagai artis lintas dekade, lintas arus, lintas komunitas hingga lintas provinsi dan semangat merayakan perbedaan, sebuah terjemahan bebas dari Bhinneka Tunggal Ika dalam musik.

Dalam penyelenggaraan perdananya, Synchronize Fest 2016 tak tanggung-tanggung dengan mempersiapkan sorak di lima panggung selama tiga hari dan tiga malam tepatnya pada tanggal 28-30 Oktober 2016. Bertempat di Gambir Expo Kemayoran Jakarta, lokasi yang diyakini strategis dan mampu menampung serbuan massa yang akan merangsek di kelima panggung yang telah disediakan yaitu Dynamic Stage, Lake Stage, Forest Stage, District Stage dan Gigs Stage. Rilisnya rundown saat hari pelaksanaan mesti diatur sedemikian rupa agar dapat memaksimalkan kesempatan menyaksikan artis atau band yang sering kali didapati menjadi headliner diberbagai macam ajang semisal pensi yang digelar oleh kampus atau sekolah, akan tetapi dalam Synchronize Fest para jawara tersebut digubah menjadi satu harmoni yang menyulut girang berkepanjangan.

Hari pertama

Perjalanan menelusuri Synchronize Fest 2016 dimulai pada hari Jumat pukul 16.00 WIB, ibu kota yang beberapa hari belakangan dilanda hujan sudah dipaksa bergemuruh kala Besok Bubar didaulat menjadi pembuka Forest Stage dan Kelelawar Malam di Dynamic Stage, masih lengangnya barisan penonton tidak menyurutkan keagresifan Besok Bubar yang memainkan nomor andalan seperti “Pahlawan Bertopeng”. Sambil menunggu Sore yang sedang bersiap, mengitari area yang cukup luas tersebut menjadi hal yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan waktu agar sesuai dengan rencana. Di area Gigs Stage yang dapat dibilang menjadi venue paling kecil, seperti namanya, Gigs Stage seakan menghadirkan sensasi suasana gigs yang identik dengan keakraban dan gila-gilaannya penampil dengan para penonton. Gigs Stage mulai menyala tatkala Christopher Bollemeyer atau biasa dikenal dengan Choki mengokupasi bersama Sunyotok. Proyek sampingan Coki yang sejak kemunculannya mampu menyita perhatian publik, menjadi sajian yang cocok tatkala jazz fusion dinikmati kala mendung.

Sebelum menuju Dynamic Stage, di District Stage tampil Aray Daulay yang telah berkarya sejak medio 90-an cukup berhasil mengumpulkan massa dengan permainan blues rock yang memikat. Tak lama, petikan gitar dari Ade Paloh dari Sore memanggil para pengunjung bermandikan rintik hujan bersama nomor-nomor tenar macam “Sssst” dan “Musim Hujan”. gelap menjelang, Kunokini & Svaraliane memperagakan sajian musik berkelas dengan unsur etnik nusantara yang bertemu dengan alat musik konvensional terasa sangat kental dan padu.

 

Sheila on 7

 

Serbuan dari dedengkot metal tanah air mencuat ketika Jasad yang dimotori oleh Man menjadi sosok yang tetap dikagumi para metalhead. Banyak bercengkrama dengan para pendukungnya, Man tak lupa menyelipkan pesan-pesan moril salah satunya isu pilkada Jakarta yang sedang hangat belakangan ini. meski baru ditinggal hengkang oleh sang drummer, pemain pengganti yang terbilang masih terbilang muda dibandingkan personil lainnya terbukti tidak keteteran meladeni tempo cepat dari semua nomor yang dibawakan antara lain, “Cengkeram Garuda”, “Liman Soka” dan “Siliwangi”. Hentakan berikutnya datang dari grup rock yang sedang digandrungi oleh para kalangan muda, tentu saja Kelompok Penerbang Roket. Kelompok berbahaya yang melesat dengan album Teriakan Bocah memiliki nomor-nomor yang monumental bagi para pendengarnya, tak pelak aksi jingkrak tak tentu arah dan seruan lantang di kerumunan penonton menjadi pemandangan wajar kala menikmati terjangan Kelompok Penerbang Roket. “Dimana Merdeka” menjadi nomor yang anthemic terlebih dibawakan kala peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Di panggung sebelah tampaknya akan menjadi penampilan yang sarat emosionil, DDHEAR sebuah unit kolaborasi antara Dialog Dini Hari dan Endah N Rhesa mengabarkan bahwa kesempatan di Synchronize Fest menjadi salam perpisahan bagi penonton di Jakarta karena tahun depan dapat dipastikan kolaborasi manis ini tidak dapat terjadi kembali. Endah dan Dadang banyak bersautan satu sama lain untuk menanggapi keinginan para penonton untuk berdendang menikmati harmonisasi dari grup DDHEAR dalam membawakan nomor-nomor yang diantaranya dari mini album Parahita yang juga rilis pada tahun ini.

