close

Tame Impala JKT 2016: Pesta Psikedelia yang Paripurna

Tame Impala 10
tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay

Bahan-bahan psikedelik memang memabukkan, apalagi kalau diimpor dari Australia dan brilian  dalam meramu musik yang dilatari visual yang menghanyutkan.

Udara di Parkir Timur Senayan mengandung dosis psikedelik tinggi pada salah satu malam penghujung bulan April lalu. Dipawangi oleh Tame Impala, ribuan penonton dibuat mencapai sebuah kenikmatan paripurna dari sebuah kegiatan pertunjukan musik lewat kombinasi lagu-lagu dari tiga album mereka, suguhan visual trippy menggoda dan semburan smoke gun-confetti. Ini merupakan lawatan kedua kelompok psychedelic-rock asal Australia ini setelah pada 2011 lalu mereka membawa Innerspeaker ke publik Indonesia. Sejak saat itu, dua album baru dan rindu yang menumpuk selama lima tahun berhasil melipatgandakan penggemar mereka yang berkumpul di depan panggung malam itu.

Barasuara © Dwiki Aprinaldi [WARN!NG]
Barasuara © Dwiki Aprinaldi [WARN!NG]
Barasuara © Dwiki Aprinaldi [WARN!NG]
Barasuara © Dwiki Aprinaldi [WARN!NG]
Barasuara © Dwiki Aprinaldi [WARN!NG]
Barasuara © Dwiki Aprinaldi [WARN!NG]

Bersama matahari Jakarta yang tenggelam ribuan penonton yang sejak sore sudah berkumpul di area gate, masuk dan merapat ke panggung. Beberapa menunjukkan identitasnya sebagai kaum psikedelik “Fuck Trevor” dengan kaos-kaos tye-dye warna-warni. Tanpa menunggu lama, Barasuara yang didapuk jadi opening act mengokupasi panggung. Tujuh lagu dari album Taifun mereka bawakan dengan prima, di antaranya “Api dan Lentera”, “Sendu Melagu” dan ditutup dengan “Bahas Bahasa”. Sayang sekali sambutan yang mereka terima kurang memuaskan. Pilihan Kiosplay untuk menjejerkan Barasuara dan Tame Impala ini memang sejak awal sudah menuai beberapa tanda tanya dan kernyitan dahi, diduga karena musik Iga Massardi cs dinilai terlalu kontras dengan radar penikmat musik psikedelik. Selesai dengan Barasuara, panggung diambil alih oleh sekelompok orang berbaju dokter yang wara-wiri menyiapkan alat musik untuk bintang malam itu.

Kurang lebih pukul 8, wajah sumringah penonton berubah jadi teriakan histeris saat Kevin Parker (vocal/gitar), Cam Avery (bass/vocal), Julien Barbagello (drum/vocal), Dominic Simper(gitar/synth) dan Jay Watson (synth/vocal) memasuki panggung.  Dan jika ada momen terbaik di konser malam itu, saya akan memilih adegan ini: panggung gelap sesaat, sebuah titik hijau yang ditembakkan oleh laser bergerak spiral semakin cepat sampai akhirnya membuncah jadi spektrum warna diiringi intro “Let it Happen” yang seduktif, selang beberapa detik mesin-mesin smoke gun memuntahkan jutaan potongan kertas warna-warni yang menenggelamkan penonton dalam hujan confetti dan euforia yang meledak tiba-tiba. Sebuah adegan pembuka konser tanpa pemanasan yang langsung membawa penonton klimaks lebih awal. Kurang ajar.

tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay

Adegan tadi mengawali pesta malam itu dengan sempurna. Tensi naik seketika, goyangan badan dan  sing along riuh tak putus-putus sampai setlist habis. “Mind Mischief” dan “Why Won’t They Talk To Me?” dilagukan setelah itu. Sambil menenteng gitar Rickenbacker hitam-putihnya, Kevin Parker yang malam itu mengenakan kaus stripes biru-putih kerap mengajak penonton berinteraksi. “Alright! Friday night in Jakarta. Let’s Celebrate that!,” serunya.

Kombo “Not Meant To Be”, “The Moment” dan “Elephant” menyuara setelah itu. Tidak hanya mengangkat album terbaru mereka, malam itu setlist berisi kombinasi apik sejak Innerspeaker, Lonerism dan Currents. Saat baris terakhir “Elephant” dinyanyikan, Kevin sempat melemparkan botol air minumnya ke penonton dan menanyakan apakah penonton benar-benar berkeringat. Antusias penonton memang bersaing ketat dengan hawa panas Jakarta malam itu. Visual arak-arakan awan dengan layer warna-warni di latar saat “Yes I’m Changing” yang bertempo lebih lambat cukup menjadi jeda sejuk sebelum kembali panas di “The Less I Know The Better”.

Vokal mengawang-awang Kevin Parker dalam “The Less I Know The Better” dan “Eventually” dalam visual spektrum warna yang menghipnotis lalu makin membawa penonton ke level psikedelik yang lebih tinggi. Tidak hanya dimanjakan permainan musik Tame Impala yang rapi dan sound tanpa cela, penonton juga sangat dimabukkan dengan suguhan visual trippy warna-warni, berupa spektrum warna, garis meliuk-liuk atau gambar-gambar yang diberi efek. Apalagi beberapa penonton sepertinya juga ingin meliteralkan hawa psikedelik yang kadung menguar tersebut dengan lintingan lima jari dan entah apalagi.

tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay
tame impala © Kiosplay

Setelah dua lagu dari Currents, penonton diajak kembali ke era Innerspeaker dengan “Alter Ego”. Sing along belum berhenti bahkan sampai “Apocalypse Dreams” dibawakan. Tepuk tangan riuh mengiri Kevin yang mencopot gitarnya. Kelima personil lalu masuk ke belakang panggung, seolah meminta seruan “We want more! We want more!”, plot yang sangat mudah ditebak karena dua single mereka memang belum dikeluarkan.

 “Well, this is the last night the tour of us. You guys are fuckin amazing and so loud. Anyway, help me sing next song. Alright, here we comes,” ujar Kevin yang disambung visual spiral rainbow yang makin menghisap kesadaran penonton di intro “Feels Like We Only Go Backwards”. Dan momen di awal konser terulang lagi saat intro “New Person Same Old Mistake” menyuara. Menyenangkan sekali ketika menerawangkan pandangan ke atas dan melihat tangan kita menggapai-gapai di hamparan confetti warna-warni diiringi melodi psikedelik seduktif yang tidak bisa ditolak tubuh untuk ikut bergoyang. Klimaks.

Lepas Tame Impala mundur ke belakang panggung, lighting dan sound mengeluarkan bebunyian noise dalam cahaya monokrom yang konstan, seolah mengembalikan penonton ke frekuensi normal. Jika ada yang disayangkan malam itu, adalah pandangan mata ke panggung yang kerap kali terhalang ribuan layar gawai yang mencoba mengabadikan momen. Terlalu banyak, terlalu lama, terlalu mengganggu. Lain itu, gelaran malam itu adalah sebuah pesta psikedelia yang paripurna. [WARN!NG/Titah Asmaning]

Event by: Kiosplay

Date: 29 April 2016

Venue: Parkir Timur Senayan, Jakarta

Man of The Match: “Let It Happen” dan “New Person Same Old Mistake” yang dibarengi semburan confetti dan visual apik.

[yasr_overall_rating size=”small”]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.