close

[Movie Review] The Great Dictator

The_Great_Dictator
great-dictator

“Comedy is tragedy plus time, it all depends how you construct the joke”

-George Carlin-

 

Pernyataan komedian kenamaan George Carlin diatas bukannya bermaksud untuk tidak menganggap serius akan sebuah tragedi. Sebaliknya, apa yang ingin ia sampaikan adalah bagaimana humor dapat ditemukan dalam situasi yang paling mengerikan sekalipun, seperti tragedi. Karena pada kenyataannya keceriaan dan tawa kadang dapat lebih efektif membantu menghilangkan dampak paling fatal dari sebuah tragedi, serta membantu proses penyembuhan akan trauma yang ditimbulkan. Mungkin ide ini juga yang ada dibenak Charlie Chaplin kala itu. Sebagai salah satu komedian dan filmmaker terbesar pada masa itu, ia tentu sadar memiliki pengaruh yang kuat terhadap para penonton filmnya. Kelebihan inilah yang berhasil dimanfaatkan oleh Charlie Chaplin dalam proses kreatif pembuatan film terbarunya. Karena di tangan yang tepat, sindiran tajam terhadap politik dapat menjadi salah satu senjata propaganda yang sangat efektif. Maka dari itu lahirlah film The Great Dictator yang rilis pada tahun 1940. Film komedi satir yang kental akan nuansa politik saat itu, sekaligus film dengan suara pertama yang dibuat oleh Charlie Chaplin.

Jika ada satu persamaan antara Adolf Hitler dan Charlie Chaplin, (selain kedua kumis konyolnya) adalah ego besar yang dimiliki keduanya. Hitler dengan Nazi-nya dan Charlie Chaplin dengan film-filmnya. Hampir di semua filmnya, Charlie Chaplin tak ubahnya ‘diktator’ yang berkuasa penuh atas semua yang ada di dalamnya. Ini ditunjukkan dengan banyaknya peran yang ia ambil dalam film-filmnya mulai dari pemain, sutradara, produser, pengisi score musik, hingga penulis skenario.

Begitu juga di film ini, selain menjadi penulis, sutradara, dan produser ia juga memainkan dua karakter utama yang ada di dalamnya, yaitu sebagai Adenoid Hynkel, seorang diktator sebuah negara fiktif bernama Tomania yang kikuk dan cenderung konyol serta digambarkan memiliki masalah dengan kepercayaan diri, dan seorang tukang cukur Yahudi yang mengalami hilang ingatan setelah ikut berperang. Kedua karakter utama yang berhasil dimainkan oleh Chaplin dengan sama baiknya. Dengan cara ini, penonton seperti diajak untuk turut merasakan kontrasnya kehidupan dua karakter yang ia mainkan. Bagaimana kehidupan sehari-hari seorang diktator kejam dengan segala kelemahannya serta karakter seorang tukang cukur Yahudi yang sering diperlakukan secara kurang manusiawi.

Kekuatan film ini, tidak salah lagi, berada pada sosok seorang Charlie Chaplin yang berhasil memainkan emosi penonton dengan aktingnya yang sangat ekspresif. Suatu waktu ia dapat memainkan karakter tukang cukur yang terlihat menyedihkan, lalu secara bersamaan ia dapat mencairkan suasana dengan gaya yang sangat jenaka. Ia lebih dari berhasil ‘menghidupkan’ film ini dengan serangkaian joke-joke yang ia mainkan. Adegan-adegan joke klasik yang ditampilkan, saat ini telah banyak dianggap sebagai adegan cult dan masih sering dipertahankan dalam pembuatan film-film komedi hingga saat ini. Rasanya kini saya tahu darimana Jerry ‘belajar’ semua trik yang ia gunakan untuk lolos dari kejaran Tom, atau bagaimana Srimulat dapat menampilkan humor yang membuat mereka memiliki fanbase kuat selama bertahun-tahun.

Dengan The Great Dictator, lewat komedi satirnya Charlie Chaplin berusaha untuk mengubah imej seorang diktator yang kejam menjadi seorang yang juga memiliki banyak kekurangan serta kelemahan layaknya rakyat biasa. Ia seperti ingin penonton tahu bahwa tidak apa untuk menertawakan para ‘monster’ ini. Karena ketika para ‘monster’ sudah tidak terlihat menyeramkan, artinya tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan penonton harapan baru bahwa para diktator ini bukan tidak mungkin untuk dihentikan.

Seperti yang ia tampilkan dalam salah satu metafora adegan yang memperlihatkan Chaplin sedang menari dengan replika balon dunia digenggaman yang akhirnya meletus di tangannya sendiri. Ini seperti ingin menunjukkan bahwa para diktator mungkin akan menggenggam dunia di tangan mereka untuk waktu yang singkat, tetapi pada akhirnya cengkeraman mereka akan kekuasaan akan meledak seperti halnya balon yang dipegang terlalu erat. Metafora ini tidak hanya berlaku untuk Hitler namun juga para diktator lainnya, dan Chaplin berhasil menampilkannya dalam satu rangkaian adegan yang sederhana, elegan, dan tentu saja jenaka.

Lewat film ini Chaplin seperti ingin penonton melihat sisi lain dari para diktator yang tidak terlihat sebelumnya. Sisi yang tidak melihat Hitler sebagai sebuah mesin yang tidak dapat dihentikan, melainkan sebagai seorang pria kecil dengan delusi keagungan yang besar. Sebuah propaganda yang sepertinya sukses mengingat era kejatuhan Hitler yang terjadi hanya beberapa tahun setelahnya. Well, Arbeit macht frei Charlie! [Warning/Dimas Yulian]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response