Semakin malam Gambir Expo Kemayoran semakin ramai, sambil menunggu Blackteeth yang akan menggila di Gigs Stage, bersenandung menikmati Yura Yunita yang kian tenar dengan nomor-nomor macam “Intuisi” dan “Superlunar” diramaikan oleh penonton yang mayoritas perempuan kala itu. Tidak lama, genderang Satriyo bersama Jeremia Gaol, Eno Gitara dan tentu saja Coki Bollemeyer menjadi aksi yang ditunggu-tunggu. Identik dengan konsep ugal-ugalan dan liriknya yang kasar cenderung kotor, Gigs Stage dipenuhi gelak tawa dan kegerahan atas moshing serta body surfing dari para penonton. Di tengah-tengah penampilannya, sebuah kolaborasi yang sudah disiapkan sejak jauh hari siap ditampilkan ketika Petra Sihombing mencul dari kerumanan dan langsung sigap ambil bagian menghentak bertubi-tubi dalam keriangan. Malam itu Blackteeth membawakan sebagian nomor yang menjadi bagian album terbarunya yang bertajuk Bleki, salah satunya “Orang Goblok” dan “Anjing Kantor”.

 

Matajiwa

 

Di tengah penampilan Blackteeth, sesepuh permusikan independen tanah air yang mencuat sejak era 90-an, Pure Saturday beraksi di Dynamic Stage. Mayoritas penonton yang sudah cukup berumur terselip menikmati hingar-bingar yang dibawakan kelompok asal Bandung tersebut. Diwaktu bersamaan pula, salah satu band yang bisa dibilang paling muda juga beroperasi di Forest Stage. Scaller yang banyak disebut sebagai band yang potensial menggiring massa yang ingin membayar rasa penasarannya. Grup yang dimotori oleh Stella dan Reney tersebut tampil prima dengan musiknya yang berkualitas dan segar.

Rehat sejenak menjadi hal yang sangat diperlukan dalam festival semacam ini, menikmati Monita Tahalea menjadi komposisi yang tepat sebelum kembali menyaksikan rentetan penampil yang semakin kondang. Jika perlu menyebut satu nama yang paling lelah di atas panggung, mungkin jawabannya adalah Coki Bollemeyer. Setelah sebelumnya Sunyotok, Blackteeth telah beraksi, kini giliran NTRL merasakan servisnya, bahkan jika belum hengkang dari DeadSquad bisa jadi kesempatan keempat kalinya Coki menginjakan kaki di panggung di hari yang sama. Muncul dengan rancangan yang berbeda jika dibandingkan karya-karya sebelumnya, dalam album terbarunya, NTRL cenderung memainkan musiknya lebih cepat dengan ketukan ala punk yang terkesan lebih gahar. Bagus yang semakin berumur nyatanya cukup mampu mengimbangi permainan cepat dari Eno yang enerjik malam itu. Nomor-nomor lawas macam, “Terbang Tenggelam” dan “Pertempuran Hati” dilancarkan dengan kemasan yang lebih sangar.

