close

#TANAHINDAH : Reka Rupa HITS KITSCH dan Manifesto Jenny

IMG_5407 f

Perayaan tentang HITS KITSCH, hura-hura memori Jenny, dan ‘dosa-dosa’ lainnya di Tanah Indah.

FSTVLST © Warningmagz
FSTVLST © Warningmagz

Dalam sebuah wawancara, Farid Stevy Asta (vokalis FSTVLST) menyatakan bahwa FSTVLST dan Jenny adalah dua entitas band yang berbeda. Tanpa mengurangi rasa hormat atas dua personel yang memilih keluar di tahun 2010, nama Jenny diistirahatkan. Konsep dan nama baru diusung yang berangkatnya dari Jenny. Dan Rabu (18/2) malam, entitas dua band itu kembali dientaskan; presentasi album perdana FSTVLST dan reuni membahagiakan ala Jenny. Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri UGM (PKKH UGM) diubah dan dibaptis menjadi tanah yang sangat indah bagi Teman Pencerita, Club Mati Muda, serta Festivalist.

Setelah pembukaan pameran seni rupa dan memorabilia FSTVLST-Jenny di galeri PKKH UGM, para penonton digiring melewati galeri yang tersedia untuk mencapai venue utama. Berbagai karya para perupa atas respon lagu-lagu FSTVLST ada di lantai satu dan memorabilia rentang waktu 2003-2015 Jenny-FSTVLST ada di lantai dua yang bakal dibuka hingga 21 Februari mendatang.

FSTVLST © Warningmagz
FSTVLST © Warningmagz

Tak lama menghabiskan waktu, Farid (vokal), Robi (gitar), Mufid (bass), dan Danish (drum) langsung mengokupasi panggung. Nomor-nomor kenamaan FSTVLST digeber dengan “Orang-orang di Kerumunan” sebagai pembuka. Intro yang nikmat untuk diikuti sing along para penonton membuat semakin panas. Lantas saja, moshpit yang panas oleh deru gitar dan drum yang menghujam membuat crowd surfing tak bisa dihindarkan. Suasana kangen kepada FSTVLST dan Jenny memang membuat para penonton sangat antusias terhadap konser ini. Dibantu dengan penjualan yang apik dan rapi, tiket yang terjual menembus tataran sold out.

“Bulan, Setan, atau Malaikat” menyambung di nomor kedua. Penonton semakin beringas menginjak set ke-3. Ada “Satu Terbela Selalu” dengan deru rock ganas dan jamming di tengah lagu dibarengi dengan bacaan puisi oleh Farid. Nomor ini diakhiri oleh permainan gitar yang menghasilkan efek sci-fi dan tentunya membuat semakin sempurna.

Setelah memanaskan ruangan dengan taraf yang cukup, Farid mulai menyapa penonton dan melanjutkan setlist-nya. Intro keyboard yang menarik hati mengawali “Tanah Indah untuk Para Terabaikan, Rusak, dan Ditinggalkan”. Nomor yang juga menjadi inti dari Tanah Indah ini membuat kerumunan sedikit tenang, namun tak menyurutkan niat sing along mereka. Sejauh pengamatan, dari ujung ruang ke ujung lainnya, penonton ikut menyumbang energi dengan bernyanyi.

FSTVLST © Warningmagz
FSTVLST © Warningmagz

Di nomor berikutnya, Farid mengajak Anita Siswanto untuk bernyanyi bersama. Meski tak masuk materi HITS KITSCH, nomor “Telan Cakrawalanya” tetap menarik untuk disimak. Bersama Anita, nomor ini terdapat di album kompilasi yang dirilis Doggyhouse Records pertengahan 2014 lalu. Mengakhiri nomor kelima, Farid menyiapkan properti payung hitam. Mudah ditebak. “Hujan Mata Pisau” lantas menghujam telinga penonton. Diawali suara efek hujan pada bagian intro, penonton kembali berpesta pora. Moshing di sana-sini tentu menghiasi dan menambah sangar nomor ini. Deras!

Enam lagu mengakhiri sesi pertama presentasi HITS KITSCH. Dilanjutkan repertoar kedua yang juga sangat dinantikan oleh penonton. Gaya khas ugal-ugalan, beringas, dan bait yang menohok menjadi romantisisme yang ditunggu para Teman Pencerita, Club Mati Muda, dan tentunya Jenny.

