close

Testimoni #warningversary

warningversari
Logo2

Empat tahun yang lalu,  pada tanggal 28 Desember,  sebuah aksi massa yang dikenal dengan Arab Spring dimulai. Hal ini menginspirasi gerakan “Occupy” di banyak negara, yang menunjukkan kembali bagaimana orang-orang bisa mengorganisir hal besar secara mandiri. Tentu ada banyak  kejadian penting yang terjadi pada tanggal tersebut. Namun, secara kebetulan Arab Spring juga menginspirasi WARN!NG, yang secara kebetulan juga terbit di tanggal yang sama, satu tahun yang lalu dengan menerbitkan edisi cetak perdana bertajuk “Occupy Jogja”.

Mundur kebelakang lagi, ide awal WARN!NG muncul pada tahun 2012 Desember, entah tanggal berapa, kala itu kita memulai dengan blog, baru tiga bulan setelahnya kita meresmikan situs warningmagz.com. Satu tahun kami berjalan, dan dengan dukungan teman-teman sekalian: para pembaca, pengiklan, pengkritik, jurnalis, record label, distributor dan tentunya pelaku seni (apapun itu), 28 Desember 2013 WARN!NG hadir dalam bentuk majalah cetak. Tanpa dukungan teman-teman sekalian, majalah tidak mungkin bertahan selama ini.

Lalu buat apa WARN!NG berdiri? Balik ke ide awal, adalah sesederhana untuk memfasilitasi diri sendiri, dan kawan-kawan yang punya passion pada dunia jurnalistik. Kita, kaum muda punya banyak potensi untuk itu, banyak yang punya passion tapi terbatas pada ketiadaan ruang untuk menyalurkannya. WARN!NG hadir dengan semangat kolektif untuk menciptakan ruang itu.

WARN!NG kemudian tumbuh menjadi media kolektif lintas kota. “Without Border” kami daulat menjadi slogan. Dalam arti, musik yang diangkat tidak dibatasi oleh genre ataupun norma tertentu. Majalah arus utama, jarang mengangkat musisi-musisi bawah tanah. Sebaliknya pada media alternatif, seringkali berupa zine, terdapat tendensi untuk tidak mengangkat musisi popular. Di sini, kami coba menggabungkan keduanya—arus utama ataupun alternatif, mandiri maupun dengan label korporat. Karena bagi kami, musik bagus adalah musik bagus, tak peduli ia populer atau tidak.

Walau hadir sebagai majalah musik, tapi kami tak melulu berbicara tentang musik. Film dan isu-isu sosial dan politik juga coba kami lempar. Hal ini berangkat dari observasi kami berkaca pada kami sendiri-kaum muda—yang kesadaraan politiknya cukup rendah. Tak usah jauh-jauh berbicara untuk partisipasi, untuk sekedar mengetahui saja, masih cukup minim.

Masih ingat ketika saya menuliskan “kami percaya penikmat dan pelaku musik di Indonesia akan mendukung kami” di editorial di edisi perdana WARN!NG, dan yak terima kasih, karena keyakinan kami ternyata terbukti.

Atas dukungan, kritik, saran yang kami terima, muncul harapan besar bagi kami sendiri, untuk tetap ada dan berlipat ganda. Panjang Umur Kreativitas!

[Tomi Wibisono]

 

Berikut beberapa testimoni tentang satu tahun majalah WARN!NG, kalian juga boleh menambahkan. Creative people of the world, unite!

 

Sebagai mantan editor zine underground dan kini berprofesi sebagai jurnalis musik saya paham sekali pahit getirnya, jatuh bangunnya, susah dukanya menerbitkan sebuah majalah musik secara konsisten dan berkala serta bukan tempo-tempo (tempo hari terbit dan tempo hari gagal terbit). Oleh karenanya begitu mendengar majalah WARN!NG akan merayakan hari jadi mereka yang pertama tak ayal lagi cuma rasa kagum dan respek yang besar pantas diberikan kepada jajaran pasukan tempurnya (redaksi, sirkulasi, promosi, akuntansi).

Buat saya, hanya sekumpulan orang gila nekat saja yang masih berani menerbitkan majalah musik cetak di negara ini saat ini, apalagi majalah musik independen! Mengapa? Kalau pertimbangannya hanya karena untuk meraih laba dan menghindari rugi maka doanya adalah semoga cepatlah mampus majalahnya. Ini bukan demotivasi, ini kondisi obyektif. Ada grup media besar yang menutup banyak majalah mereka jelang akhir tahun ini karena pertimbangan laba-rugi itu tadi. Tapi saya yakin sekali bukan itu alasan utama majalah WARN!NG terbit. Saya yakin tim WARN!NG adalah penggemar musik tulen dan ini bisa saya serap dari semangat pemberitaan para penulisnya yang militan dan mencerahkan di tiap edisinya.