 

The Upstairs

 

Di waktu bersamaan, The Upstairs dan Goodnight Electric juga ambil giliran menghibur massa yang semakin riuh ke berbagai sisi arena Gambir Expo Kemayoran malam itu. Menjelang tengah malam, salah satu aksi yang sejak sore banyak diperbincangkan diantara penonton adalah Teenage Death Star. Nyatanya terbukti, meski para personil Teenage Death Star belum menampakkan batang hidungnya, penonton tampak telah siap bersenang-senang bersama para begundal yang terakhir kali merilis album Longway to Nowhere pada tahun 2008 silam. Tak ayal, crowdsurfing ugal-ugalan dalam ruang yang sempit tidak bisa dihindari bersama sorak-sorak ditengah pengap dan asap kala menikmati performa liar Sir Dandy dan kolega.

Menjadi pemuncak pada hari pertama, Sheila on 7 dan DeadSquad seakan menjadi formasi yang siap dilahap para penonton, sajian yang berkonsep berbeda tersebut memudahkan para penonton untuk memilih. Para penonton yang sudah hilir-mudik sejak siang hari sepertinya tidak mampu lagi mengimbangi keganasan Stevi Item cs kala nengotak-atik mesin serbuan yang dilancarkan, saat sebagian besar kerumanan yang memadati Forest Stage cenderung hanya menikmati dengan headbang dan acungan devil born sign. Begitupun dengan Dynamic Stage yang dapat dikatakan lebih ramai saat gerombolan dari Yogyakarta tersebut membawakan tembang-tembang lawas dan terbaru seperti “Kita” dan “Kau Harus Bisa” Sukses menutup Synchronize Fest hari pertama.

Hari Kedua

Solois Kunto Aji bersama Laidthis Nite & Lala Karmela bersautan di panggung yang berbeda sebelum akhirnya disusul oleh gemburan beringas dari Noxa dan Rajasinga yang ditunjuk memanaskan arena sejak menit awal festival. Berikutnya di Lake Stage, Monkey to Millionaire yang mengoptimalkan kesempatan tersebut dengan mengumumkan rencana rilisnya album baru pada 2017 mendatang disambut riang para penonton, yang mulai dikenalkan nomor-nomor baru, salah satunya “Nista”. Di Dynamic Stage raungan garang Taring yang baru saja meluncurkan baru terbaru bertajuk Orkestrasi Kontra Senyap tampaknya tidak cukup mampu menggiring massa untuk beraksi di crowd. The Hydrant di Forest Stage dan Fourtwnty di Gigs Stage juga punya pendukungnya masing-masing. Setelahnya, di District Stage, Matajiwa yang digawangi oleh duo etnik kaya eksperimen Anda Perdana dan Reza Achman menghibur para penonton dengan nomor-nomor andalan seperti “The Journey Begins” dan “Gili Reggae” yang juga berhasil memancing sing a long dari barisan penonton. Di sebelahnya, rasa penasaran terhadap salah satu pendatang baru cukup terbayar kala menyaksikan Dental Surf Combat. Aroma musik hardcore yang kental menjadi sajian yang mampu menyulut serbuan di Gigs Stage saat malam menjelang.

Pasca break magrib, salah satu dedengkot death metal tanah air ambil bagian. Death Vomit segera ambil ancang-ancang menyerang bertubi-tubi langit Ibu Kota, ketika Roy Agus, Sofyan Hadi dan Oki Haribowo menunjukan kualitas dari sebuah band yang telah berjalan selama lebih dari 20 tahun tersebut. Melibas rentetan nomor yang sebagian besar dari album terakhirnya Forging A Legacy. Di Gigs Stage kala itu juga sedang berlangsung pesta huru-hara bersama perwakilan dari Kota Bogor, The Kuda. Ungkapan sebagai band yang tak memiliki pakem barlaku kala penonton punya andil besar menggiring The Kuda melakukan aksinya bersama banyolan Adipati sang vokalis.

