close

Tentang Apa?: Refleksi Atas Zine Hari Ini

refleksi zine

refleksi zineDengar-dengar Bandung Zine Fest 2016 (berikutnya disebut BZF 2016) bakal digelar dua bulan lagi, yaitu pada Agustus 2016. Poster-posternya sudah beredar sejak kemarin-kemarin. Beberapa poster yang saya temukan terbilang keren-keren banget. Beberapa teman terlihat bersemangat dan sangat tertarik untuk datang, malah tidak sedikit yang sudah mempersiapkan jadwalnya. Sekitar seminggu lebih yang lalu satu tulisan muncul dari salah seorang sahabat baik saya, namanya Audry Prayoga, tentang BZF (baca disini). Semacam refleksi. Dia kepingin tahu kenapa acara itu harus dibikin lagi, seberapa penting acara itu, terus apa wacana yang akan disampaikan dalam acara tersebut. Wow, bagus sekali tulisannya. Konstruktif dan kritis. Hanya, Audry membahas  tentang sebuah festival zine. Acara zine. Sedangkan acara semacam itu tidak akan ada tanpa zine itu sendiri, lha iya toh?. Acara itu dikondisikan oleh keadaan zine dan apa saja kebutuhan bagi kultur zine. Dan karenanya, saya akan bicara dengan perspektif yang berbeda dengan Audry. Saya lebih ingin mendiskusikan tentang zine. Semata karena hal mendasar yang saya percaya: peristiwa dikondisikan oleh materi. Acara dikondisikan entitas. Jadi kenapa tidak mulai dari situ?

Saya penasaran sekali dan sangat bersemangat mempertanyakan beberapa hal yang saya anggap esensial—setidaknya bagi saya sendiri lho. Jenis pertanyaan yang tidak wajib dijawab oleh individu atau kelompok manapun—yang mungkin heran kenapa zine sebegitunya dibahas—tapi oleh semua orang yang merasa tertarik atau peduli. Pertanyaan saya sebelum kita berangkat ke pertanyaan-pertanyaan berikutnya adalah, memangnya apa yang disebut dengan zine ini sendiri masih ada? Yang saya maksud zine di sini merujuk pada zine berbentuk fisik, bukan dalam bentuk PDF, atau dilihat lewat layar monitor komputer maupun ponsel pintar. Bukan virtual. Melainkan zine berwujud fisik yang bisa dipegang dan dibawa ke mana-mana, mulai dari dibaca di kereta sampai nongkrong di WC.

Oh iya, masih ada rupanya! Dua tahun lalu saya masih membuat zine yang dibikin dengan sangat merepotkan itu kok. Iya, yang pakai gunting-menggunting dan tempel-menempel, meskipun isinya tetaplah tulisan yang bisa dibaca lalu bikin tertawa-tawa, bukan visual mengagumkan yang bisa dilihat dengan takjub meski sejujurnya kita tidak yakin paham itu tentang apa. Poster lokakarya zine atau acara sejenis dengan judul semacam “bikin zine bareng Anu” beberapa kali saya temui di media sosial selama setahun ini. Malahan tahun lalu saya masih sempat-sempatnya pula memberi lokakarya zine di sebuah infoshop di Semarang. Bicara infoshop, sebuah infohouse sekaligus kolektif yang aktif di isu perempuan dan agraria di Yogyakarta juga masih mempublikasikan zine terbarunya sebagai medium edukasi dan propaganda. Seorang teman masih saja produktif membuat zine tanpa rasa bosan sepanjang lima tahun saya mengenalnya, hingga hari ini, konten tulisan dan visual di dalamnya tak pernah sekalipun membosankan. Seorang teman yang lebih canggih lagi bahkan dengan aktifnya membuat zine mingguan berisi hal-hal menarik yang dia suka dan alami dan dia bagikan secara gratis. Beberapa teman di Bandung, Makassar, Pontianak, dan kota-kota lainnya—saya sendiri juga sampai lupa—dalam beberapa bulan (dan bahkan sebulan!) terakhir ini juga baru saja menerbitkan zine! Belum lagi zine visual yang terbit secara reguler dengan isi dan kemasan yang tidak main-main pun (dengar-dengar) bakal merilis edisi terbarunya tahun ini, dengan sel-sel yang tersebar di berbagai kota dan saling terhubung. Lalu astaga, di gelaran LadyFast kemarin pun lokakarya zine tetaplah hadir dalam agenda acara! Bahkan lapakan dan saling barter karya LadyFast juga dipenuhi zine-zine baru dengan para pembuat yang saya pun baru kenal hari itu. Ini saya belum menyebutkan zine dalam bentuk komik, lho. We really love zines! Entah kenapa makhluk-makhluk ajaib macam kami ini masih saja termotivasi memproduksi zine di tengah serbuan website, portal online komunitas, blog, webzine dan semua media internet yang sangat mudah diakses dalam sekali pencet dan sentuh. Banyak alasannya. Bisa jadi gaptek karena tidak handal mengoperasikan perangkat lunak perancang desain, bisa karena alasan romantis bahwa memiliki karya yang nyata wujudnya, dapat disimpan dengan abadi—dan tidak tergusur oleh tulisan lain dalam website yang sama dalam hitungan menit—itu memberi kebahagiaan tersendiri, bisa pula karena ada banyak hal dalam zine yang tidak dapat diakomodasi oleh internet, atau alasan lain yang kalau disebutkan satu persatu akan membuat kalian yang membaca tulisan ini jatuh tertidur.

