close

Tentang Mengalami Sebuah Rasa

IMG_9523
Frau  © warn!ngmagz
Frau © warn!ngmagz

“Aku ingin mengingatkan ke orang lain bahwa pengalaman menikmati musik itu nggak sekedar mendengarkan audio aja” – Leilani Hermiasih.

Jika saja ini bukan Konser Tentang Rasa dengan konsep yang sedemikian rupa, datang menonton pertunjukan Frau bisa jadi adalah salah satu hal terklise yang bisa dilakukan seorang gig-goer. Kalian akan datang, mengerumun di depan venue, duduk tenang terhipnotis duet Leilani Hermiasih bersama Oscar, ikut cekikikan melihat Frau yang selalu sedikit kikuk menghadapi penonton, terpesona lagi, kemudian keluar venue senyum-senyum. Sejenis ruap kebahagiaan yang menyusup lewat kesederhanaan dan kejernihan karya Frau.

Beruntung Konser Tentang Rasa tidak berlangsung sesederhana itu. Pertunjukan yang diadakan di Societet Taman Budaya Yogyakarta kamis (29/10) lalu terbilang sangat konseptual. Dengan misi menghadirkan pengalaman indrawi utuh saat menikmati musik, Kongsi Jahat Syndicate membangun pertunjukkan dengan berbagai gimmick yang memancing seluruh pancaindra untuk mengalami –tidak hanya menonton. Walhasil, alih-alih sebuah konser, 15 lagu yang dibawakan malam itu jadi sebuah peristiwa. Malam itu Frau juga tidak hanya menampilkan lagu-lagu dari Starlit Carousel dan Happy Coda, tapi juga beberapa lagu baru yang akan dirilis di album ketiganya nanti.

Sementara penonton sudah duduk di deretan kursi merah di Societet dan Oscar masih tertutup kain di depan, Tik! Tok! bertugas mengawali pertunjukan. Enam lagu dibawakan, termasuk cover version dari “Idioteque” milik Radiohead yang digarap jadi pop manis. Setelah Tik! Tok! merampungkan “Screen” dan masuk kembali, panitia membagikan kartu pos kosong dan pensil yang boleh digunakan penonton untuk merespon pertunjukan yang akan dialaminya.

Frau ft. Erson Padapiran © warn!ngmagz
Frau ft. Erson Padapiran © warn!ngmagz

Ruangkan menggelap sebelum kemudian Leilani akhirnya muncul dari pojok kanan panggung sambil membawa lentera. Turun dan duduk menggenapi Oscar menjadi Frau. “Sembunyi” lalu dilantunkan. Salah satu lagu baru ini bercerita tentang rasa gugup Lani setiap kali akan tampil. Setelah menyapa penonton dengan gelagat kikuknya “Empat Satu” disuarakan. Malam itu Frau juga menampilkan dua musikalisasi puisi dengan sangat apik. “Berdiri Aku” dari Tengku Amir Hamzah yang dimedley dengan “Berita Perjalanan” dari Sitor Situmorang. Permainan piano dengan tempo berganti-ganti menggambarkan lompatan rasa yang ada di bait-bait dua puisi itu. Sementara itu, penonton yang jeli pasti sudah menyadari jika aroma ruangan sudah berubah. Aroma kayu manis yang hangat diawal berubah jadi bebauan laut, menyusul “Water” yang dilagukan setelah itu.

Frau kemudian memanggil Erson Padapiran, peniup terompet Belkastrelka yang kemudian mengisi spasi-spasi di lagu “Mr. Wolf” dan “I’m a Sir”. Tiupan terompet komikal yang membuat dua lagu tadi jadi lebih menyenangkan. Memunculkan sisi maskulin dari lagu-lagu berobyek laki-laki tersebut. Sesi pertama berakhir dan kemudian jeda 10 menit. Penonton kemudian disuguhi botol-botol minuman yang berisi teh, kopi atau susu.

