close

Terror Weekend #2: Akhir Pekan Penuh Teror Menghentak

This Heart (9)

Setelah sukses membangun kedekatan penonton dan penampil di edisi perdananya, kini Terrror Weekend Jilid 2 pun dihelat dengan mimpi yang masih sama: gig murah namun kaya kesan mahal yang berbekas di benak penontonnya.

Nausea [Herlambang Jati]
Nausea [Herlambang Jati]
Ternyata, kendaraan muda-mudi yang bersliweran di sekitaran Jalan Tribata, Gondokusuman, Yogyakarta pada Jumat (1/4) lalu bukanlah mereka yang baru saja usai menonton film di bioskop Empire. Mereka adalah anak-anak pemberani yang menantang balik terror kedua yang telah dilemparkan oleh Terror Weekend Collective. Sebagian kecil di antara mereka mungkin telah tersesat beberapa kali, mondar-mandir di sekitaran Kompleks Polri Balapan karena tidak cepat percaya bahwa suatu gig akan diadakan di sebuah rumah biasa.

Sudah terlihat dari bagian depan rumah bahwa garasi belakang akan menjadi saksi betapa menyenangkannya teror di akhir pekan ini. Garasi yang beratap putih dengan tembok hijau muda dan dua karpet merah sudah siap menyambut sang empunya panggung. Benar saja, setelah beberapa penonton pertama menunggu satu setengah jam, Nausea datang tepat pada pukul setengah delapan malam. Kipas angin raksasa di sisi kanan panggung terlihat cukup menyejukkan keempat personilnya. Dibuka dengan nomor “A Gift”, Nausea mulai membangkitkan tensi di malam itu. Suara gitar seolah memulai teror, membuat para penonton yang tadinya masih berada di luar area gig mulai mendekati ‘panggung’.

“Ini adalah gig ketiga kita. Terimakasih buat Terror Weekend!” ucap Tata, vokalis Nausea yang terlihat berkeringat dengan mini dress bermotif floral yang dibalut jaket kulit hitam. Nomor kedua, “Jingga”, mulai dilantunkan. Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia dari band yang merupakan proyek sampingan dari beberapa personil  band indie pop Summer in Vienna ini. Membawakan sebanyak lima buah lagu termasuk “Sun for You” yang akan dirilis dalam waktu dekat, mereka pun undur diri dari garasi. Cukup disayangkan pembagian sound saat Nausea tampil membuat vokal Tata tak begitu jelas terdengar. Seolah-olah tenggelam, suara sang vokalis diredam oleh cakaran-cakaran gitar dan gebukan drum. Mungkin itu yang menyebabkan beberapa penonton hanya diam, seperti mencoba mencerna nomor-nomor yang mereka bawakan.

Kavaleri [Dwiki Aprinaldi]
Kavaleri [Dwiki Aprinaldi]
Daze [Dwiki Aprinaldi]
Daze [Dwiki Aprinaldi]
Ketika Kavaleri melakukan sound check, muda-mudi yang sebagian besar berbusana kemeja flannel, celana jeans, dan sneakers pun mulai mendekati garasi, memenuhi halaman yang cukup luas di depannya. Cabikan-cabikan gitar menandakan dimulainya aksi Kavaleri. Penonton pun mulai mengangguk-anggukkan kepala sesuai dengan tempo lagu yang dibawakan band cross-over rock asal Yogyakarta ini. Arda Awigarda selaku vokalis juga tak kalah pamer aksi. Ia mengangguk-anggukkan kepala yang juga membuat rambutnya terkibas bebas. Ia berjalan maju mendekati penonton yang memang seolah tak berjarak dari panggung, lantas mundur kembali, kemudian berputar-putar di panggung. Teriakan-teriakannya membuat penonton makin riuh dan terbawa suasana. Penonton ikut berteriak pada nomor “Mampus Kau Dikoyak-Koyak Sepi”. Para juru fotopun tak mau melewatkan aksi panggung yang makin memanaskan House of Terror malam itu. Mereka berada di sekeliling panggung namun tetap berpusat pada sang vokalis. Usai membawakan empat buah lagu, mereka pun pergi dengan penuh kemenangan karena teriakan “We want more!” terdengar beberapa kali dari sisi penonton.