 

OM PMR

 

Selanjutnya, di Lake Stage sedang berlangsung manuver perwakilan dari Kota Malang. Begundal Lowokwaru yang mengusung esensi street punk, identik dengan tema-tema yang lekat keseharian para personilnya seperti bagaimana bersenang-senang dan kritik politik menjadi salah satu nafas yang coba digaungkan. Salah satu pengusung konsistensi atas pop punk melancarkan hentakannya, Forest Stage menggema kala Pee Wee gaskins mengokupasi panggung. Pee Wee Gaskins yang masih digawangi oleh Dochi cs tanpa canggung menghibur penonton yang sebagian besar mulai mendengarkan Pee Wee Gaskins kala jaman sekolah dulu. Hal tersebut, coba dijawab dengan membawakan sebagian repertoar dari mini album pertama Stories From Our High School Years yang rilis pada 2008 silam. Malam minggu di Gambir Expo Kemayoran semakin meriah tatkala OM PMR, The Milo, Superglad, Billfold bermain di waktu yang saling beririsan. Menjelang tengah malam, The Adams ambil bagian menyulut dahaga para pengunjung dengan nomor-nomor familiar macam “Hanya Kau” dan “Konservatif”.

Hari kedua penyelenggaraan Synchronize Fest memiliki jagoan yang telah melegenda di dunia permusikan tanah air. Soneta Group menjadi salah satu perwakilan generasi terdahulu yang siap memperkenalkan diri kepada penonton yang mayoritas anak muda tersebut. Muda bukan berarti tak mengenal nomor-nomor tenar yang diciptakan oleh Rhoma Irama. Ketika semua panggung sudah tidak menyala, tentu saja keramaian terpusat pada Dynamic Stage. “Begadang” dan “Darah Muda” menjadi beberapa nomor yang menyulut dendang dari para penonton bersama kegirangan diantaranya.

 

Soneta Group

 

Hari ketiga

Deretan nama kondang memaksa beberapa nama mesti tampil lebih awal pada pagelaran ini. Gambir Expo baru memulai hiruk-pikuknya, akan tetapi Gugun Blues Shelter dan HMGNC sudah ambil kesempatan, yang kemudian disusul Komunal yang tampil membawakan nomor-nomor andalan semacam “Adong Nang Diada” dan “Pasukan Perang Dari Rawa”. Pemandangan keramaian menghiasi Gigs Stage disetiap sudutnya, kala salah satu perwakilan dari timur pulau jawa menceritakan kesehariannya bersama lantunan yang disampaikan oleh Silampukau. Album Doa, Kota dan Kenangan yang diakui oleh publik luas sebagai salah satu album folk terbaik yang rilis pada tahun lalu, sukses menyulut atensi dari publik Ibu Kota.

Penampilan berkualitas lainnya berlangsung di District Stage, Dewa Budjana dan Tohpati yang biasanya juga ditemani oleh Balawan. Siang itu tetap berhasil membius para penonton dengan permainan lihai memetik sang dawai gitar secara bersautan. Sore menjelang, Step Forward ambil langkah menggemupur Forest Stage. Sebagai sebuah band yang sejak lama berkarya dan sempat vakum kurang lebih selama lima tahun, kemunculannya kembali tidak menyiratkan kecanggungan dari diri Jill sang penarik suara. Konsisten mengusung hardcore sebagai benang merah, Step Forward memaksimalkan moment ini demi memperkenalkan materi-materi terbaru, salah satunya “Saksi Imaji”.

Usai rehat magrib, jawara dari Kota Gudeg ambil bagian untuk sumpah serapah dihadapan para penonton. FSTVLST yang dimotori oleh Farid Stevy Asta sukses menguasai panggung sembari bercengkrama intim dengan penonton, tentu saja saja body surfing menjadi barang wajib bersama gelak tawa dengan kesan positif dari penampilan FSTVLST. Turunnya FSTVLST disusul oleh Navicula di Lake Stage, performa yang tak kalah menarik, di Forest Stage Morfem juga sedang beraksi. Band yang baru meluncurkan album terbaru bertajuk Dramaturgi Underground memanfaatkan kesempatan tersebut memperkenalkan karya-karya terbarunya. Kejutan hadir tatkala, naiknya Rekti The SIGIT dan Farid FSTVLST ambil posisi ikut melantunkan nomor monumental milik Ramones bertitel “Do You Remember Rock ‘N Roll Radio”.