Saya membaca wawancara yang bernas dengan Joshua Oppenheimer (Jagal, Senyap) di WARN!NG, juga Float, Risky Summerbee, Siksakubur, hingga Carnivored. Belum lagi artikel tentang Taring Padi (siapa yang masih ingat mereka di Jakarta?), menyimak kolom absurd Soni Triantoro kepada Ahmad Dhani juga di WARN!NG, laporan mendalam Hammersonic 2014 yang dihadiri Lala Karmela juga di WARN!NG, resensi Begundal Lowokwaru, Tulus, Mastodon, OK Karaoke, sampai rubrik duel review yang original dan tiada duanya.

WARN!NG memang hadir untuk mendukung kancah (persetan dengan istilah skena) musik lokal, mendokumentasikan sebuah pergerakan yang minim publikasi, apalagi atensi mainstream, khususnya kancah musik di Yogyakarta yang belakangan ini sangat menggairahkan dan paling seksi untuk diberitakan di Tanah Air.

Kiprah kalian memang baru satu tahun, tapi percayalah, sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang akan ada orang-orang yang sangat berterima kasih dan mengapresiasi WARN!NG lebih besar lagi karena kalian telah memotret pergerakan para musisi yang karya-karyanya mungkin baru akan diterima mainstream puluhan tahun dari sekarang ketika seluruh stasiun televisi swasta sialan itu bangkrut ditinggal para penontonnya yang semakin cerdas dan gemar membaca di masa depan. Percayalah bahwa masa-masa itu akan segera kita songsong! Akhir kata, selamat merayakan hari jadi untuk WARN!NG, semoga panjang umur, sekali lagi, semoga panjang umur dan tentunya, masuk surga! [Wendi Putranto – Editor Rolling stone Indonesia]

Di era digital, media independen yang dicetak seperti WARN!NG sangat langka. Band-band indie jadi punya ruang mengenalkan diri dan publik punya pilihan untuk membaca media yang berbeda dari sudut pandang media mainstream kebanyakan. Semoga WARN!NG dihujani iklan agar bisa terus terbit disiplin, terus merasa butuh untuk bikin artikel menarik. Di atas segalanya, semoga WARN!NG menjadi media yang semakin dibutuhkan–bukan sekedar terbit–oleh kaum muda merdeka yang haus bacaan kualitas. [Cupumanik]

Kebetulan Sangkakala diliput beberapa majalah, salah satu yang liputan yang menarik ya di WARN!NG karena dia ngomong apa adanya. Saya pikir Jogja butuh media lokal yang sangat kuat untuk mengeksploitasi segala bentuk kegiatan baik di ranah kesenian maupun ‘ben-benan’. Jadi saya pikir kita sebagai pekerja seni sangat berharap ada media yang bisa mewadahi kegiatan-kegiatan kita dengan liputan yang menarik terutama untuk pasar-pasar kalangan muda. Selamat buat WARN!NG, long live! Sampai ketemu di liputan berikutnya. Hahaha… [Baron Kapulet – Sangkakala]

Subcomandante Marcos pernah mengatakan dalam slogan yang membuat dunia segan, “Kata adalah senjata!”. Bentuk perjuangan modern, yang berhasil membuat dunia bergerak dalam “frekuensi” yang sama. Bahwa perjuangan untuk sebuah revolusi tidak semata-mata mengandalkan otot dan fisik, melainkan juga membutuhkan intelejensi otak dan kecerdasan bernalar.

Kurasa, WARN!NG Magz memiliki spirit atau energi serupa. Dalam setiap artikel dan ulasannya obyektif, selalu provokatif, edukatif, dan tak lupa untuk selalu menghunuskan senjata berupa kata-kata untuk membidik kejadian yang terjadi.

Tidak hanya berbicara tentang dunia musik, tetapi juga membahas siapapun dan apapun yang memang perlu untuk di sampaikan. Memberikan bacaan yang layak untuk diacungi jempol, di saat media-media cetak lainnya hanya bicara rating, iklan dan membahas “untung-rugi”.

Tak seperti kebanyakan media-media cetak lainnya yang lebih tergiur kapital atau pertemanan yang sangat subyektif, WARN!NG Magz lebih tergiur karya-karya dan seniman-seniman “nggak mainstream” yang memang lebih berdasar atas kekuatan karya dan konsistensi senimannya.

