close

The I Way Festival: Perjalanan Epik yang Celaka

White Shoes & The Couples Company (8)
Crowd
Crowd

Di lapangan aspal yang luas itu, sejumlah pesawat terparkir dengan gagah. Deretan hanggar berjajar di samping. Binar kuning matahari hadir memberi efek dramatis. Angin yang lewat lumayan kencang, cukup untuk memporakporandakan tatanan setiap rambut yang ada di sana. Saat itu tak hanya burung-burung besi yang bersarang di kawasan apron Bandara Hussein Sastranegara. Belasan tenda sarnafil pun turut mengisi tanah lapang itu. Puluhan orang berkaus hijau hilir mudik menjalankan aktivitas yang tak setiap hari di sana.Segala hal tak biasa di hari Minggu (24/4) itu berpusat pada sebuah panggung yang sudah terpasang gagah, siap dinaiki secara bergantian oleh beberapa musisi.  Akhir pekan itu, acara bertajuk The I Way Festival berlangsung di sana, anak-anak Komunitas Musik Fikom (KMF) UNPAD menjadi pemilik hajatnya.

Beberapa nama musisi dan konsep acara yang mumpuni membuat acara ini terlihat menjanjikan, ditambah pemilihan venue yang menyuguhkan pemandangan apik, walau sulit dijangkau. Menyaksikan pesawat lepas landas sembari menikmati sajian musik dari The S.I.G.I.T, White Shoes & The Couples Company, atau Kelompok Penerbang Roket membuat akhir pekan nampak akan berlalu dengan sempurna. Belum lagi kehadiran Danilla, Mondo Gascaro, Heals, Bedchamber, ataupun Kaveh Kanes yang menjadikan segalanya semakin bernas. Turut disertai band kurasi seperti Peonies, Lightcraft, Alzheimergrind, atau The Schuberts, segalanya nampak menjanjikan saat itu.

Tak hanya itu, kehadiran berbagai booth menarik dari Kuassa, Doomwood, ditambah booth khusus records label yang diisi FFWD Records, Monsterstress Records, Kolibri Rekords, Nanaba Records, dan Sorge Records membuat segalanya semakin menarik. Ada juga beberapa records store sehingga ritual ‘jajan rock’ bisa dilakukan saat itu juga. Penjadwalan pengisi panggung pun cukup unik karena tak melulu nama besar yang disimpan di akhir acara. Rundown yang terbagi dua segmen menjadi afternoon show dan evening show membuat beberapa band kurasi tetap bisa memamerkan kemampuan mereka saat crowd sudah tak sepi-sepi amat.

Gelaran dimulai sejak pukul satu siang, Parahyena menjadi grup yang membuka The I Way Festival. Kelompok pembawa bebunyian akustik ini membawakan beberapa single mereka yang salah satunya adalah “Penari”. Selanjutnya, giliran entitas asal bekasi bernama The Godmother yang memperdengarkan beberapa nomor dari album mereka yang dirilis akhir tahun lalu, Grown.  Keduanya tampil apik, walau tak ada kejutan yang berarti. Baru di penampil setelahnya, aksi luar biasa terjadi.

Di penampil ketiga, duo yang menjajakan musik paling kencang di festival ini tampil luar biasa blak-blakan.  Grup bernama Alzheimergrind yang membawakan music noise grind tampil dengan kejutan yang menjadi bahan perbincangan seantero The I Way Fest. Di jeda set, bassist sekaligus vokalis tiba-tiba berteriak “F**k korporasi! F**k S*******! (menyebut nama sponsor utama)”. Aksi tersebut menimbulkan reaksi. Sistem tata suara mendadak mati (lebih tepatnya dimatikan). Set merekapun tamat kala itu.

Setelahnya, dua band yang di Records Store Day lalu merilis split berjudul A Bouquet tampil bergantian. Diawali oleh Peonies, diakhiri dengan Kaveh Kanes. Peonies membawakan materi seperti “Truth” dan “Falling” Setelahnya giliran Kaveh Kanes yang membawakan berbagai nomor dari album Capital.

