close

Teman Sebangku: Kesederhanaan Balada dan Perjalanan Menulusuri Arah

w3

 

Teman Sebangku
Teman Sebangku

 

Kota Malang menjadi awal perjumpaan dengan mereka berdua. Dibalik rindangnya pepohonan, semilirnya angin kota dan keramahan warga yang berciri khas, balada-balada syahdu terdengar membelah langit angkasa. Tak banyak instrumen yang dibawa. Satu bernyanyi, satu bermain gitar. Alunan vokal terasa kuat, memberikan nyawa karakter yang menghidupi tiap lagunya. Petikan gitar tak kalah intim mengeluarkan nada-nada sendu nan melankoli. Dari keduanya membentuk kolaborasi yang saling menemani; melangkah di alur perjalanan hidup yang kadang tak sesuai ekspektasi.

Mereka adalah Teman Sebangku; duo folk asal Bandung yang kemunculannya kian menambah semarak khasanah musik sidestream masa kini. Dibentuk di tahun 2010 oleh Sarita Rahmi dan Doly Harahap, mereka membawakan balada folk yang dibungkus dengan pop minimalis. Lagu-lagunya bercerita tentang realita yang sering luput dari pandangan mata. Menikmati hujan, berlari ke tepian kota, duduk bercengkerama bersama kawan dengan segelas kopi hangat sampai beradu keheningan kala malam menjemput tiba-tiba.

Sampai detik ini, sudah tiga buah karya mereka hasilkan. Di tahun 2011, mini album mereka yang bertajuk Menari Bersama lepas ke pasaran. Menggandeng Riko Priyatno, gitaris Mocca, sebagai produser, beragam respon dan pujian positif disematkan silih berganti. Puncaknya ketika Teman Sebangku diganjar 3 (tiga) buah nominasi dalam perhelatan Indonesian Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2012 untuk kategori Breaktrough Artist of The Year, Best Folk Artist of The Year serta Best Song Writer of The Year.

Seperti halnya musisi lain, Teman Sebangku juga pernah dilanda kebosanan akan bermusik. Namun perasaan tersebut hinggap tak terlalu lama setelah di tahun 2016 mereka kembali lagi produktif dengan serangkaian kegiatan kreatif. Mengeluarkan mini album kedua berjudul Berjalan Menuai dan album penuh perdana yang bekerja sama dengan Omuniuum, Hutan Dalam Kepala; dilepas bertepatan hajatan Record Store Day. Selain itu, tur semi mandiri juga mereka laksanakan di beberapa kota antara lain Makassar, Bali, Surabaya, Malang, Yogyakarta hingga Cirebon.

Kali ini kepada WARN!NG mereka menuturkan banyak hal. Cerita masa pembentukan, pergerakan folk di Indonesia, album favorit sampai kesenangan terhadap konser tak bersekat tanpa jarak yang menumbuhkan keintiman lebih.

Sebelumnya selamat untuk rilisnya album Hutan Dalam Kepala pada April lalu. Bisa diceritakan sedikit bagaimana proses pengerjaan album tersebut?

Capek, menyenangkan, belajar banyak hal baru. Proses pengerjaannya hampir 3 (tiga) tahun lebih. Jadi album ini terasa bergerak beriringan dengan fase hidup yang kita hadapi. Tanpa disadari album ini seperti menjelma menjadi ‘hidup’ menemani setiap fase yang kami hadapi selama proses tiga tahun ini.

Lantas, bagaimana dengan pembagian kreatif dari Teman Sebangku? Apakah untuk pembuatan materi lagu dikerjakan secara bersama (entah itu penulisan lirik maupun aransemen musik)? Atau dari kalian sudah ada porsinya masing-masing?

Sudah ada porsi masing-masing. Doly biasanya membuat aransemen dan Sarita karena buta nada jadi dia hanya bisa membuat lirik dan komposisi vokal.  Dari porsi masing-masing tersebut kita gabungkan agar bisa menjadi utuh. Namun memang di album ini sebagian besar materi Doly yang ciptakan baik lirik maupun komposisinya.

Lagu-lagu Teman Sebangku merepresentasikan definisi kesederhanaan dalam bingkai rutinitas sehari-hari. Apa yang mendasari pemilihan tema tersebut?

Karena kami ingin membahas apa yang lekat dengan diri kami untuk saat ini. Pengalaman keseharian, sesederhana apapun bagi kami layak untuk disyukuri, diselami dan diceritakan kembali. Bagi kami cara menceritakan kembali yang paling mudah adalah lewat bentuk nada dan harmoni.

Tidak mencoba untuk menulis lirik dengan muatan kritik sosial? Atau dengan metode dan gaya penulisan lirik Teman Sebangku saat ini sudah termasuk ke dalam bentuk kritik sosial?

Belum, kami belum ke arah sana. Mungkin kami masih terlalu asyik membenahi diri. Tapi jika memang ada kesempatan atau ilham kami ingin membuat lagu-lagu dengan konten lirik kritik sosial yang tidak terlalu literal seperti lagu “Mentari” milik Iwan Abdulrachman yang syarat akan kritik namun tetap mengilhami. Semoga di album mendatang kami sudah setengah selesai membenahi diri kami.