 

FSTVLST

 

Barasuara juga berhasil menggiring massa mengkerubungi naiknya Iga Massardi dan kolega. Seakan menghipnotis kerumunan, Barasuara memicu lantunan sing a long lantang dari para penonton sepanjang penampilannya. “Bahas Bahasa” yang biasanya selalu didapuk jadi nomor terakhir terpaksa tidak dibawakan karena waktu yang diberikan oleh pihak panitia telah habis dan raut kecewa terpancar dari wajah para penonton kala itu. kekecawaan tersebut tak berlarut-larut ketika Efek Rumah Kaca mendapat gilirannya di District Stage. Tampil dengan kekuatan penuh bersama Cholil yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat serta Adrian Yunan menambah spesial performa Efek Rumah Kaca. Membawakan nomor-nomor andalan seperti “Sebelah Mata”, “Di Udara” hingga “Desember” seakan berhasil membayar ekspektasi dari para penonton dari aksi maksimal Efek Rumah Kaca.

Tengah malam menjelang tak lantas mengendurkan tensi festival, pengunjung dihadapkan pilihan atas Seringai, Shaggy Dog dan Glenn Fredly. Seringai tampaknya menjadi barang wajib menklimakskan rentetan panjang Synchronize Fest 2016. Akan tetapi realita mesti dihadapi, penonton yang sejak siang hari telah berkerumunan sepertinya cukup kewalahan menghadapi terjangan bertubi-tubi dari Arian cs meski aksi Seringai harus diakui selalu mampu maksimal. Sebagai penampil pemuncak, Glenn Fredly ditunjuk sebagai pelaksana mendinginkan tempo acara sepanjang tiga hari tersebut. Menyita perhatian dengan menggunakan kaos official merch dari Kelompok Penerbang Roket. Panggung yang dipadati muda mudi yang sebagian besar perempuan tersebut, terlihat asik mengikuti lantunan merdu di nomor-nomor macam “Cinta dan Rahasia” dan “You Are My Everthing” serta diakhiri dengan riuh tepuk tangan yang juga menjadi akhir perjamuan dari Synchronize Fest 2016. Tidak hanya sampai disitu, sepertinya pihak penyelenggara telah menyiapkan segala sesuatunya secara matang, bagi para penonton yang ingin berpesta huru hura semalam suntuk pun juga telah disediakan performa Diskopantera di Gigs Stage.

 

Efek Rumah Kaca

 

Secara keseluruhan selain menyajikan deretan jawara lokal yang jumlahnya hingga ratusan penampilan tersebut, semakin terasa maksimal kala dibalut kualitas sound yang mumpuni hingga akhirnya dipadati oleh ribuan penonton dari segala penjuru sepanjang tiga hari tiga malam perhelatan Synchronize Fest 2016. Yang menjadi kendala perhelatan tahun ini hanyalah hujan yang beberapa kali turun menghampiri serta harga tiket yang dapat dibilang tidak terlalu terjangkau bagi banyak kalangan. Festival yang menjadi satu-satunya sebagai temu sapa antar artis serta band dari berbagai lintas generasi dan lintas genre dengan para penggemarnya patut dipertahankan untuk dapat digelar kembali. Semoga semakin matang dan ramai di perhelatan tahun-tahun berikutnya! [WARN!NG/Dadan Ramadhan]

Event by: Dyandra Promosindo dan Demajors

Date: 28 – 30 Oktober 2016

Venue: Gambir Expo Kemayoran, Jakarta

Man of the match: Hempasan bertenaga dari kerumunan ketika “Api dan Lentera” milik Barasuara yang terus diserukan kepada Iga Massardi dan kolega diperagakan secara maksimum. Dentuman tersebut mampu menyeulut bara agresi para penonton demi menebus hasrat penikmatnya akan album fenomenal, Taifun!

WARN!NG LEVEL: !!!!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response