Setelah menyiapkan set dan berbagai perlengkapan lainnya, formasi yang bisa terlihat di tahun 2010 lalu memasuki panggung. Robi, Farid, Arjuna Bangsawan (bass), dan Anis Setiaji (drum) menduduki sofa hitam. Sama seperti layaknya sebuah reuni, cerita bahagia dari sejarah serta beberapa percakapan yang saling ejek menjadi pemandangan menarik. Dan sebagai pemanasan, nomor “Maha Oke” yang dibawakan secara akustik megobati kerinduan akan Jenny. Ada beberapa kesalahan kecil. Meski demikian, pemakluman atas kesalahan itu akan menjadi gimmick yang menggelitik. Melewati nomor keramat itu, ada “Monster Karaoke” yang juga masih dengan set akustik. Meski tanpa ada efek deru distorsi, permainan Robi, Anis—yang kali ini memegang gitar, Arjuna, dan vokal Farid memang belum pudar dari Jenny. Melewati sesi akustik dan dialog dengan nuansa kenangan, Jenny melanjutkannya dengan “120” dan “Menangisi Akhir Pekan” dengan set full band. Dua peluru membuat penonton semakin bisa merasakan atmosfer: “inilah Jenny!”. Kerumunan semakin berarak dan moshpit dipenuhi dansa-dansa yang semakin liar.

Jenny © Warningmagz
Jenny © Warningmagz

“Siapa dari kalian yang Festivalist? Siapa dari kalian yang Teman Pencerita?” tanya Farid dari atas panggung. Sorak sorai Teman Pencerita lebih terdengar membahana; konversi kerinduan atas band yang mengentaskan Manifesto di tahun 2009 ini. Selanjutnya, mereka menyelingi penampilan dengan “Blitzkrieg Pop” milik Ramones dan beberapa lagu yang eksis di era Jenny mampu menambah memori. “Menangisi Akhir Pekan” serta “Manifesto Postmodernisme” menutup repertoar yang membahagiakan ini.

Arjuna Bangsawan-Jenny © Warningmagz
Arjuna Bangsawan-Jenny © Warningmagz

Yang menarik dari konser ini adalah banyaknya komponen pendukung di atas panggung. Selain tata panggung dan visual yang memanjakan mata serta sound system kualitas prima, beberapa seniman turut serta. Bahkan nomor “Hal-hal ini Terjadi” dibawakan oleh penyair Gunawan Maryanto dari Teater Garasi. Di nomor “Akulah Ibumu” nama Anita Siswanto kembali dicatut. Sayang, sebelum dimainkan sudah dipresentasikan terlebih dulu video klipnya. Jadi, penampilan nomor ini sedikit menunurunkan tensi penonton meski dimainkan tanpa cela.

Ada nomor “Menantang Rasi Bintang” di list berikutnya, serta “Hari Terakhir Peradaban” yang tentunya masih dihiasi ludah berterbangan serta circle pit yang terbakar. Dan untuk gongnya, ada “Mati Muda”. Nomor keramat yang kerap dimainkan FSTVLST maupun Jenny menjadi penutup yang sempurna. Penampilnya pun sempurna; Jenny dan FSTVLST dalam satu panggung. Semenjak awal, para penonton sudah sing along meski tak dipandu Farid. Farid sendiri lebih memilih terjun dan berenang di lautan manusia: crowd surfing! Penonton berhasil menyelesaikan bagian lirik dengan baik!

Farid Stevy © Warningmagz
Farid Stevy © Warningmagz

Tak mudah membuat massa untuk segera pulang. Sebagai encore ada “Ayun Buai Zaman” yang membuai massa di Tanah Indah ini. Semua pesta pora HITS KITSCH, romantisisme Jenny, dan tangis bahagia adalah ‘dosa-dosa’ Tanah Indah! [WARN!NG/ Yesa Utomo]

Galeri foto untuk konser ini bisa dilihat di sini

Event by: FSTVLST Management

Venue : Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri UGM

Date : 18 Februari 2015

Man of the Match : Bagian lirik “Mati Muda” yang dinyanyikan penonton dan crowd surfing Farid di lagu yang sama.

Rating : !!!!

Tags : fstvlstjenny
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response