Bagaimana awal mula perjumpaan kalian sehingga memutuskan berkarya bersama? Dan apa makna dari pemilihan nama Teman Sebangku?

Tahun 2010, Sarita Rahmi Listya dan Doly Harahap dipertemukan oleh seorang sahabat baik bernama Syifa Chairisti. Doly Harahap senang menciptakan lagu-lagu dengan gitar nylon namun sayang ia merasa kurang pandai bernyanyi. Sementara Sarita senang bernyanyi hanya dengan iringan instrumen sederhana.  Pertemuan tersebut akhirnya menjadikan Teman Sebangku sebagai wadah untuk mengekspresikan diri lewat berbagai media, bukan hanya sekedar musik.

Untuk makna sebetulnya sederhana saja, kami mengimajinasikan kami berdua ini sedang duduk di suatu ruang kelas (dalam hal ini yang kami maksud skena musik yang ada di Bandung maupun Indonesia) dan kami berdua adalah teman sebangku dalam ruang kelas tersebut. Kami saling bantu kalau soal ulangan terlalu sulit, belum kerjakan PR, tidak punya uang dan tentunya kami berdua tidak pernah berhenti belajar bersama-sama.

Sarita dan Doly
Sarita dan Doly

 

Sewaktu peluncuran album kemarin, Teman Sebangku menggandeng Omuniuum sebagai mitra distribusi. Bertepatan dengan Record Store Day yang juga diadakan di Omuniuum. Dari sini muncul pendapat bahwa para pegiat musik di Kota Bandung sangat mendukung dengan kemunculan potensi baru seperti Teman Sebangku. Bagaimana Teman Sebangku memandang hal ini?

Sudah menjadi hal yang lumrah di suatu kota ada budaya saling bahu membahu. Kami merasa beruntung dengan segala dukungan dari teman-teman yang ada di Bandung khususnya Omuniuum. Omuniuum tidak hanya membantu kami dalam ranah distribusi, secara lebih dalam mereka juga banyak membantu proses tumbuh kembang kami sebagai musisi yang saat ini masih ada di titik militan. Kekuatan komunitas lalu bentuk-bentuk gigs kolektif memang menjadi senjata utama di kota Bandung agar musisi indie baik yang baru maupu yang sudah mapan untuk dapat terus tumbuh dan berkembang.

Bagaimana Teman Sebangku menyiasati ruang kosong yang ditimbulkan karena minimnya permainan instrumen?

Bagi kami tidak ada yang kosong hingga saat ini. Ini kami dengan keserhanaan kami. Kami sudah pernah bereksplorasi dengan tambahan komposisi yang lebih penuh di single “Agony Parade”. Responnya memang baik dan lagu tersebut juga terasa megah, tapi kami merasa itu bukan kami (tertawa). Walaupun demikian kesederhanaan itu tidak kami jadikan alasan untuk tidak bereksplorasi dan belajar. Saat ini Sarita sedang getol belajar gitar dan vokal, semoga album mendatang ada instrumen sederhana baru yang bisa ditambahkan.

Di tengah menjamurnya penyanyi/duo/band yang membawakan aliran folk dewasa ini, apa yang membedakan Teman Sebangku dengan yang lainnya?

Setiap band punya visi masing-masing tentunya, ini yang pasti membedakan satu band dengan band lainnya. Jadi kami tidak pernah sibuk mencari perbedaan kami dengan yang lain. Ya pokoknya berkarya saja, bikin musik yang bagus dan meyakini apa yang kami buat. Sisanya serahkan saja sepenuhnya pada teman-teman yang mendengar.

Bagaimana Teman Sebangku memandang fenomena dunia musik yang penjualan rilisan fisik semakin menurun dan cenderung berubah arah ke versi online dan digital?

Pada dasarnya kami sebagai musisi sidestream memanfaatkan semua kesempatan yang ada. Kami punya rilisan fisik dan juga menyebarkan karya kami lewat digital. Karena tidak bisa dipungkiri saat ini kami ingin karya kami bisa sampai ke lebih banyak orang. Namun tidak bisa dipungkiri juga, di sisi lain kami memang lebih mengutamakan rilisan fisik, karena pasti ada kesan tak terlupakan saat kita memiliki sesuatu yang bisa digenggam dan dirasakan.

Di antara beberapa nomor lain Hutan Dalam Kepala, saya tertarik dengan “Di Semesta” dan “Layang Melayang”. Terlebih saat kedua lagu tersebut diputar tatkala menemani perjalanan jauh yang melewati bentangan latar panorama alam di kiri dan kanan.

Terima kasih, kami sangat senang jika pendengar bisa punya pemaknaan dan respon yang jauh berbeda dari makna lagu kami yang sebenarnya.

Teman Sebangku
Teman Sebangku

 

Bagaimana Teman Sebangku melihat pergerakan kancah folk dewasa ini?