White Shoes & The Couples Company
White Shoes & The Couples Company
White Shoes & The Couples Company
White Shoes & The Couples Company

Pasca Kaveh Kanes tampil, waktu menunjukan sekitar pukul empat sore. Langit di apron sedang menunjukan wajah tercantiknya. Tanah lapang yang dilalui hilir mudik pesawat dipermanis dengan pendar cahaya kuning keemasan. Apalagi, saat itu giliran salah satu musisi Indonesia yang sering berkelana ke benua lain, White Shoes & The Couples Company akan menguasai panggung. Membawakan “Super Reuni”, “Selangkah Keseberang”, “Aksi Kucing”, dan lain-lain, tak ada masalah berarti di tengah pertunjukan mereka. Baru di akhir set, langit mendadak berwarna abu dan menurunkan tetesan air. Di ritual foto bersama penonton selepas panggung pun, Sari mengajak penonton untuk menggunakan payungnya. Sejak saat itu plot twist dimulai.

“Muka bumi basah kuyup, ditimpa air hujan, hujan badai sangat mengerikan, hujan badai menakutkan hati,” potongan lirik “Hujan Badai” milik Panbers, yang kembali populer pasca di-cover oleh Kelompok Penerbang Roket, menjadi soundtrack tepat saat band yang disebut kedua seharusnya tampil. Takdir belum merestui karena tetesan air yang mulanya turun sepercik-dua percik, mendadak berlipat ganda. Pelandasan Kelompok Penerbang Roket terpaksa ditunda.

Baru sekitar satu jam setelahnya, hujan deras yang disertai angin kencang itu berhenti. Acara tak lantas berlanjut. Anehnya beberapa clothing dan records label pengisi tenda mulai meninggalkan tempat eksibisi mereka hari itu, padahal seharusnya acara belum selesai. “Acaranya di-cut, Kang. Mixer-nya basah kena hujan, makanya ini beres-beres juga,” ucap salah satu penjaga stand clothing yang saat itusudah mengemas bermacam item di tenda mereka.

Beberapa informasi spekulatif memang banyak berseliweran saat acara berhenti. Ketika menilik ke area panggung, berbagai peralatan seperti speaker monitor, amplifier, set drum dan lainnya sedang dibereskan. Sebagian dikeringkan menggunakan benda mirip hair dryer, sedang yang lainnya dimasukan ke dalam flightcase. Pertanda informasi tentang pemberhentian acara bisa jadi benar. Seorang panitia naik ke atas panggung, kejelasan tentang keberlangsungan acara akhirnya dibeberkan.

“Saya mewakili panitia ingin meminta maaf sekaligus mengumumkan suatu hal, hak penonton juga untuk tahu situasi yang terjadi saat ini. Karena hujan yang melanda bandara ini, sistem tata suara jadi rusak. Sehingga acara mungkin akan dilanjutkan dalam format akustik, itu pun mungkin tidak semua bintang tamu yang bisa tampil,” ucap salah satu perwakilan panitia dari atas panggung.

Reaksi berbeda bermunculan dari mereka yang sudah menunggu lama. Sebagian menggumamkan rasa kekecewaan, tak rela melihat aksi yang mereka tunggu kemungkinan batal tampil. Sedang yang lainnya bertepuk pangan, seolah member pemakluman sekaligus apresiasi karena setelah hujan yang sangat deras, panitia tetap berusaha melanjutkan jalannya festival. Di tengah situasi panik itu, entrance gate nampak ramai oleh penonton yang baru hadir. Kemungkinan besar mereka tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.

bedchamber
bedchamber
Heals
Heals

Setelah nyaris tiga jam mengalami kekosongan, panggung akhirnya kembali diisi. Bedchamber mendapat jatah tampilnya. Pernyataan panitia tidak terjadi karena mereka tak tampil dalam format akustik. Kelanjutan acara ini tidak menandakan kabar yang beredar sebelumnya sebatas ‘asbun’, kerusakan mixer di F.O.H benar adanya. Sebagai konsekuensi, Bedchamber manggung dengan tata suara darurat. Wajar jika output tidak maksimal dan terdengar berbagai masalah saat materi dari Perrenials dibawakan. Berbagai masalah di sistem suara tak membuat Bedchamber mengeluh, mereka malah memberikan aplaus atas acara yang tetap diusahakan untuk tetap berlanjut. “Salut untuk panitia, walau tadi hujan acara tetap dilanjut,” ucap Rattabil sebagai vokalis dari atas panggung.

