close

[Movie Review] The Battleship Potemkin

bp-poster

The cinema is the greatest medium of mass agitation. The task is to make it into our hands”.  -Stalin-

Pernyataan Stalin diatas kiranya cukup untuk menjelaskan salah satu fungsi esensial film sebagai media propaganda yang efektif pada saat itu. Karena secara logika, untuk memahami sebuah film tidak diperlukan keterampilan khusus seperti baca tulis yang merupakan salah satu problem Rusia pasca revolusi Oktober 1917. Selain itu, film juga dapat menjangkau seluruh rakyat Rusia yang tersebar di wilayah yang sangat luas. Atas dasar itulah pada masa pemerintahannya, film The Battleship Potemkin (1925) dipro
duksi. Film yang disutradarai oleh Sergei Eisenstein ini merekonstruksi ulang pemberontakan awak kapal perang Potemkin terhadap pemerintah Tsar pada tahun 1905.

Sejalan dengan misi awalnya, film yang juga dipersembahkan untuk memperingati 20 tahun revolusi ini, sarat dengan unsur propaganda. Film ini dibuka dengan kutipan pernyataan Lenin yang provokatif, “Revolution is war. Of all the wars known in history. It is the only lawful, rightful, just, and truly great war. In Russia, this war has been declared and begun”. Pada bagian awal scene, Eisenstein dengan cerdik memperlihatkan deburan ombak yang saling memecah karang lalu secara bertahap, dengan tekhnik montase-nya, scene berganti  pada kondisi diatas kapal yang diasumsikan sebagai keadaan saat itu yang penuh dengan kekalutan. Cerita lalu bergulir dalam tempo yang sedang dan terbagi dalam lima bagian yang terpisah namun saling terikat.

Bagian pertama, The Men and The Maggots, memberikan gambaran tentang bagaimana perlakuan para petinggi kapal terhadap para awak yang kurang pantas. Bagian ini mencapai puncaknya ketika dengan sewenang-wenang para petinggi kapal memberikan para awak daging yang telah ditumbuhi belatung sebagai bahan makanan. Di bagian inilah inti permasalahan dimulai, Grigory Vakulinchuk, sang tokoh utama sekaligus simbol perlawanan dalam film ini mulai menyuarakan perlawanan dengan menolak bahan makanan yang diberikan serta membakar semangat para awak untuk melawan kesewenang-wenangan petinggi kapal. Perlawanan berlanjut di bagian kedua, Drama in the Harbour, yang menggambarkan perlawanan awak kepada para petinggi dimana di bagian inilah sang tokoh utama, Vakulinchuk, terbunuh dalam upayanya melakukan perlawanan. Bagian ketiga, A Dead Man Calls for Justice, menggambarkan tentang bagaimana sang tokoh utama menjadi simbol perlawanan dan solidaritas yang ditunjukkan para warga dan awak kapal di sebuah tempat dimana Vakulinchuk  dimakamkan, Odessa. Perjuangan para warga Odessa yang bersimpati atas kejadian yang menimpa Vakulinchuk menjadi inti cerita bagian keempat, The Odessa Staircase, yang menitikberatkan pada rasa solidaritas kaum bawah dan penentangan terhadap ketidakadilan yang diilustrasikan dengan aksi demonstrasi yang berlanjut pada pertumpahan darah karena serangan dari tentara bersenjata di bawah komando Tsar, pemimpin saat itu. Film ditutup pada bagian kelima, The Meeting with The Squadron, yang menggambarkan kondisi di ambang peperangan antara kedua belah pihak dimana akhirnya peperangan urung dilaksanakan karena mereka tersadar masih dalam satu saudara, bangsa Rusia. Bendera putih dikibarkan, perangpun berakhir untuk kedua belah pihak.

Salah satu kekuatan dari film ini, tidak diragukan lagi, adalah teknik editing yang revolusioner di tahun 1925 dan masih sangat mengesankan untuk saat ini, Montase. Eisenstein memaknai editing film sebagai perbenturan antara imaji-imaji dan ide-ide yang terinspirasi dari Karl Marx dan Hegel (Proses Dialektika), Tesis-antitesis-sintesis. Ia membenturkan elemen shot dalam dialektika untuk menghasilkan  sintesis makna baru, seperti yang ditunjukkan diawal film, dimana gambar berganti cepat antar latar belakang alam dan ombak yang bergejolak dengan kondisi di atas kapal untuk menunjukkan kondisi yang terjadi pada saat itu. Eisenstein juga cukup berhasil menyalurkan emosi yang ada di dalam film kedalam benak penonton melalui perpindahan kamera yang cepat dan dramatisasi kamera yang bergerak bergantian secara berurutan antara obyek kejadian dan emosi para pemain yang ditampilkan.

Diluar proses editing dan pengambilan gambar yang bagus, tidak dapat dipungkiri film ini merupakan film propaganda yang sarat dengan provokasi. Alur cerita yang menyerukan revolusi serta tokoh di dalam cerita yang dengan jelas ingin menarik simpati untuk para awak kapal pemberontak serta kebencian untuk para petinggi yang kejam dan berlaku sewenang-wenang. Karakterisasi ini dibuat sederhana, sehingga penonton bisa memilih untuk mengarahkan simpati mereka dengan tepat. Kapten bertindak sepenuhnya jahat, lebih dari sekedar simbol otoritas dia adalah simbol kejahatan. Ia memerintahkan anak buahnya untuk makan daging penuh belatung dan memerintahkan eksekusi ketika mereka menolak, disisi lain Grigory Vakulinchuk adalah pahlawan kelas pekerja yang berani berdiri menentang otoritas yang lebih tinggi meskipun akhirnya harus dibayar dengan nyawanya. Tidak ada drama pribadi yang terlibat, semua masuk kedalam ranah drama yang lebih besar, politik. Meskipun film ini bersifat propaganda dan sarat dengan pesan provokatif, namun secara keseluruhan Eisenstein berhasil menampilkannya dalam sebuah montase citra yang indah dan melodis.[Warning/Dimas Yulian]

Tags : movie
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response