Pada dasarnya kami sendiri belum berani menasbihkan diri kami sebagai musisi dalam ranah folk, kami masih bermain di area pop namun dengan nuansa lirik yang balada. Namun kami senang melihat kini di berbagai kota ada teman-teman yang memainkan musik folk, balada, akustik atau apapun itu sebutannya. Saat tur kemarin kami senang sekali menemukan Ruang Baca di Makassar, Pygmos di Bali, Chamomile  dan Wake Up Irish di Malang, Taman Nada dan Pathetic Experience di Surabaya, lalu Half Eleven PM di Yogyakarta. Mereka semua memainkan musik yang indah dan senangnya lagi ada banyak teman yang setia merespon musik mereka. Dan yang membuat lebih senang lagi musik seperti kami tidak selalu harus memainkan musik kami di panggung besar, kami bisa bernyanyi dimana saja di ruang-ruang yang tidak terduga dan tidak biasa dengan nuansa yang lebih intim.

Musik folk identik dengan konsep kesederhanaan, baik secara filosofis maupun urusan teknis. Apakah kelak juga mempengaruhi perjalanan Taman Sebangku?

Kami tidak terlalu peduli dengan asumsi-asumsi itu, berkarya saja sudah cukup bagi kami. Toh menjadi sederhana itu baik bukan tidak perlu repot dengan urusan hiruk pikuk yang kadang tidak bisa kami mengerti. Jika terkait perjalanan kami sebagai musisi, kami saat ini memang masih militan, melakukan tur secara semi mandiri kemudian mendistribusikan karya secara semi mandiri bahkan tak jarang saat kami sedang sepi manggung kami membuat panggung-panggung kolektif sendiri. Jadi ya begitulah.

Apakah ke depan musik Teman Sebangku mampu bergerak dinamis menyesuaikan perkembangan yang ada? Atau tetap berdiri pada patron seperti sekarang ini?

Kami akan mengikuti perkembangan yang perlu kami ikuti. Kami sudah 6 (enam) tahun bermain musik rasanya kami sudah mulai paham mana yang kami butuhkan dan tidak. Hal tersebut tentunya mengacu pada visi kami. Visi ini sebagai filtrasi bagi kami untuk menentukan kapan kami perlu kukuh dengan suatu pendirian dan kapan kami perlu longgar mengikuti arus baru yang mungkin akan membawa kami ke tempat yang lebih baik.

Bagaimana konser terbaik menurut Teman Sebangku? Berada di gelanggang besar atau di pelataran halaman belakang rumah?

Kami pernah main di keduanya; festival dengan ribuan penonton dan bermain di pekarangan rumah. Saat bermain di sebuah festival belum banyak pendengar bisa menikmati musik kami secara utuh seperti ikut bernyanyi bersama mungkin karena musik kami juga agak susah dijadikan koor karena njelimet. Sementara panggung kami di pelataran rumah adalah panggung pertama kami. Saat itu kami bernyanyi untuk teman yang mempertemukan kami (Syifa) yang ketika itu ulang tahun. Rasanya sampai hari ini kami belum bisa melupakan perasaan bahagia saat itu. Jadi memang kami selalu pulang dengan perasaan lebih bahagia saat penampilan kami bisa dekat dan memberi makna atau perasaan baru yang bisa dibawa pulang oleh teman-teman yang datang.

Teman Sebangku
Teman Sebangku

 

Pengalaman apa saja yang didapatkan Teman Sebangku dari perjalanan tur kemarin?

Keluar dari cangkang itu yang paling utama, kami sudah bosan di rumah sendiri. Kami ingin membuat peta baru, bertemu teman baru dan bertemu langsung dengan teman-teman di luar kota Bandung yang memang sudah cukup lama mendengarkan dan mengapresiasi karya kami. Dan hal-hal tersebut bisa tercapai lewat perjalanan 14 (empatbelas) hari yang padat, menyenangkan juga melelahkan. Dan yang membuat kami akhirnya bersedia dengan tulus mengapresiasi diri kami sendiri adalah karena kami melakukannya secara semi mandiri. Tur ini mungkin proyek kami yang paling serius dikerjakan secara profesional dari selama 6 tahun riwayat kami bermusik (tertawa).

Apakah rencana ke depan Teman Sebangku selepas merilis album Hutan Dalam Kepala?

Menambah kapasitas kami sebagai musisi tetunya, membuat materi baru dan kami masih punya hutang besar yaitu membuat showcase. Karena sepulang dari tur kemarin kami memiliki hasrat besar untuk bisa berbagi baik lewat karya kami maupun cerita tentang pengalaman berharga yang kami dapatkan selama tur kemarin.

Rilisan lokal yang patut dicermati kehadirannya versi Teman Sebangku?

Doly: Sigmun

Sarita: Sisir Tanah, walaupun belum ada rilisan fisiknya. Ini doa dan harapan biar Mas Danto mau bikin album. Amin.

Wawancara oleh Muhammad Faisal

Foto: Alfian Putra

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response