Selanjutnya giliran Heals, kuintet nu-gazeyang di awal April ini baru merilis single naik ke atas panggung. Penggunaan tata suara darurat membuat durasi check sound menjadi lebih lama. Tak jarang mereka meminta penonton menunggu saat alat sedang diset.  Tak jarang mereka berkelakar di tengah situasi tersebut, sesekali lucu, beberapa kali tak disambut tawa. Salah satu yang mengkibatkan tawa terdengar keras adalah saat Eja (gitaris), memplesetkan nama The I Way Fest menjadi By The Way Fest. Mereka memang dikenal menunjukan aksi lawak, entah itu di panggung atau pun media sosial.  Sama seperti sebelumnya, kerusakan sistem tata suara tetap terjadi. Namun pertunjukan harus tetap berlangsung. Heals tetap melanjutkan acara dan membawakan berbagai nomor seperti “Void” atau pun “Wave”.

Di rundown yang disebarkan, saat itu harusnya giliran kolaborasi Danilla dan Mondo Gascaro yang tampil. Alih-alih dua orang itu yang naik pentas. Malahan, empat pria yang diketahui sebagai The Schuberts melakukan pengesetan alat. Kelompok ini belum lama merilis EP yang terdengar seperti kolaborasi antara Arctic Monkeys era awal dengan The Kooks. Materi dari rilisan bertajuk Kircland itu dibawakan bergantian “Libera Et Idea”, “Remains Untitled” dan yang lainnya. Menjelang lagu terakhir, terdengar jelas teriakan kecewa dari penonton. Sebagian besar hadirin meninggalkan venue. Ucapan yang disebarkan sebelum The Schuberts membawakan lagu terkahir menjadi penyebabnya. Bukan karena The Schuberts tampil buruk.

Sebelum The Schuberts membawakan lagu terakhir. Perwakilan panitia naik ke atas panggung. Kabar baik atau buruk bisa saja diucapkan kala itu. Segalanya tergantung dari apa yang ia katakan. Setelah kalimat pertama dibuka dengan permintaan maaf, kemungkinan besar isi pesan ini bukan hal yang bagus. Memang benar, tiga penampil yaitu Kelompok Penerbang Roket, The S.I.G.I.T, dan Danilla x Mondo Gascaro batal tampil. Lightcraft juga tak hadir di atas panggung. Sontak penonton meneriakan kekecawaan sambil meninggalkan venue.

Ekspektasi luar biasa seluruh panitia, penonton, dan penampil akan acara yang menarik secara konsep, bintang tamu, dan venue itu bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi yang ada di tempat.  Upaya acara ini untuk mengatasi kejenuhan di skena musik Indonesia, seperti yang tertulis di bio media sosial mereka, mungkin masih perlu ditunda. Patut disayangkan kerja keras dalam mengumpulkan bintang tamu dan membuat acara dengan konsep menarik harus runtuh karena hujan selama satu jam. Seperti menaiki pesawat, perjalanan bisa jadi celaka kala cuaca buruk melanda. Bagi The I Way Festival, pepatah  ‘hujan membawa rejeki’ tak berlaku hari itu. [contributor/Indra M. Suhyar]

Event by: KMF Unpad

Venue: Bandara Hussein Sastranegara, Bandung

Date: 24 April 2016

Man of the Match: Kolaborasi syahdu antara White Shoes& The Couples Company, pesawat yang lepas landas, serta langit sore Bandung yang sedang tampil cantik-cantiknya.

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery –> The I Way Festival

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.