close

[Movie Review] The Butler

butler

What : The Butler

Director : Lee Daniel

Genre : historical fiction drama

Year : 2013

butler 

La Petit Histoire Amerika

Cerita bermula saat Cecil Gaines berbincang dengan ayahnya di perkebunan kapas. Earl Gaines menjelaskan pada Cecil waktu yang pas untuk memetik dan memanen kapas. Gaines kecil menanggapi sembari bergurau. Mereka dengan Hattie Pearl, ibu Cecil, bahkan sempat berfoto sekeluarga sebelum pemuda kulit putih itu datang. Pemuda tersebut mengajak Hattie ke sebuah gudang. Cecil ingat ia menegur Earl yang hanya diam dan hendak menyusul ke gudang. Namun Earl melarang.

Kejadian selanjutnya mengubah hidup Cecil. Ia tidak lagi bekerja membantu ayahnya di kebun kapas. Cecil bekerja sebagai pelayan. Semua itu karena Earl meninggal tertembak sehingga membuat Hattie tidak pernah bicara.

Cecil memperoleh pengetahuan cara serta sikap ketika melayani dan menyajikan makanan saat bekerja pada Annabeth Westfall. Lama bekerja di sana, Cecil memutuskan pergi ke daerah lain. Ia lalu kehabisan uang di perjalanan. Cecil pun akhirnya mencuri karena tidak kuat menahan lapar. Kenekatan itu justru mempertemukannya dengan seorang kepala pelayan. Cecil kemudian bekerja sebagai pelayan di bawah pengawasannya.

Suatu saat, kepala pelayan itu mendapatkan tawaran bekerja di hotel. Alih-alih menerima ia malah memberikan kesempatan itu pada Cecil. Peluang tersebut membuatnya dapat bekerja di hotel termewah yang pernah ia lihat. Di tempat itu pula, R. D. Warner menemukan Cecil. Warner adalah seorang pengatur urusan rumah tangga Gedung Putih. Ia terpukau dengan kemampuan Cecil sehingga merekomendasikannya untuk bekerja sebagai kepala pelayan di Gedung Putih.

Gejolak drama alur kisah Cecil dalam film The Butler garapan Lee Daniel pun mulai terasa. Adegan saat Louis Gaines mulai mendukung gerakan menentang perlakuan rasis membuat Cecil mendidih. Louis bahkan sempat ditahan beberapa kali karena terlibat demonstrasi. Perubahan sikap ini mendorong Cecil memilih menjauhi Louis.

Di samping itu, pekerjaannya sebagai kepala pelayan di Gedung Putih membuat Cecil bersinggungan langsung dengan orang penting tidak terkecuali sang presiden. Pergantian presiden berikut perubahan kebijakan terutama soal diskriminasi terhadap orang kulit hitam kerap mengganggu dirinya. Hal ini disebabkan karena putranya telah dan mungkin menjadi korban dari konflik tersebut.

Penonton menyaksikan berbagai peristiwa beberapa presiden dan kebijakannya serta efek bagi Cecil Gaines sekeluarga juga masyarakat. Sayangnya, kejadian-kejadian tersebut membuat alur cerita berloncatan. Peristiwa yang awalnya hendak dirangkai menjadi terkesan berdiri sendiri pada akhirnya. Selain itu, cerita yang ditampilkan terkadang tidak memiliki ending yang jelas. Adegan Cecil menerima pin dari Presiden Richard Nixon saat ia mencalonkan diri menjadi presiden termasuk dalam cerita yang tak memiliki akhir. Setelah adegan itu selesai, cerita beralih ke hal lain sehingga menyisakan pertanyaan.

Akan tetapi, film ini dapat menampilkan sejarah kecil dari negara adikuasa, Amerika. Sejarah tentang gerakan sipil dan konflik rasisme berikut kebijakan yang tumbuh sering kali ditampakkan dari kacamata orang besar atau pengamat. Lewat film The Butler, sejarah tersebut dikisahkan melalui pengalaman kepala pelayan yang memiliki dua posisi. Karena, Cecil harus bersikap netral di hadapan presiden yang ironisnya memiliki wewenang menghentikan kekerasan pada orang hitam. Di sisi lain, Cecil merasakan secara tidak langsung konflik itu. Ujungnya, sejarah kecil tersebut mampu memberikan perspektif yang berbeda soal jalan panjang manusia dalam memperoleh keadilan. Dan perjuangan itu masih dilakukan hingga sekarang. [Warn!ng/Aditya Mahapradnya]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response