Tapi jika diambil benang merahnya, kelebihan zine adalah kita memiliki otoritas penuh terhadapnya. Zine tidak melulu jadi komoditas yang dipertukarkan di pasar, oleh karenanya kompetisi bukanlah keharusan dan secara otomatis dia tidak memiliki standar produksi seperti media pada umumnya. Zine memberikan ruang berekspresi sesuai dengan kapasitas yang dimiliki pembuatnya. Jika pun zine menjadi suatu komoditas, dia tetap dapat dibentuk dalam kerangka dan konsep apapun yang diinginkan pembuatnya. Dia punya ciri yang mengacu pada pembuatnya. Klaim ‘perlombaan’ oleh produsen zine itu ilusif dan subjektif, karena lomba butuh keseukuran. Bagaimana bisa sesuatu yang tidak seukur baik dalam kuantitas maupun kualitas—dengan ciri yang masing-masingnya berbeda—dapat dilombakan? Itu adalah lomba yang cacat. Malah sebenarnya tidak bisa disebut lomba sama sekali. Bahkan dalam sejarahnya, saya kurang familiar—bukannya tidak pernah dengar—dengan istilah “zine bagus” dan “zine jelek”. Karena alat ukur kualitas zine secara sosial ini tidaklah eksis. Bagaimana bisa alat ukur hadir jika variabel yang diukurnya pun tidak ada? Kok bisa tidak ada? Ya karena tidak seukur itu tadi. Yang saya sering dengar adalah “zine favorit”, ini bergantung pada preferensi konsumen alias pembacanya, dan itu menyangkut ciri yang dimiliki zine dengan relasinya terhadap si pembaca, alias bersifat personal. Kalau anda suka humor, pastinya memilih zine lawak. Kalau saya pemerhati musik, pastinya koleksi zine saya dipenuhi zine musik. Lucunya, konsep perlombaan justru hadir dalam bentuk kurasi dalam website-website corong wacana ternama yang jadi pembentuk opini generasi medsos nusantara. Mekanisme pemilihan sedikit artikel layak tayang dari banyak naskah yang masuk ke dalam redaksi mereka telah menunjukkan kompetisi dengan sangat jelas. Hanya yang kualitasnya oke (menurut siapa ya? Oke tuh yang bagaimana sih? Bernilai jual tinggi? Menarik banyak atensi? Entah) layak dimuat. Dengan pengikut yang banyak, mereka bisa memberi opini dan didengar, belum lagi akses yang makin banyak, dan terciptalah selebritas, ha!. Kurasi berdasarkan kualitas itu harus diakui sulit. Parameternya apa, saya sendiri juga mengawang, apa ya? Berbeda halnya dengan kurasi berdasarkan keaktifan. Produktivitas (ups, jangan-jangan nyebut ini saja saya dibilang bermental kapitalis, hihi). Itu lebih terukur. Lalu kreativitas, kreativitas itu malah bisa diukur lewat kuantitas lho. Semakin kreatif suatu hasil kerja, maka peluang untuk diterima atau direspon lebih banyak orang semakin besar.