Ketika kembali muncul, Frau bercerita ihwal gagasan konsep konser Tentang Rasa ini. Salah satu momen interaktif ada di lagu berikutnya, “The Butcher-Tukang Jagal” ketika Frau meminta bantuan penonton untuk menyanyikan beberapa bait lagu. Lagu baru ini adalah respon Frau untuk ilustrasi karya Restu Ratnaningtyas. “Kalau diilustrasikan lagu ini seperti orang pegang kapak jagal dengan kepala berupa sekerat daging,” jelasnya.

Dalam jumpa pers yang diadakan sehari sebelumnya, Frau juga menjelaskan bahwa benang merah dari karya-karyanya tahun ini adalah respon terhadap karya orang lain. Sebuah laku yang menjadikan Frau lebih seperti seorang seniman ketimbang musisi saja. Selain puisi dan ilustrasi, Frau bahkan membuat lagu dari secangkir kopi susu. “Vietnamese Coffe Drip” adalah protes Frau terhadap sikap manusia yang selalu memberlakukan distingsi ‘hitam-putih’ dengan bumbu stereotype ke hampir semua hal. Salah satu lagu yang akan paling saya tunggu di album Frau selanjutnya.

Frau kemudian memanggil Alexandria Deni untuk berduet dengannya di lagu “Detik-Detik Anu”. Sejauh ini jadi lagu dengan nuansa paling pop yang pernah Frau buat. Quintet String juga diundang untuk lagu “Layang-Layang” yang menurut Frau ia ciptakan dari kisah seorang anak peserta lomba layang-layang. Gesekan dan petikan senar-senar menyublim dalam “Layang-Layang” membuat musik Frau megah.

Aroma gula jawa lalu menyeruak ketika “Tarian Sari” mulai menyuara. Perpaduan yang memancing imajinasi penonton untuk membayangkan seorang wanita dengan sampur tengah menari di tengah ruangan klasik ketika seorang bocah kecil berlari masuk dan mencium pipinya. Sinematik. Konser lalu dipungkasi dengan “Arah”. Kali ini, momen magis dari “Arah” dipersembahkan oleh permainan lighting. Asap dari smoke gun yang masih melayang di atas penonton membentuk pilar-pilar transparan dari sorotan lampu dari balik hiasan panggung yang berlubang-lubang. Dan seperti yang saya tulis di awal, sebuah akhir klise menyenangkan mewujud dalam rentetan tepuk tangan panjang dan membahana, juga wajah-wajah sumringah penonton ketika keluar venue.

Frau © warn!ngmagz
Frau © warn!ngmagz

Sebuah usaha memaksimalkan pengalaman pancaindra yang patut diapresiasi, secara konsep dan praktiknya. Sayang sekali dibanding segi musik, aroma dan rasa cecap, tata visual konser ini terbilang terlalu sederhana. Selain permainan tata lampu, penonton lebih sibuk membangun visual-visual sendiri dalam kepala mereka. Namun bahwa penonton dijamu dengan sangat hangat membuat konser Frau selalu terasa intim, seperti bertamu di rumah teman. Konser ini sebelumnya sudah dilakukan di Bandung. Di Jogja sendiri, konser dilaksanakan tiga kali dengan pengumuman sold out di setiap penjualan tiketnya.

Frau, kali ini dengan konser Tentang Rasa mengingatkan lagi kepada kita untuk menghargai momen-momen kecil. Bahwa kebahagiaan tidak hanya ada di selebrasi-selebrasi raksasa, juga bahwa mengalami sesuatu secara utuh itu indah.[WARN!NG/Titah Asmaning]

Event by: TNGR x Kongsi Jahat Syndicate

Date: 29 Oktober 2015

Venue: Societet Taman Budaya Yogyakarta

Man of The Match: kolaborasi Frau feat. Quintet String di “Layang-Layang” dan saat “Vietnamese Coffe Drip”

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response