Ketika suatu malam di kota Jogja, aku berbicara panjang lebar dengan Danto “Sisir Tanah”, kami berdua setuju, kami angkat topi untuk Warn!ng Magz.

Doaku di ulang tahunnya, aku hanya berharap, semoga WARN!NG Magz tetap konsisten dengan artikel dan ulasan yang objektif. Menjadi media cetak tandingan atas “rezim lama” di industri musik indonesia yang terkesan sombong, subyektif, monoton dan menjemukan. [Iksan Skuter]

Dirgahayu Majalah WARN!NG! Semoga dapat selalu menjadi media yang mengingatkan khalayak agar menyimak hal-hal yang tak tersentuh media lain. [Tigapagi]

Selamat ulang tahun buat WARN!NG yang sudah berkontribusi mewacanakan skena musik Indonesia. Jarang yang bisa konsisten dalam hal kualitas dan selama ini saya melihat WARN!NG memenuhi harapan itu. Kualitas ada dan liputan juga menyeluruh baik secara geografis maupun secara konten. Harapan saya WARN!NG bisa mengkaji lebih jauh musik bukan sebagai produk tapi juga sebagai fenomena sosial, kultural, dan politik juga. Lebih jauh dari itu semoga berkenan bisa sampai kesana. [Risky Summerbee – RSTH]

Selamat Ulang Tahun “WARN!NG Magz” kami sebagai musisi sangat tergantung sekali dengan media alternatif seperti kalian. Kalian memberikan kami jalan setapak untuk kami melangkah menuju impian besar kami. Kami jatuh cinta dengan mobile version website kalian, navigasinya begitu mudah dengan fasilitas page-slide-nya. Masukan mungkin kalian harus perbaiki fungsi “search” di website kalian. Pesan kami tetaplah beredar, tetaplah mengudara wujudkan mimpi kami dengan memberikan wadah. Dan jangan gulung tikar! hahaha. [Dialog Dini Hari]

Saya terkejut masih ada orang yang buat majalah sekarang. Tapi setelah menelisik lebih jauh dan ngobrol, ternyata (WARN!NG) cukup punya akar: zine dan media. Menarik melihat WARN!NG semacam kumpulan orang-orang yang bekerja di media yang sangat hibrid dan tercermin di produknya yang macam-macam juga. Yang paling penting dari WARN!NG, dia adalah usaha untuk membuat infrastruktur pengetahuan musik di Indonesia, yang bergerak dari jalur personal ke jalur publik dan bagaimana itu bergerak bolak-balik [Nuning – Kunci Cultural Studies]

Sangat senang ketika WARN!NG dirilis dalam bentuk majalah fisik. Kalau nggak salah terakhir kali ada majalah musik yang rilis fisik dari jogja itu DAB, dan itu udah lama banget. Sampai saat ini WARN!NG berhasil memenuhi kebutuhan informasi musik dari berbagai skena dan genre. Gigs reportnya lengkap dari gigs komunitas sampai gigs besar serta review album yang fair dan obyektif. Sesuai dengan jargonnya, “Without Border”. [Zaim – Kaveh Kanes]

Media musik gurem kadang kerap dianggap remeh tapi sebenarnya malah kenyataannya media gurem itulah corong pertama yang lebih sensitif mengekspos aksi-aksi musik segar yang potensial. Dirgahayu Warning Magz, semoga bisa tetap sensitif mengendus aksi musik mantab dari semerata nusantara [Auman]

Nggak nyangka aja dari Jogja tiba-tiba ada majalah yang kontennya ‘sakit’ kaya WARN!NG, mantough! [Syarif Acil – Swaragama FM]

Majalah WARN!NG menurutku majalah yang memang saat ini dibutuhkan untuk musisi atau seniman yang berada di jalur underground. Memang sulit sekali untuk kita menemukan majalah-majalah seperti WARN!NG. WARN!NG itu asik terus keren dengan semua isi dan bahasannya, dan siapa saja yang masuk di dalamnya. Tetap eksis di jalur kalian dan memegang erat apa yang dipegang dari awal. Tetaplah jadi WARN!NG yang seperti ini. [Fajar Merah – Merah Bercerita]

WARN!NG bagus, menarik, karena di Jogja sendiri jarang sekali ada majalah, apalagi yang segmented ke musik. Dari segi isi pun nggak melulu tentang musik tapi ada unsur politik juga, jadi ada semacam isu lain yang coba dibangun di majalah tersebut. Jadi nggak melulu tentang musik hura-hura. Semoga WARN!NG bisa tetap jaya dan lebih banyak mengangkat Jogja dan kota-kota lain di luar Jakarta – Bandung supaya lebih merata info pengetahuan musik dan juga mengambil ide-ide lain selain musik untuk dimasukkan ke majalahnya. [Indra Menus – Doggyhouse Records]