Baiklah, ‘dadakan’ mungkin kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan sesuatu yang bersifat eventual, zine mendadak dibuat dalam rangka memenuhi keterlibatan pada acara tertentu, BZF misalnya. Jika para produsen zine ini tidak lagi kemudian memproduksi zine, kita pun tidak dapat lantas menyebut mereka ‘euforik semata’ atau ‘karbitan’ atau ‘hangat-hangat tai ayam’. Karena sesungguhnya keberadaan zine sebagai produk dan produsen budaya pun mengikuti perkembangan budaya. Budaya itu berubah. Budaya pasti berubah. Jika zine rupanya tidak lagi dianggap relevan oleh generasi internet, maka sangat wajar dia ditinggalkan. Alaminya memang begitu kok. Ditambah oleh kenyataan yang harus diakui bahwa komunitas zine itu sendiri tidak bergeliat dan para penggiatnya semakin terisolasi satu sama lain, tidak berjejaring dengan solid untuk menghidupkan komunitas zine itu sendiri. Nah, ini akan mengantarkan kita pada pertanyaan berikutnya.

Tapi sebelumnya, baiklah, pertanyaan pertama telah terjawab. Oh ya ampun, hari ini ternyata zine memang ada. Pertanyaan berikutnya, jika memang zine masih ada, seberapa besar antusiasme terhadap benda yang bernama zine ini—setidaknya dalam tiga tahun terakhir paska BZF 2013 sebagai acara festival zine—sekaligus seberapa banyak individu yang memproduksi atau setidaknya terlibat dalam produksi zine? Antusiasme dapat diukur lewat kuantitas produksi zine sekaligus respon para pembacanya. Menurun? Atau meningkatkah? Jika menurun, ya berarti zine mulai tidak diminati, dan sebenarnya itu tidak masalah. Santai sajalah. Kelompok dan individu yang memiliki semangat dan hasrat besar terhadap zine toh masih ada, dan teman yang berusia muda punya porsi cukup banyak di situ. Ini memang momen mereka. Maka pilihannya adalah entah zine harus berevolusi menjadi bentuk dan konsep yang lain—sangat lain—bahkan mungkin bukan lagi zine yang kita kenal, demi meningkatkan antusiasme (gejalanya mungkin dapat dilihat dalam bentuk PDF, lalu webzine, dan tentu saja para penulis zine yang mulai beralih ke blog). Atau para penggiat zine sendiri dapat menunjukkan resistensinya (yang bisa jadi adaptif) dalam menjaga keberadaan zine di tengah perkembangan zaman internet dengan tetap memproduksi dan menghidupkan zine beserta kulturnya dalam bentuk yang sama. Ceteris paribus. Sebagai komoditas maupun bukan komoditas.

Jumlah individu digunakan untuk membaca komposisi sosok yang aktif menggiati komunitas zine, cukup beragamkah atau ternyata si dia-dia lagi. Penampakan kasar yang saya temui di lapangan maupun informasi virtual, cukup menyenangkan. Banyak sosok-sosok muda yang baru dan tidak saya kenal. Ini indikasi bagus. Komposisi makin beragam. Yang berarti kultur zine telah berhasil keluar dari lingkaran sejarah terkuatnya di Indonesia, kultur hardcore/punk. Yang juga berarti massa zine sebagai media semakin besar. Malah kini kultur hardcore/punk tidak lagi memfungsikan zine sebagai media komunitasnya, bahwa zine adalah media alternatif yang merepresentasikan semangat oposisi punk terhadap masyarakat dan atribut-atributnya. Pastinya medsos berperan besar. Hampir semua band punk saja memiliki fanpage mereka di Facebook, atau akun Instagram, bahkan beberapa punya website sendiri.