Aroma tembakau yang disulut di antara mulut-mulut penonton malam itu kemudian berbaur dengan wangi asap dupa yang dibakar di garasi. Seolah menyiapkan sesajen, lima pemuda yang baru tiba di garasi itu bersiap-siap dengan instrumennya masing-masing. “Halo, kami Daze, Band neo-psychedelic pertama dari Bantul,” kata sang vokalis yang mungkin gayanya cukup mengingatkan penonton pada Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs. Kalimat itu disambut riuh oleh tawa dan tepuk tangan dari penonton yang semakin ramai. Nomor “Red” membuka penampilan dari Daze. Didominasi oleh suara synthesizer dan sound effect khusus, membuat mereka menjadi pembawa suasana yang berbeda dengan dua band sebelumnya. Sang vokalis, dengan topi goni di kepala yang ditumbuhi rambut keriting mengembang mulai beraksi. Ia bergoyang dan menari dengan lesu namun juga lentur, hingga penonton tak bisa melepaskan pandangan kearahnya. Bersimpuh, duduk bersila, bahkan terlentang dengan menggelinjang perlahan, ia benar-benar membuat penampilan Daze terasa semakin asing namun mengundang decak kagum. Sentuhan synthesizer dan sound effect memberikan kesan mengawang. Seperti mimpi kosong, seperti bertualang di angkasa yang penuh bintang dan alien. Pemilihan lagu yang awalnya dengan tempo yang tak begitu cepat, makin lama makin menghentak hingga di lagu keempat. Hal ini sesuai dengan udara yang semakin panas yang membuat tiga personil dari Daze menanggalkan atasannya. Setelah usai, tepuk tangan dan teriakan penonton pun pecah. Penampilan mereka yang cukup interaktif seakan membuat penonton benar-benar akrab dengan pemuda-pemuda dari selatan Yogyakarta ini.

Nisluka [Noe Prasetya]
Nisluka [Noe Prasetya]
Setelah jeda sebentar, beberapa menit setelah jam setengah sepuluh, Nisluka datang mengokupasi panggung. Suara gitar mendominasi, namun penonton sepertinya lebih tertarik memperhatikan sang drummer, Danish. Ia menggebuk drumnya dengan gestur dan mimik yang cukup memikat baik penonton laki-laki maupun perempuan. Mereka membawakan lima nomor, dua di antaranya adalah “Resah Itu Gelisah” dan “Jodoh Ada di Tangan Tuhan yang Maha Esa”. Walaupun kelimanya merupakan interlude, namun hal itu tidak membuat penonton berkeinginan untuk beranjak dari depan garasi yang bermandikan lampu kuning temaram itu. Nisluka yang merupakan sebuah band kolaborasi antara Niskala dan Anggisluka, memang menjadi salah satu band yang dinanti oleh sebagian besar penonton.

This Heart, band ‘tertua’ dalam Terror Weekend #2 dan sekaligus yang paling ditunggu pun menutup perhelatan ini dengan sangat apik. Datang dengan mengenakan celana selutut, sang vokalis pun mulai berteriak dengan ganas diiringi dengan cakaran gitar dan gebukan drum yang menjadi-jadi. Mereka melompat, dan penonton pun juga melompat. Bahkan, sebagian besar penonton yang memang nampaknya sudah mempersiapkan diri untuk moshing, mulai membuat mosh pit dalam berbagai ukuran. Interaksi penonton dengan This Heart pun tak berjarak. Penonton sempat saling tindih menindih di panggung dengan penuh gelak tawa. Satu orang di antaranya berhasil menaiki kuda-kuda atap garasi dengan bantuan penonton lain yang dimabukkan musik hardcore dari band yang berdiri sejak 2007 ini. Intinya, This Heart menjadi klimaks dari teror-teror yang sudah dilemparkan keempat band sebelumnya.

Walaupun begitu, penonton juga masih merasakan kekurangan dari acara ini. Mereka adalah Ohnes dan Yudhis, yang sepakat menyatakan bahwa bagian ticketing menjadi kelemahannya.“Tadi sudah masuk ke area gig, tapi malah baru dikasih tahu kalau harus bayar tiket 8 ribu Rupiah,” tutur Ohnes yang jauh-jauh datang dari selatan Yogyakarta. Namun, secara keseluruhan, mereka mengaku bahwa Terror Weekend #2 adalah sebuah keberhasilan dari DIY (do-it-yourself) gig. “Semoga nanti gig rumahan seperti ini juga bisa mendulang sukses besar,” tutup Yudhis.

This Heart [Noe Prasetya]
This Heart [Noe Prasetya]
This Heart [Noe Prasetya]
This Heart [Noe Prasetya]
Terlepas dari kekurangannya yang tak seberapa, Terror Weekend #2 telah membuktikan bahwa sebuah gig tidak perlu mahal-mahal atau diadakan di tempat besar. Cukup sediakan halaman rumah, musik yang ciamik, kawan-kawan dekat dengan donasi yang alakadarnya, dan tentu saja, rokok dan bir! [contributor/ OktariaAsmarani]

Event by              : Terror Weekend Collective

Date                      :1 April 2016

Venue                  : House of Terror, JalanTribrata No.7 Klitren, Gondokusuman, Yogyakarta

Watchful Shot   : Aksi panggung ciamik dari vokalis Daze yang menggelinjang, dan tentu saja penampilan This Heart yang membangkitkan bara semangat penonton untuk saling sikut-menyikut.

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery –> Terror Weekend #2: The House of Terror

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.