Tetap jadi diri kalian sendiri dan tetap dengan idealisme yang sudah ada, tidak lantas mengurangi porsi-porsi yang udah ada sekarang. Jadi aku melihat WARN!NG itu, meskipun bicara musik tapi dia juga mengakomodasi banyak hal, mulai musik sebagai musik, juga musik dan persinggungan dengan aktivisme dengan isu-isu politik, juga lingkungan. Dan WARN!NG merangkai semuanya dan menjahitnya dengan menarik dalam satu terbitan. Tetap konsisten dengan komitmen awal mendirikan media ini dan tetap menjaga semangat. Dan berjaringan dengan banyak orang karena kupikir itu penting untuk kelangsungan WARN!NG. [Sisir Tanah]

Menurut kami WARN!NG adalah media yang oke karena berhasil bertahan di area sidestream, di kota Jogja yang jauh dari “pasar”, cetak lagi. Happy birthday the cvltest media in town. Jangan mati! [Summer in Vienna]

Kemunculan WARN!NG ketika itu saya rasa menjadi sebuah refresh bagi para penikmat zine. Saya menaruh harapan ketika WARN!NG menghubungi saya dan meminta karya saya untuk dimuat. Saya melihatnya sebagai bentuk kolaborasi yang cukup menarik antara editor, visual, musik, penulis dan digabungkan menjadi konsep majalah zine seperti WARN!NG. Saya rasa WARN!NG cukup signifikan ya karena banyak memunculkan artikel-artikael penting untuk musik underground di Indonesia yang tidak banyak dituliskan di majalah-majalah mainstream, majalah-majalah fisik. Sejauh yang saya lihat WARN!NG telah melakukan banyak hal baik selama empat edisi sebelumnya. Jadi tetap semangat maju terus WARN!NG #5 dan setelahnya. [Anti Tank]

WARN!NG Magazine adalah salah satu media cetak dan elektronik bakar batas yang berhasil menepis margin kedaerahan dan sekat-sekat jenis musik. Selain itu WARN!NG Magazine juga menjadi alternatif bagi kejenuhan akan media musik dan gaya hidup arus utama. Dengan ragam bahasan terkini dan menyeluruh, gaya bahasa yang ringan, serta tampilan menarik. WARN!NG Magazine bagi masing-masing pribadi dari GERRAM telah menarik perhatian dan akan selalu mendapat tempat di setiap edisinya. Selamat ulang tahun dan dirgahayu WARN!NG Magazine. Semoga selalu jadi media musik dan konten alternatif yang bersahabat bagi para pembaca dan musisi. [GERRAM]

Selamat bertambah usia teman-teman WARN!NG Magz. Semakin berkarakter dan lebih luas distribusinya, sukses selalu dan salam hangat dari Surabaya. [Ronascent.biz ]

Wohoo… Selamat datang di level baru WARN!NG Magz!!! Semoga semakin jaya, terus berkembang, dan menginspirasi semua pembacanya. Cheers! [The Cloves & The Tobacco]

Mendapati WARN!NG Magazine—yang diasuh dan diperjuangkan oleh teman-teman muda—rasanya seperti mendapati gerimis yang ricik. Konten musik, seni, dan persoalan sekitar yang dihadirkan patut diberi apresiasi yang mendalam. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang personal, mereka adalah bagian yang tidak terlepas dari setiap geliat komunitas di sekitar kita. Kita tahu, satu tahun bukanlah waktu yang panjang untuk dapat dikatakan berhasil, namun satu tahun adalah sebuah waktu yang cukup berarti, untuk menyatakan diri bersungguh-sungguh dalam menghadirkan media alternatif yang baik. Selamat ulang tahun WARN!NG Magazine! [Irfan R. Darajat – Jalan Pulang]

Sebuah majalah yang menakar dengan pas sarkasme di tulisannya. Fresh, men-discover band indie yang jarang kelihatan di permukaan. Halaman favorit: Gigs Report. [Suregary]

Kehadiran majalah WARN!NG memberikan banyak manfaat kepada para masyarakat lokal yang merindukan warta-warta yang jos. Sukses terus ya [Rabu]

Selepas era Ripple, Common Ground, dkk, jarang ada majalah musik independen yang kontennya sekuat WARN!NG. Setidaknya, masih bisa bertahan sampai sekarang. Artikelnya menggugah, tampilannya pun oke. Sebuah media yang benar-benar ‘Into Scene’ Semoga Bertahan hinga edisi ke-666 \m/ [Samack – Solidrock]