Kemudian mari beranjak ke pertanyaan berikutnya. Zine yang telah menjadi media alternatif, sekarang dihadang pertanyaan bertumpuk, apa yang dimaksud alternatif? Apa saja parameter yang menentukan zine diklaim alternatif? Bagaimana posisi zine terhadap media arus utama? Posisi zine terhadap media arus utama dapat berupa oposisi, atau sekedar opsi. Aneh, tapi memang demikian. Tapi pilihan peran kita sebagai penggiat zine rasanya simpel saja. Kita kan tinggal memposisikan saja zine sebagai apa. Apakah kita ingin mempertahankan posisi zine berdasarkan sejarahnya, oposisi dari media cetak arus utama yang rakus, dominan dan homogen. Atau kita akan memposisikan zine sebagai opsi, sebuah pilihan yang tidak menentang apapun dan masih sejalan dengan kultur masyarakat pada umumnya, seperti hobi misalnya. Tapi apa saja parameter yang digunakan untuk menentukan zine diklaim alternatif, ya tidak jauh-jauh sih. Ya masih berkutat pada apa yang diproduksi (dalam hal ini: konten), bagaimana dia diproduksi, bagaimana dia didistribusikan, dan bagaimana relasinya dengan konsumen. Khusus untuk konten, cara penulisan bukanlah isu penting bagi saya. Bagi ukuran Indonesia, ada orang yang mau dan berani menulis saja sudah bagus!

Zine kita adalah literatur yang lahir dari kultur, tapi kemudian berkembang hingga membentuk kultur sendiri, yaitu kultur literasi. Spesifiknya, kultur media alternatif. Artinya dia harus diakui telah berpengaruh besar terhadap bentuk dan konsep media-media alternatif yang eksis sampai saat ini dan di hari ini, termasuk media-media alternatif berbasis internet. Nah tapi, bicara soal internet lagi, media cetak arus utama (duh, capeknya menyebut kata ini terus! Haha) saja pun nampaknya memang sudah sekian waktu lamanya memiliki versi online. Industri media cetak mereka kelihatan lesu. Jangan-jangan mereka sudah siap lepas landas menjadi versi online sepenuhnya. Yah, tidak heran juga. Biaya produksi jadi semakin sedikit, dengan realita bahwa konsumen memang sudah enggan membeli versi cetak sehingga profit memang jadi semakin sedikit pula, mekanisme yang paling mungkin dilakukan harus dilakukan. Kehilangan sekelompok besar masyarakat yang memilih berganti bentuk media, cetak ke online, membuat industri media cetak arus utama harus berpikir tentang mekanisme itu. Adaptasi ala kapitalis.

Baiklah, karena saya sudah pingin tidur, inilah pertanyaan terakhir dan terpenting dari saya. The ultimate question of these whole things. Apa urgensi zine dan kulturnya untuk tetap ada? Tentu bergantung pada fungsi zine itu sendiri. Karena kalau tidak ada fungsinya ya untuk apa tetap ada? Anatomi mendukung fungsi. Demikian, posisi zine menentukan fungsinya. Tidak perlu terlalu ribut dengan hal-hal yang tidak esensial. Berisik! Tentukan sikap saja, posisi zine yang mana yang akan kita ambil? Dari situlah fungsi zine akan berjalan.

Kesimpulannya, sebelum repot-repot mewacanakan BZF 2016 sebagai (konon) sebuah ‘perayaan’ suatu komunitas, mempertanyakan nilai-nilai yang ingin dirayakan komunitas tersebut dan pentingnya perayaan itu, menurut saya yang terlebih dahulu penting adalah refleksi tentang entitasnya itu sendiri, zine. Karena toh nilai-nilai berasal dan dibentuk oleh material entitas. Selebihnya, saya hanya masih panik karena telinga Giza1 terluka parah.

Sekaligus sebagai bekal sebelum datang ke sana, saya cuma kepingin mengajak teman-teman untuk coba memikirkan bersama yang barusan saya ceritakan. Tentang zine. Dengan kontradiksi, dilema, dan problemnya. On Zines.

 

[Pramilla Deva]

(anggota Kolektif Betina, Needle n Bitch, pegiat zine)

  1. Giza adalah nama kucing yang tinggal di rumah kolektif Needle n Bitch, Yogyakarta.
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response