WARN!NG Magazine cukup bisa menjadi bacaan ‘alternatif’ ditengah mati dan hidupnya media sejenis. Tinggal digarap lebih serius lagi dan konsisten, WARN!NG Magazine akan menjadi salah satu media cutting edge terdepan setelah eranya Ripple Magz [Deden Erwin – Alternaive]

Pas pertamakali tahu ada WARN!NG, kayaknya emang nggak ada majalah musik lain. Jadi pas ada WARN!NG itu kayak “WAW ADA MAJALAH MUSIK BARU NIH!!”. Kalau dulu-dulu itu kan ada RIPPLE yang dari kota ke kota itu terkenal gitu kan, setelah lama nggak ada terus akhirnya ada WARN!NG. Kasih bonus dong, bonus notebook kek, totebag kek, t-shirt juga boleh. Kuis-kuis tiket konser gitu kek. Pokoknya yang bisa diinget dan bisa dibawa kemana-mana. [Dewi Ratna – Kapanlagi.com ]

Cermat dan akurat, dipadu dengan visual yang menarik, pas! Sukses terus WARN!NG [Sepsis Records]

Saya berterimakasih sekali karena udah dua edisi masuk di WARN!NG. Yang jelas saya merasa sangat bangga. Tetap bersemangat, tetap menulis review-review yang semakin kritis, apapun dari band ataupun gigs, event. Yang jelas semangat terus… teruss.. [Chipeng – Begundal Lowokwaru ]

Media TV dan radio zaman sekarang kurang bisa diharapkan. Bukannya bisa keluar dari ketidakseimbangan justru terperosok makin dalam. WARN!NG adalah sedikit dari media yang saat ini bisa menjadi juru selamat. Ada excitement yang keluar setiap menunggu edisi baru terbit. Tantangan besar selanjutnya adalah mempertahankan majalah ini untuk orang-orang setelah kita. [Asad Gibran – Tripping Junkie]

Saya suka WARN!NG Magazine karena WARN!NG nggak sekedar menyajikan musik-musik trendi beserta pernak-perniknya, tapi menempatkan musik dalam hiruk-pikuk dunia pada latar sosial-politik tempat musik itu sendiri bersuara, tempat bagi pembaca untuk bisa melihat bahwa musik selalu punya pesan tentang dunia dimana musik itu berada. Panjang umur WARN!NG Magz, selamat ulang tahun, semoga semangatnya tetap terjaga dan bisa terus tumbuh [Fuad – Elemental Gaze]

Kemunculan WARN!NG hadir sebagai peringatan untuk kita semua, bahwa media musik belum mati. [Sobat Indi3]

Selamat panjang umur, WARN!NG! semoga terus menjadi media informatif dan tidak biasa [Pena Hitam]

WARN!NG Magz konsisten dalam posisinya sebagai media. Tidak hanya ‘mencatat’ peristiwa semacam konser/gigs, dan album para musisi, WARN!NG memberikan perbincangan yang selalu menarik tentang skena ini dan mengupasnya lebih dalam. Seperti edisi september kemarin, dengan tema “Sound of The Field” yang membahas kultur musik dalam dunia sepakbola. Dalam 3 kata, bisa diterjemahkan sebagai kesan: asik, seru, inspiratif. Dan 5 kata berikutnya: selamat ulang tahun WARN!NG Magz. teruslah menjadi asik dan seru untuk skena musik Indonesia [Gardika Gigih]

Pemberitaan adil dan merata sampai ke pelosok [Kanaltigapuluh]

COOOOLLLLL!!! [The Frankenstone]

Happy birthday! Long live happiness and have a blast, surely better than before. Selamat ulang tahun yang pertama buat WARN!NG Magazine. Panjang umur dan maju terus! [The Spikeweed]

Menurut saya WARN!NG Magz adalah salah satu majalah musik yang sangat recommended untuk dibaca, karena WARN!NG Magz selalu memberikan informasi yang up-to-date dan berkualitas tentunya. Selamat ulangtahun untuk WARN!NG Magz. Semoga ke depannya semakin sering terbit dan makin luas jangkauan distribusinya [Dita – Koala / Tik Tok ]

I think it’s a good publication, I like its variative article, about politic, music, art, and film. It’s quite brave and rare to see someone make high quality publication like this. When media are going online. it’s quite rare to see such a print magazine. Yeah that quite brave! [Zach Smmrth – Tikus Atap ]

WARN!NG adalah majalah yang membahas musik dan sekitarnya dengan baik, selamat ulang tahun WARN!NG. Semoga semakin bermutu di setiap edisinya [Karina Andjani – Penulis buku “Apa itu Musik?”]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response